Menulis yuuk say, yuuks
Menulis yuuk say, yuuks

Menulis sudah biasa, merangkai kata kapan saja. Namun ingatkah kita tentang makna yang kita rangkai? Apakah ada yang mengandung hikmah, atau hanya seperti bebatuan yang kita tebar di sepanjang perjalanan? Bahkan rerumputan yang kita temukan saat meneruskan langkah? Ah, akankah ia menjadi bebungaan yang menarik pandangan mata sesiapa yang melangkah setelah kita di jalan yang sama?

Menulis sudah biasa, namun yakinkah kita bahwa semua ada manfaatnya? Kalau saja saat merangkai kata, kita tidak ingat kepada-Nya.

“Irhamna ya Allah, jadikan langkah-langkah kami untuk meninggalkan jejak yang bermanfaat, saja. Sedangkan apabila gerakan jemari kami belum berarti, ingatkan kami lagi untuk segera henti. Supaya tidak semakin banyak keKELIRUAN yang terjadi. Aamiin.”

***

Mampir-mampir lagi di sini, dalam rangka meninggalkan jejak jemari. Supaya ada yang tersisa dari setiap langkah yang tercipta hari ini. Agar menjadi bekas dalam perjalanan yang sementara di dunia ini. Dunia maya kasat mata, tempat segala pun tercipta. Ah, dunia yang berbeda dengan sesungguhnya. Dunia nyata dan dunia maya, ia tak sama, teman. Akan tetapi alangkah baik kiranya, kita belajar dari perbedaan yang ada diantara keduanya. Agar kita belajar lagi dan lagi, untuk mengerti arti hidup ini. Supaya saat lelah di dunia nyata, kita mencari inspirasi di dunia maya, untuk kita bawa berlari lagi di dunia nyata nanti. Hi, tentu lebih asyik, bukan?

***

Menulis, apa makna menulis bagimu, teman?  Hingga saat ini engkau masih melakukannya, asyik menekuninya?

Kalau bagiku, menulis itu adalah merangkai senyuman.🙂 Karena dengan menulis, aku dapat mengetahui apa yang aku rasakan walau tak mungkin dapat ku ungkapkan dalam suara. Dengan begitu, saat ku terluka akhirnya ku tahu bahwa hatiku terluka. Saat ku menulis tentang tangis-dan airmata, aku pun memahami, ternyata semua pun aku pernah alami. Begitu pula dengan bahagia yang menebar melalui kekata yang tersusun. Semua menjadi perwakilan atas apapun yang aku alami dan aku jalani. Hi, sungguh, ia dapat mensenyumkan ku lagi, saat membacanya kedua kali, di kemudian hari setelah ia berlalu.

Ya, menulis bagiku adalah merangkai senyuman. Dengan menulis aku berlatih tersenyum, latihan lagi dan lagi. Karena aku ingin menjalani hari-hari yang penuh dengan senyuman, maka aku menulis.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s