This slideshow requires JavaScript.

“I wish travel everywhere with you, my soulmate.”

***

Berangkat dari stasiun kereta api Bandung dengan tiket nol rupiah, karena tanggal 17 Agustus, jadi gratisss.😀 Alhamdulillah, thank you very much PT. Kereta Api Indonesia, untuk surprise nya. Kabar baik di pagi hari yang cerah. Sebelum meneruskan perjalananan dengan hati bahagia dan merdeka, ditambah lagi dengan senyuman cerah nan terus memekar. Yes! Saatnya menuju “Guwa Pawon dan Stone Garden”, yang lokasinya berdekatan ternyata. How can?

 “Let’s go forward, there are more beautiful view in front of us.”

Baik teman, hingga ujung catatan kali ini, akan ku ceritakan padamu kisah perjalanan kami nan menyenangkan ini. Selamat mengikuti yaa, bagi yang mau ikut aja. Kalau yang engga, silakan menuju rute lain di sini dan di sana. Di mana aja, boleh. Ke mana aja, silakan. Mumpung lagi memperingati hari kemerdekaan, maka engkau pun bebas memilih rute perjalanan yang akan engkau tempuh. Upz! Semestinya catatan ini diposting sudah tanggal 17 Agustus lalu sore harinya sekembali dari perjalanan nan sungguh menantang tersebut. Akan tetapi, dengan alasan le-lah setelah perjalanan, makanya diposting sekarang aja. Hehehe. Gapapa lah yaa, mudah-mudahan dapat mewakili apa yang kami alami di perjalanan nan melelahkan namun mengesankan ini.

 From girls in blue, “Dirgahayu HUT RI ke 70.” Mereka bersama Menuju Puncak. Akhirnya sampai jugaaaa. Enjoy place, go anywhere they wish.”

Jadual keberangkatan kereta yang akan kami tumpangi adalah pagi hari pukul 8.27 WIB. Alhamdulillah tepat waktu dan kereta pun melaju dengan cantik menuju Padalarang dari arah stasiun Bandung. Setelah sampai di stasiun Padalarang, kami pun turun. Dengan bekal bertanya saat masih di kereta dengan seorang Ibu separuh baya, kami pun dipandu menuju transportasi berikutnya yang akan mengantarkan kami ke tujuan. Hingga sampailah kami di sebuah terminal mini dengan angkot berjudul Rajamandala. Lalu, naiklah kami dengan semangat. Semangat ’45 wahai para pemuda.

 “Abaikan kelakuan Yani, tiba-tiba udah nempel di dinding guwa. Huwahahahwahahahaa”

Oiya, keberangkatan berpetualang kali ini adalah bersama seorang teman jelita bernama Laili. Hi, sister, thank you very much untuk kebersamaan hari iniyang indah. Nice moment.😀 Saat kami berada di angkot, ternyata masih kosong. Dan kami pun menjadi penumpang pertama. Namun beberapa saat kemudian, beberapa orang ibu naik berombongan. Jumlah beliau sekitar sepuluh orang. Berikutnya disusul oleh tiga orang pemuda yang terdiri dari seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Dan di akhir perjalanan dengan angkot Raja-ini, kami pun tahu bahwa mereka pun menuju arah yang sama dengan kami, yaitu Guwa Pawon dan Stone Garden. Yes! Ada teman di perjalanan.😀 Menemukan teman yang setujuan dengan kita di daerah yang baru kita kunjungi seperti ini, rasanya seperti mendapatkan sebotol air nan segar di tengah terik mentari nan menyengat, lho teman. Lalu kesegaran segera mendekati nadi, menyegarkan pikir dan senyum pun tak henti menebar. Namun sayangnya, kami tak sempat berkenalan, hanya berpandangan saja. Perjalanan sepanjang stasiun Padalarang dengan angkot Raja hingga sampai di pertigaan menuju Stone Garden, kami tidak berfoto karena fokus pada menikmati perjalanan nan ‘horor‘, karena banyak tikungan nan meliuk indah di depan sana. Maka posisi tangan berpegangan pada kursi adalah pilihan. Wooow, it’s amazing men.😀

 “We are both, enjoy this moment.”

Sekitar lima belas menit kemudian, kami pun turun dari angkot Raja dengan merogoh kocek sebesar dua belas ribu rupiah saja, berdua. Lalu, menyeberang jalan dengan hati-hati karena dari atas sana dan dari arah bawah ada tikungan. Sedangkan kendaraan terus melaju bersusulan. Hingga akhirnya jalan agak lowong, kami pun segera mempercepat langkah menuju seberang jalan. Penyeberangan sukses nan gemilang. Kami sampai di seberang dengan selamat. Lalu ucapkan, “Alhamdulillah, karena Allah semua berjalan lancar, dengan Allah perjalanan akan terus kita lanjutkan dan bersama Allah, Allah, lagi dan lagi di dalam hati, trek berikutnya pun kami lalui dengan sukses ‘lagi’.

 “Mencipta jejak-jejak dan meneruskan langkah penuh makna.”

Perjalanan menuju Guwa Pawon dengan rute jalan nan mendaki dan menurun beberapa kali ada dataran, sich. Kami berjalan kaki saja, melangkah seraya menikmati pemandangan di sekitar. Ada sawah nan menghijau, hiasan-hiasan di pinggir jalan karena sedang memperingati hari kemerdekaan. Jadi, pernak-pernik tujuh belasan pun bertaburan unik di sepanjang perjalanan yang kami lalui. Tampaknya, warga di sini kreatif juga. Lihatlah, beberapa foto sempat kami abadikan, diantaranya adalah bling-bling nan menjuntai melalui tali yang membentang di pinggir jalan. Aku suka semua keunikan dunia ini. Aku senang menemukan pemandangan baru nan menyegarkan pandangan. Semua indah dan terlihat menarik, bagiku. Aku bahagia. Aku sukasukasuka.

“Menjadi bunga di taman batu”

 Tidak terasa, perjalanan pun berujung di pos menuju Guwa Pawon. Lalu, kami membayar seharga tiket masuk total sebelas ribu rupiah saja berdua. Selanjutnya menuju guwa, dengan terlebih dahulu disambut oleh pemandangan monyet-monyet manis di pinggir jalan. Mereka tidak mengganggu, namun hanya meminta makanan pada sesiapapun yang berada di sekitar. Terlihat pula seorang Bapak sedang memberi ubi ke arah monyet-monyet dan berekor panjang ini. Mereka menyambut gembira, lalu menjauh, dan kemudian datang lagi setelah makanan mereka berkurang. Begitu selalu pemandangan yang ku saksikan di sekitar pos masuk menuju Guwa Pawon. Ini pemandangan baru lagi.

“Nikmati kelelahan yang engkau rasakan dalam perjalanan, maka engkau dapat tersenyum penuh kelegaan di ujung perjalanan. Ingat. Tujuan menantimu, kawan. Semangat.”

 Lalu, kami pun melangkah menuju guwa, karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.

 Oiya, tidak jauh dari pos masuk ke Guwa Pawon, terdapat tanda yang menunjukkan arah menuju Stone Garden yang ada di atas bukit sana. Waaaaaa… Ini baru petualangan namanya. Baiklah, akan kami coba. Sekarang, mari menikmati penampilan guwa Pawon di arah sana. Yepyepyep. Kami pun melangkah menaiki tangga nan berbaris rapi. Tangga yang lama-lama meninggi, lalu disambut dengan aroma kurang sedap (karena konon kabarnya aroma tersebut berasal dari kotoran kelelawar yang tidak terlihat mata di siang nan terik ini). Baiklah, kami sempat berpose sejenak di pintu guwa, selanjutnya meneruskan langkah hingga ke dalam guwa bahkan sempat naik-naik dinding batu nan ciamik, unik, menarikku mendekat. Ya Allah, terbayang aktivitas itu, aku tidak mengerti. Xixii. Nempel-nempel di batu, lalu bergeser menurun dengan energik, hati-hati dan syuuuuts, pengalaman ini baru sekali juga ku alami. Tentu berkesan, bukan?

 Berlama-lama di dalam guwa Pawon, tidak membosankan. Malah, kelamaan di sini akan menghabiskan waktu kita. Dan kami pun ingat, masih ada lokasi yang akan kami kunjungi berikutnya dan kami pun bergegas keluar seraya tak lupa foto-foto lagi. Xixii. Teringat saat di sana, ada juga lho yang bawa ayunan untuk tiduran gitu, dan bersantailah beliau di bawah terik mentari yang mengintip dari balik dedaunan. Di bawah dua batang pohon yang berdekatan, menjadi saksi kenyamanan yang beliau alami. Hei, bosss! You are great! You was inspiring me, and make me smile on my heart.

 ***

 Stone garden telah menungguuuuu, mari kita serbuuuuu…

😀😀😀

 Batu-batu itu, tersusun indah, berdiri kokoh nan memukau.

Bendera merah putih pun berkibar, meliuk di atasnya, melambai-lambai menyapa langit.

Sedangkan saung-saung bambu nan meneduhkan kami beberapa saat,

Untuk dua orang pengunjung lainnya yang meminjami kami bendera untuk kami kibarkan berdua,

Semua pemandangan yang tidak dapat diungkapkan maknanya dengan kata-kata,

Terima kasih yaaa, Alhamdulillah, masih memperoleh kesempatan untuk menjejakkan kaki-kaki ini di sana. Semoga ada lagi tempat tertinggi yang memanggil-manggil kami untuk mendekat. Hmmm… I like nature travelling, like this moment. I enjoy it so much.

Selanjutnya, biarlah gambar yang berbicara, sedangkan mata membacanya tanpa suara.

“Merdeka itu adalah saat engkau mulai melangkah dan kemudian jalan-jalan sepuasnya berkeliling dunia ke mana pun engkau suka, kapan pun dan sampai di manapun, terserah padamu..”

 :)🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s