Smile is better than manyun, Bon.
Smile is better than manyun, Bon.😀

Mengapa harus senyum? Bagaimana cara tersenyum? Kapan dan di mana saja bisa senyum? Lalu, senyuman seperti apakah yang terbaik?

Karena senyuman pun sedekah, maka tersenyumlah. Meski engkau lelah, walau engkau gundah. Sekalipun engkau ogah. Ah. Terkadang ada yang perlu kita paksakan untuk bisa terbiasa dan menjadi kebiasaan, teman. Salah satunya adalah tersenyum. Ya, untuk tersenyum memang tidak mudah. Apalagi tersenyum dengan wajah yang cerah berasal dari hati yang ramah. Sungguh tidak mudah, teman. Dan aku pun mengakui akan hal ini. Hihii.😀

Di tengah malam sebegini, ku coba rangkai beberapa suara hati. Suara yang ku upaya untuk mensenyumkan wajah ini lagi. Ya, saat ia tidak mudah tersenyum, dalam sehari. Maka ku belajar mengajaknya tersenyum. Adapun caranya adalah dengan mensenyumkan hati terlebih dahulu. Bawa rileks dan ajak ia tenang. Ringankan pikir, lalu bayangkan keindahan yang akan engkau peroleh dengan efek senyuman dari hati.

Apapun yang berasal dari hati, akan diterima oleh hati. Yakinlah, percayalah, praktikkanlah, dan buktikan.

Semenjak ku mengenal hati, maka ku sering bercakap-cakap dengannya. Terkadang kami membahas tema terkini, namun tak jarang kami berreuni dengan kenangan jadul yang tidak lagi update. Akan tetapi, bersama hati akan terasa ada yang berbeda. Sekalipun tema lama yang sedang kami perbincangkan.

Adalah senyuman, ia termasuk salah satu tema jadul yang kami sering perbincangkan. Mengapa jadul? Karena senyuman sudah membersamai kita semenjak lama, bukan?

Ah, senyuman.

Meskipun engkau jadul sekalipun, namun peranmu sangat berarti bagi hari-hari kami. Kami akan lebih menikmati waktu saat engkau membersamai. Sedangkan ketika engkau tiada, seakan suram dan kelam hidup ini terasa. Senyuman dari hati, tentu saja.

Hati, terkadang ia tidak mau diajak berkompromi. Walau hanya untuk memberikan senyuman pada wajah. Karena hati itu mudah berubah, ia berada di dalam genggaman Allah. Hati yang tidak terlihat, akan tetapi ia sangat berperan bagi keselamatan kita di dunia ini. Hati yang jauh nun di dalam diri kita, akan tetapi keberadaan terakhirnya akan sangat mudah terlihat, apakah ia sedang berbahagia, atau malah sebaliknya?

Tataplah mata seseorang, perhatikan raut wajahnya. Maka dari sana, engkau dapat mengenali hatinya.

Ketika seraut wajah terlihat gembira, namun kalau sebenarnya ia sedang berdu-ka, maka matanya akan berbicara. Ya, mata adalah asisten hati kita. So, tersenyumlah saat hatimu tersenyum.  Dan jangan sekali-kali memaksakan tersenyum, saat hatimu bilang, no.  Karena matamu akan berbicara. Ingat. Ingat. Tingk! ***Hororgaknich.

“Kebayang saat seseorang marah, matanya merah. Aku ga tegaa lihatnya. Aku pengennn nangiss, seketika. Karena hati ku langsung terluka. Huuwwaaaa. Trauma marah.”


Aku ga suka orang marah, namun senang menyaksikan wajah sumringah, penuh senyuman dari hati yang menawan. Subhanallah, ingatan kepada Allah pun bermunculan. Terima kasih ya Allah, untuk mempertemukan kami dengan hamba-hamba-Mu yang menjadi jalan ingatkan kami kepada-Mu.

🙂

***

Untuk keadaan tertentu, memang kita harus memaksakan untuk tersenyum. Saat menjaga sikap dan profesionalisme, misalnya. Padahal, nun jauh di dalam hati, sedang bergejolak api memanas. Dalam keadaan begini, apa yang engkau lakukan, teman? Bagaimana engkau menyikapi kondisi diri sebegini? Ke mana engkau mencari pemadam api itu agar segera menyejuk lagi hati ini? Supaya damai dan tenteram segera kembali? Karena engkau memerlukan senyuman dari hati.

Terkadang memang begitu, dalam suatu kondisi kita harus berdamai dengan keadaan. Baik adanya kalau kita mengerti solusi untuk menemukan kedamaian segera. Namun saat kita terlupa, bagaimana oh, bagaimana cara? Ke mana kaki ini akan melangkah untuk menemukan lagi senyuman? Bagaimana kita berupaya agar senyuman segera tiba? Karena kita sangat memerlukannya. Senyuman oh senyuman, ia adalah sahabat kita.

Bagi hati yang sudah stabil, tentu sangat mudah mengendalikan diri saat ia menemukan keadaan yang tidak sesuai dengan hatinya. Namun untuk hati yang masih labil *sepertiakuini. Aku terkadang begini. Mudah ekspresif, gampang nangis. Hiks. Terkadang tanpa sebab ku mudah mengalaminya. Walau begitu, ku belajar untuk mengenal diri, ku berupaya mengenal hati. Sambil melangkah ku bertanya pada hati, apa mauku, apa maumu?

Aku, siapalah aku tanpamu. Wahai sekeping hati yang menemani. Oleh karena itu, belajar lagi ku bersungguh-sungguh agar engkau terjaga selalu. Tidak lagi seperti dirimu yang dulu sebelum ku tahu, siapakah engkau?

Sekeping hati yang mudah berbolak-balik ini, ku mohon kepada pemilikmu.

“Yaa muqallibal quluub tsabbits qalbi ‘ala diinik.”

Untuk sekeping hatiku di sini, sungguh tidak mudah bagiku untuk mengendalikannya, kalau aku terlupa siapa pemiliknya. Akan tetapi senantiasa ku memohon kepada-Nya, ingatkan hamba ya Allah, bahwa Engkau pemilik hati ini, pemilik segalanya, di dunia ini. Maka sabarkan kami saat ada yang tidak kami ingini dan menghadapi kami. Syukurkan kami saat kami menerima sesuai dengan harapan kami. Dan jadikan kami sebagai hamba-hamba-Mu yang senantiasa tahu diri, agar kami tersenyum lagi dan lagi, dalam berbagai keadaan yang kami alami. Senyuman yang berasal dari hati yang senantiasa ingat kepada-Mu. Senyuman yang berasal dari hati, hati yang Engkau jaga selalu. Hati yang mudah ternodai, bahkan oleh pikir kami yang neg=atif. Ya, Allah, baikkan pikir kami, sucikan hati kami, jernihkan ingatan kami, dan perbaiki akhlak kami. Karena di ujung perjalanan kami di dunia ini, kami ingin bertemu dengan-Mu dalam sebaik-baik pertemuan. Pertemuan yang menjadikan kami layak memandang wajah-Mu. Aamiin.

Dan semua itu, dimulai saat ini, di sini, dengan latihan yang berkepanjangan, latihan tiada henti. Ingatkan kami saat lupa, dan kembalikan kami kepada baik sangka setiap saat. Pada siapapun, kapanpun, di manapun. Karena Engkau sesuai dengan prasangka hamba-hamba-Mu. Dan Engkau yang menggenggam hati-hati kami. Senyumkan ia ya Allah, dengan senyuman terindah dari-Mu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s