"Jadi pulang ke Minang?" sapa beliau di ujung perjumpaan kami malam ini.

"Insya Allah," jawabku singkat, seraya bertanya-tanya di dalam hati. Meyakinkan diri. Memastikan lagi.

"OooO… Rupanya beliau sudah tahu, yaa. Baguslah kalau begitu, alhamdulillah…" teriak jiwaku berbahagia. Ia senang. Ia gembira. Karena ini menjadi pertanda bahwa semakin mudah jalan yang akan kami jalani menuju pulang. Dan dengan begini, setelah banyak persiapan dan berbagai perbekalan, maka aku semakin mantab dan yakin ‘pulang’.

Minang adalah suku kami di Minangkabau. Ramah alamnya elok pemandangannya. Sedangkan penduduknya gemar menolong saling membantu sesama meringankan beban satu sama lain. Beginilah negeri tempat aku dilahirkan hingga beranjak remaja. Negeri yang ku ingat selalu dan ku kenang saat jauh darinya. Negeri penuh pesan, bertabur kesan di dalamnya. Negeri yang mendidikku menjadi pribadi anggun. Memingitku untuk lebih sering berada di rumah daripada jalan-jalan. Negeri yang semenjak kecilku habiskan bersamanya. Yah, inilah kampung halamanku. Minangkabau tercinta.

Sekarang, aku benar jauh darinya. Ya, dari negeri Priyangan ku mengingatinya saat ini. Negeri yang menjadi tempat persinggahanku sementara. Priyangan yang ramah pula padaku, baik dan memberiku banyak pesan, kesan serta kenangan. Hai, teman. Hingga saat ini ku tidak dapat lagi membedakan diantara keduanya. Karena bagiku, mereka adalah serupa walau tak sama. Sehingga saat berada di Priyangan ini, ku bagaikan di negeri sendiri. Meskipun kini ku merantau di dalamnya. Akan tetapi, Priyangan laksana saudari kembar Minangkabau. Yupz. Mereka sobatan, saling mengulurkan jemari untuk merengkuhku diantara mereka berdua.

Semenjak ku menginjakkan kaki di Priyangan sembilan tahun yang lalu, pada saat itu Minangkabau pun melepasku dengan senyuman. Bersama kebahagiaan, mereka menemaniku. Sehingga walau berpindah negeri yang tidak lagi sedepa, aku merasakan tenang, damai dan aman. Maka nikmat-Nya yang mana lagikah yang aku dustakan? Alhamdulillah.

Tidak terasa, sembilan tahun sudah berlalu. Tepatnya tanggal sembilan belas di bulan ini, keberadaanku di kota Priyangan mencapai angka sembilan tahun. Ah, sudah lebih dari sewindu. Namun ku pikir, baru kemarin aku datang ke sini. Baru kemarin ku merasakan kota Priyangan memelukku erat sekali, dengan alam khasnya nan super sejuk. Sehingga aku mengalami gempa setempat keesokkan paginya. Namun dua bulan lagi, aku sudah akan meninggalkannya, untuk melanjutkan langkah-langkah berikutnya. InsyaAllah kembali ke kampung halamanku di Minangkabau. Untuk berkumpul bersama sanak saudara, kerabat dan handai taulan. Untuk membersamai mereka dalam hari-hari kami berikutnya. Wallaahu a’lam bish shawab. Allah knows best. Believe and keep smile.

Apapun yang akan terjadi esok hari, kita tidak tahu pasti. Apa yang akan kita lakukan esok hari pun kita tidak benar-benar tahu. Walaupun begitu, kita perlu tetap menyusun rencana terbaik dan berusaha untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Namun kenyataan yang akan kita jalani besok, lusa, pekan depan, bulan depan, hanya Allah yang Tahu pasti. Karena Ia yang menentukan kadar kita masing-masing. Sudah tertulis nyata di Lauhul Mahfuz-Nya. Percaya kepada hal ini, kita pun bertawakkal kepada-Nya. Inilah kunci bahagia dan ketenangan. Hingga tahap ikhlas menjalani keputusan-Nya.

Insya Allah, aku semakin yakin dan percaya akan hal ini. Aku tak lagi berat walau mesti melepas Priyangan dari genggaman dan ku bersiap memeluk Minangkabau dengan ketenangan. Karena aku semakin paham bahwa di manapun kita berada, selama keyakinan kepada Allah menjadi pegangan dan keimanan menjadi teman, maka kita dapat menjalani kehidupan dengan ketenangan. Temanilah ikhlas dengan senyuman, maka kita dapat merasakan kebebasan di dalam pikiran dan kelegaan pada perasaan. Sedangkan raga kita menghadirkan senyuman penuh kebahagiaan.

Subhanallah… idamkanlah teman, hari-hari yang seutuhnya kita jalani dengan ketenangan. Maka apapun yang akan kita hadapi di hadapan, kita full persiapan. Siapkan mental, sebagai awalan. Selanjutnya beraksi penuh keyakinan. Insya Allah kemenangan menaklukkan diri sendiri sebagai musuh terbesar dalam perjuangan adalah kemestian. Makanya, tetap semangat! Temannnn.😀

Satu pesanku untukmu teman seperjuangan, siapapun engkau dan di manapun berada, tetap semangat menjaga senyuman. Karena kita tidak pernah tahu, pada senyuman yang mana ada yang jatuh cinta dengan kita. Yha, senyum sebanyak-banyaknya di moment terbaik. Maka akan semakin banyak cinta yang kita tebar. Semoga cinta bersambut dan tersangkut pada orang-orang yang tepat yaach.

"Keep spirit and smiling, dear sister and brother. I will miss you."

Sampai berjumpa lagi di pertemuan kita berikutnya, bersama ikhlas yang semakin meningkat kualitasnya. Aamiin

Di rumah-Nya, ku ingin kita sering bereuni, yaa. Berjumpa dan berpisah karena Allah. Baarakallah… []

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s