Terima Kasih Ibu
Terima Kasih Ibu

Teruntuk perempuan bernama Ibu, terima kasih ku terulur tak kenal waktu. Baik pagi, siang, sore, malam pun menjelang dini hari. Seiring dengan pergulirannya, begitu pula kasih dan sayang Ibu yang tercipta.

Ibu… Meski tak dapat ku rengkuh jemarimu selalu, setiap kali aku rindu, namun tetesan bulir bening permata kehidupan yang mengalir membanjiri pipi dan kemudian bermuara di pangkuanku, cukup menenangkanku. Ya, Teringat saat engkau bersusah payah membawa kami ke manapun saat berada dalam kandunganmu Ibu. Engkau pasti lelah. Engkau pasti letih. Engkau pasti alami sakit yang berkepanjangan. Bahkan tidurpun tak dapat nyenyak, semenjak ada kami bersamamu. Dudukpun sering tak nyaman, ketika kami masih di rahimmu. Hingga sampai waktunya, sembilan bulan di dalam kandungan. Kami pun terlahir ke dunia dengan tangisan.

Ibu… Saat pertama kali kita berpisah raga, berjauhan jarak, ketika engkau melahirkan kami, maka pada saat itu kami merasakan ketidaknyamanan. Hingga akhirnya kami menangis terus-terusan. Meneriakkan apa yang kami alami dan rasakan di dalam hati. Ya, kami menangis semenjak lahir ke dunia, karena ketenangan di dalam rahimmu Ibu, tidak lagi kami temukan setelah terlahir. Ya.

Ibu… Dengan kasih dan sayangmu, engkau rengkuh kami lagi, engkau peluk kami sepenuh cinta. Engkau kecup kening ini, lalu engkau pun tersenyum. Senyuman yang engkau hadirkan karena kebahagiaan tiada terkira, setelah kami lahir. Ya, walaupun pada saat yang sama, rasa sakit yang engkau rasakan belum sembuh. Belum berkurang, bahkan engkau merasakan sakit yang teramat sangat. Akan tetapi, engkau malah tersenyum untuk kami, wahai Ibu.

Ibu… Sungguh kami belum pernah tahu, apa alasan di balik senyumanmu, pada waktu itu. Karena kami hanya bayi mungil yang belum tahu apa-dan tidak bisa apa-apa. Kecuali hanya menangis dengan ketidaknyamanan. Dan, beberapa saat berikutnya, ketika engkau menimang kami, ketenangan itu kembali ada, kenyamanan itu kembali kami rasakan. Walaupun tidak senyaman di dalam rahimmu, Ibu. Dan kami tidak akan pernah lagi kembali ke sana, dengan cara apapun. Karena sudah tertakdir insan terlahir ke dunia, untuk mengharungi kehidupan yang penuh dengan uji dan coba.

Ibu… Ketika kami masih bayi, lucu dan imut, engkau sangat telaten merawat kami, menjaga dan menyusui. Hingga kami pun bertumbuh menjadi balita dan belia. Lalu beranjak remaja dan menjadi seperti hari ini. Semua berlangsung sangat cepat, tidak terasa. Karena hingga saat ini, kami masih merasakan hangat di pelukanmu dan tulus belaimu.

Ibu… Waktu terus melaju dan terus berlangsung tidak pernah menunggu. Hari ke hari yang kami jalani bersamamu, membuat kami sangat sering merasa nyaman. Apapun keperluan kami, engkau penuhi wahai Ibu. Dengan usaha dan doamu yang sungguh-sungguh, berbagai upaya engkau lakukan. Agar kami menjadi seperti anak-anak yang lainnya. Bertumbuh sehat dan bugar tidak kekurangan vitamin dan gizi. Maka engkau merelakan istirahatmu demi memenuhi kebutuhan kami akan makanan, minuman, dan kasih sayang sepenuh cinta.

Ibu… Sungguh tidak dapat terbalas kebaikan dan jasa-jasamu. Kebaikan yang terus bergulir seperti waktu. Kasih sayang yang senantiasa melaju. Sampai kami tidak dapat lagi membedakan, di mana engkau menempatkan kebutuhanmu. Bahkan engkau rela mengorbankan pikiran, jiwa dan materi. Untuk menjadikan kami sebaik-baiknya. Kami sebagai titipan dan amanah dari Allah. Sungguh engkau sangat tahu kewajibanmu Ibu, untuk memenuhi hak-hak kami. Lalu, bagaimana dengan yang kami lakukan terhadapmu Ibu…

Ibu… Mohon maafkan kami atas segala laku, ucap dan tingkah yang keliru. Walaupun engkau sering menasihati dan kami belum menjalankannya dengan baik. Padahal engkau berikan semua pesan dan petunjuk untuk kemudahan perjalanan kehidupan kami di dunia ini. Agar kami selamat dengan ilmu dan berbahagia dalam menempuh waktu. Engkau sering ingatkan kami, engkau gemar mendoakan walau kami tak tahu. Lalu bagaimanakah balasan kami terhadapmu, wahai Ibu.

Ibu… Engkau yang ; surga berada di bawah telapak kakimu. Engkau bimbing kami selalu semenjak mula meniti waktu. Tidak pernah engkau sekalipun mengeluh, mengomel, atau menggerutu. Namun engkau lakukan semua dengan tulus, ikhlas dan senang hati. Kami merasakanya sampai saat ini. Walaupun kita berjarak raga. Maka ku rangkai senyuman ini sepenuh cinta, untukmu Ibu. Berharap engkau pun tersenyum lebih indah, lebih mewah, lebih cerah, lebih berseri. Ya, Allah, senyumkan beliau Ibu kami, saat kami tersenyum seperti saat ini, aamiin.🙂

Ibu… Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim, senantiasa melindungimu, menjaga dan merahmati selalu. Sepanjang hayatmu, hingga di akhirat nanti, tersenyumlah Ibu, senyuman yang hadir sebagai balasan kebaikanmu. Senyuman yang sama seperti ketika engkau menimang kami dulu. Senyuman bahagia saat engkau bahagia menyambut kehadiran kami sang buah hati. Senyuman yang engkau rangkai bersama harapan, kami akan menjadi permata jiwa yang membahagiakanmu di dunia hingga akhirat nanti.

Ibu… Nun jauh di dalam hatiku terpinta doa selalu. Kelak di akhirat, ingin menjadi kupu-kupu terindah di taman jiwamu. Untuk menghiasi kebun-kebun berbunga senyuman berbunga-bunga yang berada di sekelilingmu. Menjadi penyejuk pandangan, peneduh sanubari. Wahai, berpinta selalu kepada-Nya semenjak kami tahu, bahwa kasih sayangmu sepanjang masa, hingga ke ujung jalan dan tiada berakhir untuk kami. Semoga, balasan terindah untukmu Ibu, bidadari bermata jeli nan memesona mata saat memandang, mendamaikan saat bersama. Di surga-Nya, kelak kita kembali bertemu dalam reuni setelah lama tidak bertemu.

Ibu… Semenjak kita berpisah, dulu. Ada yang kurang lengkap dalam hidupku. Ada yang belum sempurna dalam hariku. Ya, sepanjang waktu siang, sore, malam, dini hari hingga fajar menyingsing, teringat selalu tatapan matamu. Mata berkaca yang berkedip selalu. Agar tidak pecah mutiara-mutiara nan bening di lembaran pipimu. Engkau berupaya menjaganya tetap di bendungan tipis dua matamu dan kemudian tersenyum untukku. Dari senyumanmu, ku temukan kekuatan baru, Ibu. Setiap kali ingatan ini melekat padamu, ketika kita berjauhan raga.

Ibu… Aku masih ingat, saat itu, airmatamu tak jadi meleleh, namun kembali berlinang di dua bola matamu nan indah, berkerling. Maka, setiap kali aku bergerak dan melangkah saat jauh darimu Ibu, semangat pun bertambah dan terus bertumbuh. Untuk bangkit lagi saat terjatuh, melangkah lagi meski lelah. Karena aku ingin kembali berdekatan denganmu Ibu. Untuk menyaksikan kerling bola mata nan berbinar selalu, di dalam hari-harimu. Sehingga siang hari menjadi benderang, seperti saat mentari yang bersinar cemerlang tadi siang. Ya, terlihat langit nan biru olehku. Dan ku lihat mereka tersenyum malu. Ya, aku ingin senyuman sering menebar di wajah Ibu, seperti mentari yang tersenyum. Karena engkau adalah mentari di hatiku, Ibu.

Ibu… Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih untuk mengizinkanku menempuh ruang dan waktu hingga jauh darimu, demi menjemput ilmu untuk waktu yang tak sebentar. Untuk mensenyumkanmu lebih indah, wahai Ibu. Hingga akhir hayatku, ingin senyuman Ibu abadi, selalu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s