Alhamdulillah, sudah setahun kita menikah. Merangkai senyuman bersama dalam keluarga bernuansa dakwah. Yah, senyuman adalah salah satu dakwah yang kita upayakan menebar di sini. Di rumah kita yang bukan nomor 57.

Setahun memang bukan waktu sebentar, yah. Banyak rasa yang kita alami sepanjang setahun berlalu. Ada suka, duka, pilu, pun tidak jarang airmata haru menemani hari-hari kita. Karena di dalam keluarga kita, semua lebur menjadi satu dengan nama cinta yang berbunga merekah. Termasuk senyuman sebagai penghias wajah, senantiasa kita jaga agar ia ada membersamainya. Sehingga keluarga bahagia sebagai tema rumah tangga kita, dapat terwujud kapan saja.

Aha, betapa semua tidak dapat diungkapkan hanya dengan kata-kata saja. Namun segala terdata di dalam jiwa kita. Jiwa nan sahaja, sentosa dan merdeka. Berteman pikir yang senantiasa terbuka dan raga yang kita jaga sebaik-baiknya. Terima kasih wahai suamiku tercinta, atas kesantunanmu yang senantiasa ada. Aku bahagia kita bersama semenjak di dunia nan fana ini. Berharap kebersamaan kita selamanya, semenjak kita saling mengenal. Selamanya, ya selamanya. Hingga waktu yang tak terhingga.

Di rumah kita ini, bukan nomor 57. Di sini, kita lebih sering menghabiskan waktu bersama. Di sela dan jeda rutinitasmu menjemput rezeki dan mencari nafkah untuk keluarga kita. Ada lokasi khusus yang telah kita siapkan semenjak mula, sebagai ruang privat yang hanya ada kita di sini. Xixiii. Selain-Nya, hembusan angin, sinar mentari yang sesekali mengintip dari celah jendela yang terbuka, atau dari fentilasi, bahkan debu pun tidak kita izinkan menempatinya. Yah, hanya kita dan para malaikat-Nya yang meramaikan lokasi pribadi kita.

Di sini, aku sedang duduk manis sendiri. Di sebuah kursi kayu dari bahan jati yang mengkilap. Sedangkan di hadapanku sedang mengembang sebuah notebook. Notebook kita. Seraya membolak-balik lembaran slidenya berisi catatan yang engkau susun. Aku masih bersama rerangkai huruf yang engkau tata dengan teliti setiap pagi. Dan saat ini aku sedang membaca catatanmu tentang pagi tadi yang berseri.

"Menjelang mentari tersenyum. Sebelum hembusan angin berubah menghangat. Selagi udara segar menyelimuti alam. Ku petik beberapa pesan dari alam:

– Bergiatlah kawan, bangkitlah teman. Rapikan barisan, dan bulatkan tekad di hati. Hari ini adalah kesempatan terbaik untuk kita melangkah lagi, dimulai dari sini. Dari ruang jiwa.

– Tersenyumlah teman. Bersenyumanlah kawan, dengan apapun yang engkau bersamai saat ini. Sebagai bukti syukur diri atas nikmat kebersamaan. Lalu jaga ia lagi dan lagi, hingga nanti. Meskipun engkau akan beranjak pergi dan meneruskan aktivitasmu berikutnya.

– Entah ke mana dan bersama siapapun kawan, engkau melanjutkan perjuangan. Jaga semangat dan atur kekuatan. Bukan untuk berjuang tergesa dan sendiri. Namun bersama dalam barisan yang teratur. Maka engkau dapat mengalahkan musuh yang tersembunyi sekalipun di dalam hati. Ya, engkau sedang berjuang dan berperang melawan hawa nafsumu lebih awal. Alih-alih memerangi musuhmu di luar sana. Namun engkau adalah musuh bagi dirimu sendiri, musuh kesuksesanmu, bila lah saja engkau tak pandai membawanya dalam kehidupan ini. Makanya, senantiasa ingat diri, sering mengenalinya walaupun sudah sering bersapa. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengannya beberapa saat lagi.

– Engkau dirimu, wahai kawan. Engkau dapat menjadi sahabat terbaik untuk dirimu, bila saja engkau tahu tujuanmu. Sampai engkau mengenal siapa musuh dan atau kawan. Maka pada saat itu, engkau dapat mengendalikan diri agar tidak terjebak dengan perangkap sendiri.

– … dan seterusnya. Dan selanjutnya…

***

Engkau yang gemar menulis, merangkai kata dengan manis. Dan engkau pernah berbisik di telingaku, pada suatu senja.

"Menulisku untuk menasihati diri. Dan dengan melakukannya aku menemukan teman diri ketika ku sendiri. Sedangkan buah karya yang ku tera dalam rerangkai kalimat adalah ungkapan jiwa kepada dunia. Semoga sesiapapun yang membaca menjadi teringatkan pula. Sesederhana itu alasanku merangkai kata," engkau menjelaskan padaku.

Hingga pernah ku melihat engkau sangat asyik di sini, tanpa menyadari kehadiranku di sisimu. Karena engkau sangat asyik dengan duniamu.

Engkau suamiku kini. Dan engkau benar-benar nyata. Walaupun sebelumnya hanya dapat ku pinta di dalam doa sejak kita belum saling mengenal. Jangankan rupa, suara atau nama, terbersitpun tiada dalam ingatan.

"Ah, walaupun kelak engkau bukan seorang penulis, maka ku rela menerimamu sebagai imamku," suara jiwaku pada saat yang sama. Ketika engkau belum ku kenal, dulu. Karena aku percaya bahwa engkau adalah yang namamu telah tertulis nyata semenjak mula di Lauhul Mahfuz-Nya. Maka ada lega menjalani waktu. Seraya ku rangkai suara jiwa tentang perjalananku saat kita belum bersama.

Di sini kini, aku masih di ruang pribadi kita. Tempat segala cita tercipta. Tempat segala harap terungkap. Tempat semua pinta terlontar, terbersit dalam ingatan, atau pun terlintas di dalam hati. Di sini, di ruang yang kita beri nama ‘Ruang Jiwa Kita’.

Ada masa kita hiasi ia dengan lelucon dan guyonan garing. Namun kita tetap bisa tertawa bersama di dalamnya. Bahkan tidak jarang kita bertemu rasa dengan tema duka, sehingga kita mestinya tersedu namun tertahan oleh senyuman yang segera melintas di wajah. Yah, di sini, kita berekspresi segala rupa. Kita beraksi semua gaya. Karena di sini kita benar-benar merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Di ruang ini, kita menyatukan visi, merangkai harapan dan menerbitkan lagi buah-buah pikir hingga memetik hikmah dari perjalanan.

Di sini, di rumah kita bukan tanpa jendela. Karena ada beberapa jendela yang berada di sekitar kita. Jendela yang sering dan hampir selalu terbuka. Karena dari jendela-jendela itu kita mulai hari dengan menatap luasnya langit. Langit luas di atas sana, seperti cinta kita yang memungkinkan sesiapa saja mendekatinya. Meskipun langit di sana hanya dapat kita pandang saja, namun menjangkaunya adalah harapan kita. Memang tak mungkin terlaksana, akan tetapi dengan begini kita masih berkesempatan menemukan bintang-bintang atau mentari untuk kita bawa pulang. Setelah lengan kita jauh meraih ke arah atas. Dan kita sangat percaya dengan hasil yang hadir setelah adanya usaha.

Selain jendela, di rumah kita pun bukan tak ada pintunya. Karena pintu adalah sarana kita untuk bisa memasuki nya dan atau melewatinya sebelum melangkah di tanah. Pintu pun menjadi perantara dunia kecil kita dan dunia di luar sana. Bahkan sesiapa yang berkunjung ke rumah kita, pintu selalu terbuka. Pintu utama ada di depan, di ruang dalam ada lagi, pembatas satu ruang terbuka dengan kamar-kamar lainnya. Sedangkan untuk menuju ke sini, di ruang pribadi kita, tidak melewati satu pintu pun. Karena ia berada di sebuah tempat yang luas, berdekatan dengan taman bunga di sisi jendela. Ya, untuk menuju ke sini, hanya perlu melangkah beberapa langkah saja dari arah taman bunga. Taman bunga yang bersebelahan dengan ruang tamu, menjadi sekat yang membatasi sesiapapun untuk sampai ke sini. Dan hanya kita yang tahu bagaimana cara untuk sampai ke sini.

Saat ini, ketika engkau sedang tidak ada, aku hanya bisa melanjutkan aktivitas yang biasanya kita lakukan bersama. Meneliti huruf, memadupadankannya dengan saksama dan kemudian memajang di dindingnya. Selalu begitu dan sampai saat ini aku melakukannya. Setelah awalnya ku buka dulu lembaran catatanmu untuk selanjutnya ku teruskan. Karena kita percaya bahwa dua kepala yang bersatu akan menghasilkan mahakarya sempurna. Begini kita mengikrarkan semenjak mula. Hayokk, bersama kita bisa. Mengubah dunia dengan mengubah diri kita terlebih dahulu. Dan kita dapat memula dari hal kecil-kecil, seperti : menasihatinya lebih sering. Seperti ini.

๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s