Terima Kasih Guru Imut
Terima Kasih Guru

Aku bercita menjadi guru, ya, penebar ilmu begitu. Yuhu… Dengan demikian semangat hidupku kembali menggebu. Saat ku tahu bahwa kehadiranku bagi sesama adalah bermutu.

Guru. Aku sangat salut dengan guru, semenjak dulu. Guru yang membagikan ilmu, pengalaman, kisah dan bercerita kepada kami para anak didik beliau. Sehingga aku pun terinspirasi untuk mengikuti jejak-jejak beliau.

Guru. Bagiku, guru adalah pribadi paling berjasa. Setelah orang tua dan beliau yang berada di lingkunganku. Karena guru adalah motivatorku untuk melakukan yang terbaik semampuku. Bersama guru juga aku belajar menjadi tahu tentang apapun yang aku tak tahu sebelumnya. Dan guru pun mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang berbudi baik, mengerti sesama, giat belajar, dan senantiasa rela memaafkan. Untuk saling membantu sesama teman apabila ada yang memerlukan bantuan, pun guru teladankan kepadaku. Yah, bagiku guru adalah pelita ilmu. Penebar cahaya dalam kegelapan hidupku.

Guru. Kini, aku sangat jarang bertemu dengan guru untuk menerima ilmu secara langsung. Karena istilah guru ada saat kita menempuh pendidikan di bangku sekolah, bukan? Ah, ini pandangan yang keliru menurutku. Karena ternyata, guru itu ada di mana-mana, teman. Termasuk semilir angin yang menerpa pipi kita, ia pun guru yang perlu kita tahu. Bahkan seorang anak kecil yang belum bisa berjalan dan lugu, ia pun bisa menjadi guru terbaik untuk kita. Sehingga, jangan abaikan peran guru dalam waktu kita. Karena guru bukan saja beliau yang berdiri di depan kelas untuk menebarkan ilmu. Namun guru adalah alam yang membentang indah di sekitar kita. Alam takambang jadi guru. Ingatkah engkau dengan sebaris petuah ini, teman?

Guru. Bagi kami sebagai anak yang berasal dan bertumbuh dari desa, sangat dekat dengan alam. Baik siang hari, malam hingga esok dini hari. Alam adalah guru terbaik kami. Guru yang meneladankan kami untuk meneladani mereka sepenuh hati. Alam yang ramah, damai dan senantiasa menyejukkan. Meskipun terkadang, sinar mentari menyengat dan membuat bumi terasa panas, ini hanya sementara, bukan?

Guru. Hingga saat ini, berapa pun usiamu teman. Di mana pun engkau berada, teman. Maka engkau dapat belajar bersama guru-gurumu. Ya, di mana pun dan kapanpun. Petiklah ilmu dari semesta, belajarlah bersamanya dan membacalah. Sehingga engkau tidak perlu jauh-jauh melangkah hanya untuk menjemput ilmu. Iya, ketika engkau memiliki keterbatasan biaya untuk perjalanan, engkau bisa menempuh solusi ini. Belajarlah kapanpun, bersama alam. Niscaya engkau akan menemukan ilmu baru setiap saat.

Guru. Sejauh ini, aku sering merindukan kehadiran seorang guru di hadapanku. Sehingga apabila aku belum menemukan beliau, aku pun berjalan, melangkah dan menjejakkan kaki-kaki ini di alam. Dan sepanjang perjalanan yang ku tempuh, aku berpikir. Di manakah guru berada? Hingga ku merasakan tetesan air mata langit menitik di pipi. Lalu ku menengadah mengangkat wajah. Ternyata hujan turun membasahi bumi. Dan pada saat yang sama, aku belajar kepadanya. Aku belajar dari hujan, untuk menjadi penyejuk alam kehidupan. Ya, aku belajar untuk lebih baik, teman.

Guru. Setelah hujan reda, dan langitpun kembali cerah. Aku pun meneruskan perjalanan lagi. Untuk ku temukan guru terbaikku. Hingga akhirnya di ujung langit barat, terlihat seberkas sinar. Sinar yang muncul perlahan dari balik awan. Sinar yang semakin benderang dan semakin mencerahkan alam. Konon akhirnya aku tahu, ternyata ia bernama mentari. Ya, mentari pun akhirnya menjadi guruku. Guru yang ku gugu dan ku tiru. Guru yang menginspirasiku untuk menjadi sebagaimana ia. Guru yang menyinari alam, dan aku pun ingin menjadi. Ah, ingin ku menjadi pencerah di saat awan menggelapi awan harimu, teman. Semoga sedikit kontribusi yang ku laku, dapat mensenyumkanmu secerah sinar mentari yang sering muncul dalam hari-hari kita. Maka, ketika ia bersinar di langit hari, dapatlah engkau menjadikan ia sebagai pengingatmu padaku saat kelak kita berjauhan raga. Ya, seraya mendoakanku untuk tersenyum juga sepertinya. Begitupun engkau, harapku selalu.

Guru. Saat kita mengitari alam untuk melihat-lihat sudutnya, memang di sana selalu ada pembelajaran. Pembelajaran tentang kesabaran, tentang semangat, tentang tekad dan niat. Ya, dari tanah kita belajar untuk bersabar. Ia yang menopang kita saat berjalan, tak segera runtuh menenggelamkan diri, bukan? Dari pepohonan kita belajar melindungi, mengayomi dan menjadi tempat berteduh. Dari apapun itu, belajarlah lagi, teman. Tepat saat ini, ataupun kelak ketika engkau telah menyelesaikan pendidikanmu di jenjang pendidikan formal. Teruslah belajar, dari alam. Ini pesanku untukmu, sebagai seorang teman. Semoga kita senantiasa saling mengingatkan, yaa. Agar senyuman paling indah di dalam perjalanan kita senantiasa dapat terwujudkan.

Guru. Bersamanya engkau dapat bersenyuman, saat engkau menyadari bahwa beliau pun insan ciptaan Tuhan. Tidak selalu beliau sempurna, sehingga engkau menyadarkan diri, sebelum mengeluarkan ump–atan-ump–atan terhadap kekurangan guru. Ya, belajarlah untuk memaafkan. Dengan begitu, engkau menjadi pribadi yang penyayang.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s