This slideshow requires JavaScript.

🙂🙂🙂

Prasasti perjalanan menuju puncak.  Hhaa…😀 Judulnya semoga pas yah, buat mengabadikan perjalanan kali ini.

Adalah beberapa waktu lalu, aku berkunjung ke monumen nasional di Jakarta. Hai, ini pengalaman pertamaku, teman. Makanya, aku perlu membahas di sini. Lalu menitipkan beberapa ekspresi selama bersamanya. Semoga dapat menjadi petunjuk lagi nanti, saat mau meng-guide sobat, adik, dan teman menuju Monas. Aamin. Xixii.

Perjalanan menuju Monas ku tempuh sendiri. Yach, tadinya memang begitu. Tentu saja dengan tanpa niat sebelumnya. Namun hanya mengikuti gerak suara hati. Karena keberangkatanku bermula semenjak selesai shalat Idul Fitri. Jiah, bersilaturrahim nya malah ke Monas, bukan ke tetangga. Ya Allah, ampunilah Yani atas semua ini. Semoga, tahun depan, Idul Fitri tidak lagi begini, namun berlangsung normal sebagaimana muslim-muslimah lainnya di muka bumi. Cukup sekali, seperti ini. Karena aneh, yaa…

Aku berangkat menggunakan kereta api Argo-Parahyangan dari Stasiun Bandung. Kereta berangkat pukul 11.50 WIB selepas shalat Id. Dan sampai di Ibukota sekitar pukul tiga sore. Alhamdulillah, ternyata di perjalanan aku tidak benar-benar sendiri, lho. Karena sebelum memesan tiket kereta api, ada teteh-teteh yang ingin berangkat ke Jakarta juga. Beliau tujuan akhirnya di Bengkulu. Jadilah kami kenalan, berteman dan salaman. Beliau ada Teh Lina dan Teh Novi. Begini aku   menyapa beliau akrab. Duo muslimah yang ternyata tidak berbeda jauh usia denganku. Dan beliau adalah perempuan yang baik. Ceritanya beliau baru selesai itikaf dari masjid Habiburrahman Bandung selama sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Alhamdulillah. Tidak terasa, penantian kami sejak pukul sembilan hingga pukul 11.50 am pun berlalu sudah. Kami pun menuju kereta dan duduk manis di kursi yang berbeda namun sejajar. Setelah sebelumnya muter-muter dulu, maklum pengalaman pertama naik kereta api. Haha. Dengan bertanya, maka ada jalan dan sampailah kami di tujuan. Gerbong empat, kursi D nomor 4,5, dan 6.

Sebelum sampai di stasiun Gambir, kami melewati beberapa stasiun sekitar Jakarta. Dan teteh-teteh cantik tadi turun di stasiun Jatinegara. Untuk selanjutnya beliau akan bertolak ke tujuan utama. Selamat melanjutkan perjalanan, sister in love. Semoga Allah melindungimu selalu. Dan sampai berjumpa lagi, di mana pun.

Aamiin.🙂

Aku masih duduk manis di kereta, hingga akhirnya sampai di stasiun Gambir. Dan setelah ada aba-aba, kami pun turun di lokasi. Karena Gambir adalah stasiun terakhir, maka semua penumpang pun turun dengan lega. Begitu pula dengan aku. Aku yang akhirnya sendiri lagi, mengikuti arus saja. Ya, karena beberapa orang yang menuju lantai bawah, aku pun serta. Ya, ternyata beliau menuju ke lokasi yang lebih ramai lagi. Konon, sebelum mengikuti terus, aku sempat bertanya kepada petugas, tentang lokasi penjualan tiket di stasiun ini. Dan Bapak petugas yang baik hati, mengarahkanku untuk melangkah ke arah tangga, turun satu lantai, dan di sana ada banyak calon penumpang yang sudah berkumpul. Subhanallah, aku terpesona.

Cerita, setelah sampai di stasiun, aku ingin pesan tiket ke mana pun. Namun apa daya, semua tiket ternyata kosong dan tiada lagi stok. Huwaaa… Haha. Akhirnya, ku putuskan untuk berkunjung ke Monas saja, dulu. Dan berikutnya akan ku atur lagi rencana berikutnya. Dan setelah bertanya-tanya, akhirnya ada petunjuk menuju pintu Monas. Namun ternyata tidak dekat, sesuai instruksi mang Google yang sempat ku cari juga sebelum berangkat, memang membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan dengan jalan kaki, dari stasiun Gambir menuju Monas.

Dan aku pun berencana ke Masjid Istiqlal, namun ia ada di sebelah mana yaa? Tidak terlihat posisinya. Maka ku putuskan untuk menuju Monumen Nasional sebagai tujuan utama.

 Tidak berapa lama setelah sampai di pintu masuk, aku melangkah ke lapangan mendekati tugu. Dan dalam perjalanan inilah, kami berjumpa. Seorang ibu dan anak gadis beliau, sedang bercanda seraya melangkah. Aku pun   menyapa beliau, karena kami sedang menuju arah yang sama, mendekati tugu Monas. Dan ternyata beliau pun berencana untuk naik ke puncak. Namun, karena kami datang lewat dari pukul tiga sore, maka loket pemesanan tiket ternyata sudah tutup. Jadi, kami akhirnya memilih duduk-duduk di lapangan saja, di tempat yang teduh, dekat dengan pepohonan.

 Selanjutnya, kami pun melihat masjid Istiqlal dari kejauhan. Hanya puncak nya saja. Dan kami pun bersama melangkah ke masjid, karena Ibu dan anak serta Bapak tersebut belum pernah juga berkunjung ke masjid Istiqlal. Alhamdulillah, ada teman di perjalanan, dan kami pun mempunyai tujuan yang sama. Jadinya, keberadaanku di sekitar bersama teman-teman dech. Sungguh bahagianya.🙂

 Jalan-jalan berkeliling, ramai-ramai tidak terasa waktu berlalu. Akhirnya senja pun menyapa. Kami bersegera kembali . Walaupun perjalanan panjang, namun kami bergerak juga. Yihaa, sempat juga rehat sejenak di kursi-kursi yang tersedia di sepanjang jalan.

 Menjelang Magrib, aku sudah kembali ke stasiun Gambir, sedangkan Ibu Mutia sekeluarga menuju kendaraan beliau yang diparkir di sekitar lapangan Monas. Dan beliau akan melanjutkan perjalanan menuju Cileungsi.   Lalu aku, bagaimana? Tiada kereta, sementara malam mulai beranjak gulita.

 Dalam jeda waktu perpisahan kami, aku bertolak ke stasiun, seraya mikir, bagaimana cara? Hingga akhirnya pilihan jatuh pada menemani penumpang-penumpang yang juga sedang menunggu jadual keberangkatan ke tujuan masing-masing. Sempat pula bercakap-cakap dengan seorang Bapak yang berangkat dari Batam dan akan menuju ke Surabaya pakai kereta api. Dan saat malam semakin larut, satu persatu penumpang pun menyusut. Hingga hanya beberapa orang saja yang tersisa. Setelah mencari tahu, ternyata beliau mengalami situasi yang sama dengan ku.

AsYiikkKKK, ada teman lagi.😀

Kami akhirnya bermalam di stasiun…
Kenyataan yang belum pernah ku alami…
Namun hanya pernah tahu dari cerita dan pengalaman beliau-beliau yang pernah mengalaminya saja…
Sedangkan aku, akhirnya berjumpa juga dengan kondisi serupa.
Apa kesannya?
"Sungguh berkesan, teman. Berteman nyamuk-nyamuk kecil yang supergigitannya. Ahaaa. Ini baru pengalaman pertama.

***

Malam pun terus beranjak. Sampai akhirnya, Shubuh pun datang. Dan sebelum mentari mensenyumi alam, para calon penumpang untuk hari ini pun sudah datang. Sedangkan aku, masih tidak kebagian tiket ke manapun. Kecuali ke Bandung, masih ada tiket kosong, namun pukul 06.30 am, saja. Oh, tidaaakkk!😀

Aku pun akhirnya memilih untuk tidak memesan tiket, karena masih mau berkeliling di Monas, sebagai tujuan utamaku di Ibukota. Karena masih penasaran dengan naik ke tugu Monas, itu lho. Hoho.😀

Akhirnya, ku lanjutkan perjalanan lagi ke sekitar Monas, untuk bersiap menemukan cara dan informasi, bagaimana bisa naik ke tugu Monas. Dan sesuai informasi serta jadual, pintu masuk menuju puncak dan cawan dibuka mulai pukul delapan pagi. Maka, jeda waktu semenjak pukul enam pun ku manfaatkan untuk menikmati alam dan mensenyumi mentari yang ceria pagi itu.

Puas-puasin berekspresi, lari-lari, loncat-loncat, ngesot, hingga olahraga mengejar matahari pun berlangsung. Setelah capai, aku pun bertolak ke lapang, mendekat ke arah tugu. Selanjutnya, saat jam telah menunjukkan angka delapan, ku berkeliling ke sekitar Monas, untuk mencari sumber pintu masuk. Hingga akhirnya jumpa juga, setelah aku berkeliling tiga ratus derajat dari posisi awal.

Telah banyak pengunjung yang mengantri, ternyata. Dan terlihat semua antusias menuju puncak. Begitu pula aku, itu antrian, setelah bertanya terlebih dahulu, ada apa dengan keramaian di depan sana. Dan ternyata, beliau adalah para pejuang menuju puncak. Asyiiik, ada teman lagii.  😀

Tidak lama mengantri, kami pun mulai menuju lorong bawah tanah sebagai perantara menuju pintu ke arah tugu. Sungguh, perjuangan yang paripurna. Karena banyak pengunjung yang ingin mendahului. Namun akhirnya, selamat sampai antrian tiket, dengan harga total lima belas ribu rupiah saja. Selanjutnya, kami bergegas menuju tangga yang menjadi gerbang awal masuk ke antrian selanjutnya. Subhanallah, ternyata di bawah tugu Monas ada lorong yang luas, dan museum yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan olehku. Apalagi mencari tahu sebelumnya, aku hanya berpikir bahwa Monas hanya sejenis tugu saja. Namun perkiraan diluar kenyataan. Sungguh, aku semakin yakin, Allah Maha Besar, dan Allah Maha Baik, menyampaikanku ke tujuan dengan selamat. Alhamdulillah…

Proses menuju puncak, ternyata tidak mudah. Karena ada beberapa antrian yang perlu dilalui. Dan antriannya lumayan panjang setelah siang. Bersyukur, kami datang lebih pagi, sehingga bisa cepat sampai di puncak. Sedangkan setelah sekitar pukul sepuluh, antrian mengitari selingkaran cawan Monas bagian bawah, hingga bagian belakang. Masya Allah… semoga beliau semua selamat sampai ke puncak ya Allah, Aamiin.

Di puncak, aku pun bertemu dengan teman berikutnya, yang membantuku futu-futu. Seterusnya menuju cawan, kembali ku bertemu dengan teman Jakarta yang baik. Beliau sekeluarga, dan berlibur terencana. Sebelumnya janjian dulu, ternyata berangkatnya tidak bersama. Namun, karena mereka berjodoh, akhirnya jumpa juga di cawan dan sekitarnya. Subhanallah, kun fayakun – NYA berlaku di mana-mana. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan ???

Dari cawan, kami pun mulai akrab, beberapa dari beliau sekeluarga tadi, ada beberapa anak kecil. Dan aku pun sangat senang, karena ternyata adik-adik kecil tadi memberi masukan, untuk naik odong-odong. Hayoooo…. Supaya enggak jalan ke depan, dan tentu sensasi naik odong-odong lumayan berkesan.😀

Xixixii..

Selanjutnya, untuk naik odong-odong, gratis dan tidak bayar, karena diperuntukkan bagi para pengunjung yang naik ke puncak sebelumnya. Dan bersyukur lagi, ternyata kami dapat antrian yang tidak terlalu panjang juga. Sehingga bisa naik odong-odong segera, tanpa perlu berlama-lama di terik panas mentari siang itu. Siang yang semarak, sungguh benderang.

Perjalanan odong-odong menuju depan, sebentar saja. Dan kami masih ingin duduk manis di atasnya, setelah ia sampai di pintu masuk. Namun tidak boleh berlama-lama, karena ada giliran yang lain juga. Untuk beliau yang akan berkunjung ke puncak. Lalu, kami pun turun dengan bahagia.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, saat kami sampai di pintu masuk, tempat kami keluar. Lalu, sekeluarga yang seperjalanan denganku semenjak dari cawan tadi, mereka pun bersiap pulang. Sebagai warga yang berdomisili di Jakarta, tentu beliau lebih kenal dengan keadaan sekitar. Termasuk aneka transportasi. Nah, lagi dan lagi, aku memperoleh kebaikan tak terduga. Beliau memanduku hingga sampai di busway menuju Lebak Bulus, melewati Harmony. Dan di Harmony, kami berpisah. Sampai berjumpa lagi di mana saja, teman Jakartaaaaaaa… Selamat melanjutkan perjalanan, dan terima kasih banyak atas kebaikannya.

Perjalanan busway dari Harmony menuju Lebak Bulus lumayan lama. Sampai satu jam, sekitar.   Sempat di setengah jam pertama, aku berdiri. Cukup lama, bukan? Ya, karena tidak kebagian kursi, ceritanya. Namun di setengah perjalanan berikutnya, menjelang Pondok Indah, ada kursi kosong dan banyak. Sehingga aku dapat bernafas lega, lalu duduk manis hingga pemberhentian busway di Lebak Bulus.

Dari pemberhentian busway, aku dan seorang penumpang lainnya, kami jalan kaki menuju terminal. Setelah bertanya, tentu saja.

Tidak lama menunggu di terminal Lebak Bulus, akhirnya bus Primajasa datang dari arah kanan (atas). Bus berwarna merah ini, mengajakku serta ke Bandung. Selanjutnya, kami pun pulang ke Bandung. Di dalam bus Primajasa, aku duduk di samping teteh-teteh cantik, dan kami pun sempat berfoto bersama. Di bandung, kami berpisah di terminal Leuwi Panjang.

🙂 Begitulah perjalanan liburan lebaranku dua hari di dua kota, bertemu banyak orang baru dan tak disangka. Beliau baik dan ramah padaku. Beliau menjawab tanyaku dan memberi petunjuk. Semoga beliau semua mendapat kebaikan di mana saja beliau berada, aamiiin.🙂

***

Hikmah dari perjalanan :

*) Gemar bertanya
*) Enjoy your time
*) Semoga liburan kita lebih sering, yaa. Karena berlibur itu menyenangkan
*) Bertemu dengan orang-orang baru, adalah citaku yang menjadi kenyataan
*) Bersyukurlah selalu, Allah Maha Tahu Yang Terbaik untuk kita.
Wallaahu a’lam bish shawab.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s