Mari berbenah menata langkah agar lebih terarah menuju Allah. Yah, karena terkadang kita lengah dan tidak menyadari kekhilafan diri. Kita terkadang lupa bahwa ternyata kita lemah tanpa pertolongan Allah.

Bahkan, kita sebenarnya bukan siapa-siapa di hadapan Allah, bila saja kita bukan hamba-Nya yang bertaqwa. Yach, inilah ujung dari perjalanan kita di dunia ini, teman. Untuk menjadi hamba Allah yang shaleh/shalehah, mencintai-Nya dan dicintai oleh Allah. Intinya adalah bertaqwa kepada Allah. Nah, untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa, tidak mudah ternyata, teman. Sungguh tidak mudah. Mengapa?

Karena, di sepanjang perjalanan kita dalam melangkah menuju taqwa, sangat banyak godaan, ujian dan cobaan yang akan kita temui. Sungguh, keimanan dan keyakinan yang paripurna lah yang akan meneguhkan langkah-langkah kita untuk terus menjejak istiqamah. Berbenah dan membedah lagi niat, adalah juga cara untuk mengistiqamahkan diri. Yah, semenjak semula kita perlu ingat, dalam rangka apakah kita ada di dunia ini?

Engkau bisa menjawab, bahwa eksistensi kita di dunia adalah sebagai khalifah, yah tepat sekali teman. Dan sebagai khalifah apakah langkah-langkah yang perlu kita tempuh? Karena khalifah bukanlah seorang yang biasa-biasa saja, namun ia adalah hamba-hamba Allah yang bertaqwa. Khalifah adalah hamba-hamba Allah yang menjadi wakil Allah di muka bumi ini. Agar bumi menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditempati, bersamanya. Sehingga ibadah pun menjadi lebih mudah, aktivitas pun menjadi semakin berkah. InsyaAllah.

Alhamdulillah, bersyukurlah kita yang hingga saat ini masih Allah beri perhatian berlebih. Salah satunya adalah dengan kesempatan yang kita miliki saat ini. Kesempatan untuk berbenah dalam langkah.

Kesempatan untuk menghirup segarnya udara yang bersemilir hingga menepi di pipi. Kesempatan untuk menyaksikan indahnya langit biru siang hari dan kerlipan bintang malam hari. Subhanallah, rembulan purnama malam hari, semoga kembali mengingatkan kita, teman, bahwa ada hikmah yang ia pesankan pada kita. Untuk tak henti bersyukur atas nikmat mata ini. Sehingga dengannya kita masih dapat melihat.

Untuk nikmat telinga yang Allah titipkan pada kita, sehingga kita masih dapat mendengar detak jam di dinding dan merdunya kicau beburung pagi hari. Alhamdulillah, maka bersyukurlah setiap waktu. Ketika kita masih mempunyai kesempatan untuk menggerakkan bibir ini bertasbih memuji-Nya, lalu tersenyum bahagia bersamanya. Ah, sungguh indahnya bersyukur seperti ini, teman. Syukur yang semoga menambah nikmat dari-Nya lebih banyak lagi, karena janji Allah demikian. Yakinlah, percayalah. Allah senantiasa menambah nikmat-Nya bagi hamba yang bersyukur. Maka istiqamahlah dalam syukur, insyaAllah masa depan cerah akan engkau jelang, hari ini nan gemilang sedang engkau jalani. Bersyukurlah…

Bersyukurlah bila hari ini engkau sedang berjalan kaki, tidak seperti yang lainnya, bermobil, bermotor dan bahkan memiliki jet pribadi untuk pergi ke mana pun ia mau. Bersyukurlah seraya menggerakkan kakimu dengan senyuman. Melangkahlah seraya memperhatikan rerumputan yang melambai ke arahmu. Mereka turut tersenyum bersamamu, teman.

Bersyukurlah… sekali lagi. Karena tidak semua orang mempunyai kesempatan yang serupa denganmu. Ya, mungkin beberapa dari mereka sedang terbaring saat ini di rumah sakit sehingga tidak dapat berjalan. Meskipun beliau masih bersama kaki-kakinya. Ya, bersyukurlah, bersemangatlah melangkah lagi. Dan tetap menjaga harapanmu. Jaga harapan terbaikmu, tata langkah terindahmu. Dan jangan lupa, bersyukurlah (lagi).

Bersyukurlah bila hari ini engkau masih bisa bersama dengan keluargamu di hari nan fitri. Bersyukurlah, saat keluarga berkumpul semua untuk saling bersenyuman. Bersyukurlah, karena tidak semua orang mempunyai kesempatan serupa denganmu. Maka hayatilah kebersamaanmu itu, dengan bersyukur (lagi). Karena beberapa di antara teman-temanmu mungkin, beliau tidak dapat bersama dengan keluarga tercinta.

Karena masih ada amanah yang beliau selesaikan, di tempat lain, misalnya. Maka bersyukurlah dengan syukur terbaikmu, saat ini.

Bersyukurlah bila saat ini engkau masih bisa makan walau hanya dengan nasi putih berbalur garam dan atau lauk seadanya. Bersyukurlah, karena saat ini, ternyata webada teman-temanmu di tempat lain yang belum dapat melihat sebutir nasi untuk ia nikmati, karena keterbatasan yang menghampiri. Ya, bersyukurlah, karena walau bagaimanapun juga, Allah selalu memperhatikan-Mu. Allah senantiasa ada bersamamu, untuk memperhatikan reaksimu atas ketentuan-Nya. Apakah engkau masih bersyukur dengan kondisi apapun? Ah, engkau berkata, memang tidak mudah untuk bersyukur, namun coba lah teman. Cobalah engkau pasti bisa. Yaa…😀

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s