Mempunyai kenangan tentang mu, aku suka. Karena bersamanya ku dapat melanjutkan langkah-langkah lagi. Saat ku lelah di jalanan ini, ku berpaling sejenak untuk melihat padamu. Ya, engkau yang masih tersenyum, kembali mensenyumiku. Senyuman tulus dari hati, sampai ke hatiku. Ai!. Aku suka mengenang seperti ini.

Hai, kenangan. Cukup sejenak saja melihatmu, sekejap saja berpaling padamu. Karena engkau sudah berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Engkau telah menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa ku rengkuh lagi, meski sekejap. Tak akan pernah ku raih lagi, walau sebentar. Cukup. Cukup. Dengan mengingatmu saja, aku sudah bahagia. Sehingga engkau seakan menjadi pemandu sorak bagiku saat melanjutkan perjuangan ini. Hiii, terima kasih yaa, kita pernah bersama.

Kenangan. Entah bagaimanapun rupamu, engkau bukan yang utama. Namun hanya sebagai pewarna langkah-langkahku berikutnya. Meski secantik apapun rupamu, engkau tidak nyata. Ah. Baiklah kiranya, ku menepikanmu, dan kemudian menjejakkan kaki di kenyataan hari ini. Untuk ku ukir hari ini dengan lebih baik dan ia pun akan menjadi kenangan berikutnya yang lebih indah, untuk ku kenang.

Oiya, jangan cemburu, yaa. Karena kalian akan menjadi sama, kelak. Saat ia pun menjadi kenangan yang sesungguhnya. Wahai, alangkah indah kiranya, bila banyak kenangan yang berteman kenangan lainnya, yaa.

Saat tak ada yang bisa ku sapa, atau pun yang menyapaku, maka ku sapa hati, ku sapa diri. Ku cengkeramai jiwa dan segenap bagian di dalam diri ini. Sehingga kesendirianku pun berarti, bersama kami saling melengkapi. Termasuk kenangan yang pernah kami alami bersama di kala sunyi menyapa. Ahaa! Aku sering tertawai diri, bila ku ingat kenangan kami. Kami yang gemar sendiri, kami yang tidak mudah menyampaikan suara hati, kalau tidak begini.

So, bila suatu hari engkau bertemu dengan kenangan kami, teman. Lalu engkau bercakap-cakap dengannya, maka baiklah engkau menganggap sedang bercakap denganku. Karena semua adalah tentang kami. Kami yang sering kali bersama untuk bercanda, tertawa, terkadang menitikkan bulir bening permata kehidupan, bersama. Bahkan untuk bahagia, kami tidak jarang mengabadikannya juga. Sehingga, bila suatu hari kami ingin mengenangnya, maka kami segera menyapanya, lagi. Sebagai salah satu bentuk penghargaan kami pada langkah-langkah kami.

Mentari. Terkadang kami menamai diri sebagai mentari. Karena kami ingin menjadi berarti dengan menerangi. Walaupun tidak akan pernah menjadi mentari, setidaknya, kami pernah bermimpi menjadi jalan cahaya bagi sesama. Ah. Aku dan mentari, adalah sahabat sehati yang senantiasa akan terus bersama sampai nanti. Karena kami adalah bagian yang tidak terpisahkan lagi, semenjak kami berkenalan, bersama, hingga tercipta kenangan.

Oiya, mungkin engkau akan bertanya, mengapa kami bersama? Harus mentari? Tidak yang lainnya, seperti pepohonan atau bebungaan, misalnya? Atau sungai yang mengalir bahkan angin yang bersemilir? Atau langit yang berwarna biru, atau pegunungan yang menjulang tinggi nan kokoh? Aku punya kisah tentang kami.

Mentari, adalah bagian lain dari diriku. Termasuk mereka yang ku temui dalam perjalanan yang ku tempuh dalam hari-hari. Bila suatu hari ku berjumpa dengan sesiapa saja yang penuh inspirasi, bahkan sampai membuatku segera berekspresi luar biasa, maka layaklah ia menjadi mentari di dalam hati. Pun, sesiapa saja yang tetiba membuat wajahku berseri-seri karena tercerahkan, aku segera menyematkan mentari untuk nya. Ah… karena aku yakin, mereka berharga, kaya sinar dan bermakna bagi kehidupan. Semoga tidak hanya bagiku, namun siapapun yang ditemuinya, mengalami kenangan yang sama denganku. Oiya, siapakah mentari di hatimu, teman? :d

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s