Harta, pangkat dan jabatan hanya titipan saja. Maka, kita perlu ingat senantiasa, bahwa pada saatnya tiba, semua akan kembali kepada pemiliknya yang sejati. Sehingga amanah yang saat ini kita emban, jagalah ia sebaik-baiknya, dengan melakukan yang terbaik bersamanya. Agar, kelak saat ia meninggalkan kita atau pun kita yang menyerahkan pada yang berhak atasnya, kita dapat melepasnya dengan senyuman. Karena selama membersamai, kita telah mencipta kesan terbaik untuknya.

Harta, pangkat dan jabatan, jangan pernah berbangga dengannya. Karena ia tidak abadi, hanya sementara. Sehingga tidak perlu kita merasa memilikinya. Akan tetapi, ia adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan kelak. Ah, sudah sejauh apa kita mengemban amanah yang kita jalani saat ini?

Saat kita masih mempunyai waktu hari ini, hayo teman, kita bergegas. Bergegas melangkah, bergerak dan berjuang di bidang yang kita tekuni saat ini. Untuk menciptakan jejak-jejak terbaik kita. Sebelum ketetapan-Nya tiba, kita tidak lagi dapat melangkah. Sehingga, ketika waktu itu tiba, kita dapat tersenyum sumringah, mengenangkan segala lelah dan jerih payah. Karena semua berakhir sudah.

***

Ku kutip juga sebuah pesan yang dititipkan teman, beberapa saat setelah ku simpan catatan singkat ini di draft. Mereka senada, maka ada baiknya mereka berteman, kan yaa.😀 ::

"Makna Sebuah Titipan"

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku bahwa : Sesungguhnya ini hanya titipan. Bahwa mobilku hanya titipan Allah, bahwa rumahku hanya titipan Allah, bahwa hartaku hanya titipan Allah, bahwa putraku hanya titipan Allah.

Tetapi mengapa aku tak pernah bertanya.. mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini… ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku…? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya…. ketika diminta kembali..

Ku sebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita….

Ketika aku berdoa.. ku minta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku. Aku ingin lebih banyak harta. Ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan. Seolah semua ‘Derita’ adalah hukuman bagiku… Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika..

Aku rajin beribadah.. maka selayaknyalah derita menjauh dariku dan nikmat dunia kerap menghampiriku.. Ku perlakukan Dia seolah ‘mitra dagang’ dan bukan Kekasih… 😭 Ku minta Dia membalas ‘perlakuan baikku’ dan menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku…

Gusti…. padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja." [WS Rendra]

😊😊😊 🌹😊😊😊

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s