Baterai. Ya, saat ini kita berbagi tentang baterai. Temanya adalah energi. Energi yang ada pada baterai hapeku pernah 94%. Ini karena aku baru saja mengisi ulang energinya, hingga 100%. Namun ternyata sudah 94% lagi. Karena memang, aku menyalakannya dan melakukan aktivitas bersamanya. Baik melakukan telepon, mengutak-atik aneka tampilan yang ada di hapeku, mau pun hanya mengedit foto atau hanya baca-baca saja. Ya, dengan menggunakannya terus menerus, maka baterai hape pun berkurang persentasenya.

Baterai pun bisa berkurang energinya bila digunakan terus menerus. Dan kita perlu mengisi energinya lagi, bila kita mau menggunakan.

Seperti halnya baterai yang mengalami penyusutan, demikian pula adanya dengan energi kita. Ya, kita. Karena kita bukanlah sumber energi seperti hal nya matahari. Kita bukanlah sumber cahaya sebagaimana matahari yang bersinar. Ya, karena kita hanya seonggok daging dan tulang yang akan mudah rapuh, teman. Bila kita tak tahu, bahwa ternyata ada bagian terpenting dari diri kita yang perlu kita isi ulang. Di manakah bagian tersebut? Sudahkah kita menemukannya?

Hai. Tanpanya, kita memang tidak akan dapat melakukan apapun. Ya, temukanlah sumber energi yang butuh penambahan itu. Carilah di dalam diri kita, bagian yang memerlukan isi ulang. Kalau kita memang mau melanjutkan kehidupan ini dengan sebenarnya. Ya, agar kita tahu, bahwa kita perlu menambah energinya.

Adalah ia sepotong hati, selembar jiwa yang berada di dalam diri. Ia adalah jalan berbagi. Ia merupakan bagian diri. Walau tak mudah memang, menemukannya, namun usahailah teman, untuk menjadikannya sebagai perhatian penting. Terus temukan hatimu, segera genggam ia dan perhatikan kondisi terakhirnya benar-benar. Apakah energinya masih seratus persen bahkan lebih, saat ini? Atau malah sudah berada pada titik kritis di bawah nol?

Akhir-akhir ini, benar ku menemukan, kondisi jiwa dan hatiku mulai menge-naskan. Ai! Bahkan apabila dipresentasekan, mungkin bukan 1%, namun jauh di bawah minus. Astaghfirullaahal’adziim. Lalu dengan kondisi begini, bagaimana aku akan melanjutkan perjalanan hidup? Bagaimana aku melangkah lagi? Apa yang akan terjadi, kalau masih ku paksakan berdiri, melangkah lagi? Apakah yang akan terjadi, bila energi yang tak lengkap sempurna dalam diri ini? Namun ragaku masih ada di bumi.

Mencari ku mencari. Menemukan asupan energi. Setidaknya agar ku mampu bertahan. Agar diri ini masih berarti. Bukan hanya seonggok daging bersama tulang yang menemani. Namun masih ada energi yang berarti di dalamnya. Energi yang perlu ku isi terus, saat persentasenya mulai berkurang.

Mencari ku mencari. Rajin mencari tak kenal lelah. Jiahhh. Haha.😀 **)pencariantanpabatas.

Bagi yang bergerak, maka ia akan sampai di tujuan. Sesiapa yang mencari akan menemukan. Bagimu yang percaya dan yakin, maka engkau akan menemukan keyakinan. Lalu, untuk engkau yang berjuang walau sampai habis-energimu, maka ada saatnya mengisi ulang. Jangan lupa, teman… mesin pun bisa aus saat terus-terusan digunakan. Apalagi jiwa dan raga kita. Ia pun butuh perhatian.

Perjalanan panjang kehidupan masih akan terus ada, bila jiwa kita masih membersamai raga. Berbeda hal nya kalau ia sudah lepas ke alam lain. Okeh? Mengerti? #yanipunpernahlelah

Energi jiwa perlu kita perhatikan benar-benar. Energi nya harus kita cek sering-sering. Karena ia pasti menyusut seiring dengan waktu yang kita jalani. Yuupz! Memang seharusnya engkau menjadi dokter bagi jiwamu. Sebelum kondisinya semakin kritis, segera check up, check it dan check out. Rajinlah… rajin memperhatikan kondisi jiwa. Karena ia perlu perhatian terbaik kita.

Bukankah saat raga kita sa-ki-t, kita bersegera mengunjungi dokter, lalu dokter bertanya, tentang apa yang kita rasa terlebih dahulu. Sebelum akhirnya dokter pun memeriksa kita dan memberikan obat?

Ah, karena tidak serta merta dokter tahu pe-nyak-it yang kita de-rita, bukan? Nah, begitu pula halnya sang jiwa. Tanya ia lebih sering, tanya lagi dan lagi. Apakah ia sedang full energi, atau sudah mendekati titik nol? Ini berarti kita perlu mengisinya lagi, sebelum ia benar-benar kehabisan energi. Karena kita melangkah bersamanya. Kita berjuang dengan jiwa. Jiwa yang sehat dan bugar penuh energi, maka ia akan bergerak lebih cepat, tepat dan cermat. Jiwa yang seperti mentari senantiasa penuh energi. Sehingga ia mampu berbagi. Walau memang, tak serta merta dan selalu full, namun saat kita mau peduli kondisi terakhirnya, maka kita mau bangkit lagi, untuk mengisinya.

Jalan-jalan lagi. Jangan-jangan lu-pa lagi. Energi perlu terus terpantau. Ingat, kita tak pernah sendiri, wahai diri. Ada sumber energi yang siap berbagi, saat kita mau mengusahai untuk mengisi energi jiwa lagi. #freshmomentsaatini

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s