Bunda…
Engkau pelita di kegelapan. Menyayangi tak berkesudahan. Selalu paham dan penuh pengertian. Meski jauh di mata, masih terasa hangat pelukmu nan penuh cinta.

Ayah…
Engkau pohon rindang nan meneduhi. Kala mentari bersinar terik. Namun terasa sejuk ketika berlindung dalam dekapmu. Kini, walau tak lagi di pangkuanmu, namun masih ku ingat kekar lenganmu. Memangkuku dan mengelap titik keringat di puncak hidungku.

Bunda…
Aku rindu indah senyummu. Penenang hati, pencerah pikir. Pendamai jiwa, penggerak raga. Sungguh percaya ku percaya. Engkau kekasih-Nya yang sesungguhnya.

Ayah…
Tanpamu siapalah aku. Aku yang bukan siapa-siapa. Namun denganmu aku pun ada. Segala jerih payah dan upayamu, ku ingat selalu di tarikan nafasku. Hingga tak pernah sedetik saja, terlepas ingatan ini darimu.

Ayah… Bunda…
Engkaulah mentari di hatiku kini. Saat jiwa ku membeku, doamu hadir melelehkannya. Akankah ku siakan semua itu?

Ayah… Bunda…
Sungguh, belum terbalas tulus jasamu. Belum terbayar kaya hatimu. Belum tertukar kasih sayangmu. Sungguh, aku malu bila tak tahu diri. Hiks.

Ayah… Bunda…
Gigih dan giat engkau berjuang. Bela-belain, mati-matian. Hingga banting tulang tak kenal waktu. Demi menafkahi kami anakmu. Sungguh, bagaimana cara membahagiakanmu? Aku malu masih bertanya; namun aku perlu tahu. Walaupun tak akan pernah mampu, terucap melalui nada suaraku. Namun sangat ingin ku melihat kebahagiaan memancar pada wajahmu. Aku rindu senyuman Ayah, aku rindu tatapan teduh Bunda.

Ayah…
Kelak saat kita berjumpa, ingin ku ceritai Ayah tentang dunia. Dunia yang Ayah lebih mengerti dengannya. Karena sudah lama Ayah bersamanya.

Pun, Ayah… Aku ingin berkisah tentang langkah-langkah. Agar ku dapat melihat sumringah di wajah Ayah. Karena Ayah sungguh tak mengerti, apa yang aku kisahkan. Walau begitu Ayah, aku masih ingin berkisah. Berkisah tentang Ayah lainnya di sini. Beliau yang ku bertemu sore hari. Saat ku sedang melanjutkan langkah. Ayah yang memangku seorang putri, putri nan masih merah. Wahai Ayah, begitu pula adanya Ayah, saat aku kecil dulu. Ayah… Aku rindu masa itu. Walau ia tak akan pernah kembali. Terima kasih Ayah, untuk menitipkan kenangan termanis di ingatanku. Tentang masa kecil dulu.

Bunda…
Kelak saat kita kembali bertemu. Ku ingin berbagi dengan Bunda. Berbagi cerita tentang dunia. Dunia lain di sini. Dunia yang bukan ku alami, namun ada yang menceritaiku. Seorang teman di kota ini.

Wahai Bunda, keramatnya engkau, sungguh ku percaya. Ya, karena seorang teman bercerita, ia mengalami sebuah kisah. Tentang ucapan dari Ibundanya. Betul… betul… Bunda, aku awalnya tidak mudah percaya. Namun akhirnya kami tertawa bersama. Mengenangkan keagunganmu wahai Ibunda. Ya, kami menertawai diri yang bo-doh-ini. Sungguh, kami mohon doa Ibunda, doa terbaik di dunia hingga akhirat bahagia selamanya.

Wahai Ibunda, sejak saat itu ku percaya, walau sepatah kata Ibunda, mampu mengubah dunia ananda. Sungguh, sungguh, Ibunda, mohon ridha dan restu Bunda, untuk langkah-langkah Ananda. Agar selamat dan sentosa. Wahai Bunda, mohon doa yang terbaik. Walau melalui ingatan dan pikir, apalagi melalui ucapan di bibir. Kami memohon wahai Ibunda, sebaik-baiknya doa dan pikir. Karena engkau adalah bagian dari penentu takdir, wahai Ibunda. #mohonmaafataskhilafsejaklahir…

***

Sejak aku mendengar langsung dari pengalaman seorang teman, aku semakin yakin akan manjurnya lisan Ibunda. Ya, untuk hanya berbaik pikir, untuk senantiasa menjaga dzikir. Untuk selalu bersangka baik pada takdir. Semoga, semoga, kita senantiasa mau dan mampu memintal doa terbaik dari beliau, Ibunda kita, yaa. Karena Ibunda adalah kunci pintu surga kita. Sedangkan Ayahanda pun sama. Maka, muliakan beliau berdua. Karena Ayah dan Bunda yang menjadi jalan kita terlahir ke bumi. Sungguh, beliau adalah semulia-mulianya hamba Allah untuk kita. Ayah Bunda, terima maaf kami sejak lahir, hingga di hari akhir hidup di dunia. Semoga kelak di yaumil akhir, kita kembali bersenyuman, sebagaimana indahnya senyuman Ayah dan Bunda yang terukir semenjak ku lahir.

"Ya Allah, tolong jaga dan lindungi Ayah Bunda kami, saat penjagaan kami belum sampai pada beliau. Bahagiakan mereka berdua, saat kami belum mampu melakukan hal-hal yang membahagiakan beliau. Ya Allah… titip salam buat Ayah Bunda. Salam cantik dan penuh cinta. Di bulan Mulia, kami ingin menjumpa beliau, kami ingin melihat rona bahagia di wajah beliau yang beranjak usia. Ya Allah, sebagaimana beliau mengasihi dan menyayangi kami sejak mula, bantu kami dan izinkan kami untuk menjadi buah hati yang tahu membalas budi. Aamiin ya Allah."

***Buat semua Ayah dan Bunda, aku salut. Semoga Allah membalas kebaikan beliau semua, dengan binar ceria senyuman di wajah dan kerling lucu dua bola mata permata jiwa.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s