Pagi hari duduk sendiri. Di atas atap menunggu mentari. Hai, belum terlihat cerah sinarnya. Namun sudah ada tanda-tanda bahwa ia segera hadir. Lihat. Lihatlah teman, ke langit timur. Di atas sana jauh sekali, terlihat susunan awan nan rapi, indah dan menawan. Aku yakin, sebentar lagi mentari pagi akan hadir, membawa senyuman terbaiknya. Ya, hanya sebentar lagi. Asyiiiik!😀

Hai, histeria ku menanti. Menanti mentari yang akan bersinar lagi. Mentari hati penerang hati. Mentari hari penenang hati. Mentari nan menghangatkan kala diri menggigil di sini. Mentari yang penuh keramahan, tak selalu bersinar semau diri. Namun sesekali menyelinap di balik awan, untuk menetralisasi suasana bumi. Mentari, ia sangat paham sejak mula keberadaan diri. Ia mengerti kapan saja harus bersinar terik di bumi, kapan waktunya menyejukkan lagi. Hihii… Makanya aku sangat suka mentari, teman. Karena ia mudah mengerti. Mentari yang tersenyum, lagi dan lagi dalam hari-hari.🙂

Bbbrr… Kesejukkan yang menemani sejak tadi, terasa sangat saat ini. Kesejukkan yang berkepanjangan membuat diri semakin menggigil. Ai! Alam nan sejuk ini semakin membuatku harap, mentari hadir segera. Mentari yang membawa kehangatan, bersama sinar yang ia bawa. Sinar diri yang sejati. Sinar untuk menyinari.

Perlahan, angin yang bertiup pun menepi di pipi. Membuat wajahku sedingin es. Mengikuti hati ku yang seperti itu pula. Ai! Aku tak mengerti bagaimana cara mencairkannya dengan sendiri. Maka mentari ku harap segera hadir. Agar kehangatan pun mengalir hingga dari bagian terdalam diri ini, sekeping hati. Walau belum saat ini, namun ku yakin sebentar lagi. Ya, sebentar lagi, hanya beberapa saat. Maka bersabar menanti adalah pilihan yang ku yakini terbaik untuk saat ini. Walaupun nanti ternyata, tidak semestinya harus begini. Aku akan menjadikan sebagai pengalaman.

Sampai saat ini, keadaan alam masih sama. Bersemilir angin kembali menepi di pipi, lagi dan lagi. Seiring dengan gemuruh deru mesin pesawat terbang yang melintas di atas sana, menuju arah timur. Yuhu, semestinya ia sedang menjemput mentari pagi kah? Agar segera meninggi lalu mensenyumiku yang sedang menanti. Ah… aku hanya berimajinasi. Setidaknya agar menggigilku tak lagi. Karena masih ada harapan di dalam hati. Harapan untuk hadirnya mentari yang tersenyum dari tepi langit timur.

Masih setia ku menanti, di sini. Di atas atap pagi ini. Seraya memperhatikan awan berbaris rapi sekali. Ia yang mulai memutih dan semakin ramai. Wahai, mentari. Cepatlah cepat tunjukkan diri dan senyumanmu wahai mentari. Karena waktuku tak lama lagi. Hanya beberapa menit di sini. Sedangkan pesawat yang sudah tiga ekor, melintas di depanku, wahai mentari. Aku hanya dapat menyaksikannya dari sini.

Hanya. Hahaa.😀 Ah. Makanya aku tak sukai menunggu seperti ini. Menunggu yang membuatku ingin berkreasi. Mengolah wajah agar tak manyu-n lagi. Mengajak hati agar tersenyum semenjak di awal hari. Membawanya menjelajah alam bersama kaki-kaki ini. Memberi pikir kesempatan untuk membuka lebih luas lagi. Ya, agar waktu-waktu yang berharga tak semudahnya pergi dan berlalu, hanya dengan menanti. Iiii… Akan tersia kiranya, yaa. Tanpa ada hal berarti yang ku lakukan tanpa berarti, meskipun menanti mentari pagi. Mentari pagi yang jelas-jelas akan hadir, sebelum masa baktinya berakhir.

***

Maka saat ini ku bertekad lagi. Ku azzamkan yang kuat di dalam hati. Bahwa menanti tak lagi-lagi ku lakoni. Walau akan dan pasti akan menanti lagi, namun aku selingi dengan hal yang berarti. Ya, seperti halnya saat ini. Menanti mentari pagi ku di sini. Untuk ku saksikan senyumannya lebih dini. Ada baiknya membaca alam-Nya (awan yang berbaris menawan), membaca kalam-Nya (al Quran yang menjadi petunjuk hidup kita).

Alhamdulillah, akhirnya si dia datang jugaaaaaa. Semangat pagiiiii mentarii. Lama ku menantimu, bahkan sampai saat ini. Aku senang dan bahagia menyambutmu. Cerahi hariku dengan senyumanmu, hangatkan diriku dengan sinarmu, damaikan hatiku dengan kehadiranmu di hadapanku, terangi pikirku dengan inspirasimu.

Subhanallah… Engkau pun tersenyum, engkau mentari di hatiku, mentari pun tersenyum. Terima kasih yaa mentari, untuk masih bersinar hari ini. Aku belajar bersyukur dalam kebersamaan kita, ku masih dan akan senantiasa bersabar saat engkau belum bersinar. Yakin dan percayalah, aku setia dalam syukur dan sabarku, apakah engkau juga? Marii kita belajar bersama-sama. Bersama-sama kita belajar merangkai syukur dan sabar, yuuu’.

***

Moment pertama sangat berkesan tak terlupakan.
Pertemuan pasti memesankan kita untuk bersyukur dengan keadaan.
Kehadiran adalah kebersamaan.
Penantian melatih kesabaran.
Sedangkan kehidupan adalah meneruskan perjuangan. Let’s go! Kita melangkah lagi, teman bersama senyuman secerah sinar mentari.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s