Jika lela-h ragamu melangkah, maka rehatlah sejenak. Lalu nikmati waktu yang ada untuk mendapatkan lagi energimu yang sempat berkurang. Ya, karena setelah rehat engkau perlu dan harus melanjutkan perjalanan lagi. Dengan penuh semangat, melangkahlah lagi. Setelah energimu penuh.

Kalau ragamu lel-ah, jangan paksakan melangkah. Karena akan membuatmu tum-bang di jauhnya perjalanan. Tentu hal itu tidak engkau inginkan, bukan?

***

Hari kemarin, masih dalam kondisi belum sepenuhnya pulih, aku berjalan. Ya, jalan-jalan untuk mendapatkan lagi udara segar di luar sana. Jalan-jalan untuk menjemput kesehatan yang sempat pergi. Iya, karena aku tak ingin tak sehat. Karena jiwaku akan senantiasa kuat, meski sesungguhnya raga ku mulai mele-mah. Ah… Semua pasti ada hikmah.

Selangkah demi selangkah, aku berjalan. Untuk menemukan inspirasi sekaligus penyegaran pikiran. Karena dengan meneruskan langkah, ku yakin dapat sampai ke tujuan. Bersama dua kaki yang ku kuat-kuatkan, akhirnya aku tak sanggup lagi berjalan. Setelah jauh berkeliling, dengan raga yang tidak sepenuhnya bersama kesehatan. Hingga akhirnya, rehat sejenak di halte/penantian bis adalah pilihan. Asyiknyaaaaa… selonjoran, seraya mengabadikan perjalanan. Hu um. Semua ini akan menjadi kenangan, bisikku.

Saat aku sedang selonjoran di sebuah bangku besi di halte, tiba-tiba di ujung kaki ku di tepi jalan tergeletak sebuah layangan. Layangan segi empat berbentuk tak karuan lagi, alias sudah robek sedikit dan berdebu. Ialah layangan yang sudah pernah digunakan, tentu saja. Lalu setelah ia tidak berfungsi lagi, karena sudah tidak punya keseimbangan, maka ia pun ditinggalkan. Ia dicamp-akkan begitu saja di pinggir jalan. Tanpa pernah diketahui lagi, siapakah gerangan yang menciptanya dan pernah menggunakan. Ah. Sungguh kasihan. Karena akhir dari keberadaannya sungguh mengen-askan. Aku bertanya dengan kondisi ini, mungkinkah karena ia tidak bernyawa? Tak punya jiwa, dan tanpa perasaan? Sehingga begitu mudah ditinggalkan? Mungkin saja.

Di lain sisi, melihat kondisi layangan di pinggir jalan, aku kasihan. Di sisi lain, aku mempertanyakan. Dan dalam kesempatan berikutnya aku pun mempedulikannya. Sehingga ia menjadi bagian dari kisah perjalananku. Ia yang ada di dekatku dan sempat ku perhatikan, padahal ia hanya selembar layangan yang tak bertuan. Yah… Bagaimana bisa?

Ya, bisa-bisa saja, bukan?

Karena apapun yang ada di sekeliling kita, maka ia dapat menjadi jalan hadirkan tulisan. Apapun. Siapapun. Kapanpun. Itulah yang namanya inspirasi, buah pikiran dan kumpulan pengalaman. Semoga menjadi bahan pelajaran bagi sesiapa saja yang menemukan hikmah dari sebalik tulisan. Maka, tentu sangat mudah untuk menghadirkan tulisan, teman. Sangat mudah. Dan aku pun membenarkan apa yang pernah engkau sampaikan padaku, dulu, saat kita bertemuan. Untuk itu, saat ini aku hanya ingin mengembalikan ingatan kepadamu, ingatan terhadap teman seperjalanan. Terima kasih yaa, untuk memberikan inspirasi di waktu yang telah lama berjalan. Walau begitu, maknanya akan selalu ada, sepanjang zaman. Salah satunya adalah makna yang ada di balik tulisan.

Berbagilah. Namun engkau tidak akan dapat berbagi tanpa jiwa yang ada padamu. Begini inti pesan yang pernah engkau sampaikan kepadaku walau tidak langsung. Pesan yang ku ingat selalu saat akan merangkai tulisan. Pesan yang ku renungkan benar-benar. Oleh karena itu, aku perlu mengajak jiwa untuk merangkai tulisan. Maka, selangkah demi selangkah ku berjalan. Meski ragaku bilang le-lah… mungkin karena ia butuh inspirasi tambahan, kali yaa. Makanya, aku mengajaknya berjalan-jalan pada hari kemarin itu, untuk penyegaran jiwa.

Dan hasilnya adalah:: Tralalaaa…😀 gempita rasa kembali ku alami. Ceria pikir ku kantongi. Setelah jauh berjalan untuk menemukan inspirasi. Meskipun ujung nya kakiku bilang, ia lel-ah. Maka, terpa-ksa harus naik bis untuk lebih cepat sampai di tujuan. Hohooo. Lalu setelah bis datang, maka duduk manis di dalamnya seraya menikmati pemandangan di perjalanan. Ku rasakan semilir angin menepi di pipiku yang mulai dingin. Karena ia terlalu lama di alam terbuka.

Sekembali dari perjalanan, alhamdulillah, ragaku mulai baikan. Ber-syin-bers-in yang sempat menyapa semenjak kemarinnya hingga malam pun berlalu. Sepertinya ia nyangkut dan tertinggal di atap halte dech. Atau di ujung ranting pohon pinus yang sempat ku berteduh di bawahnya? Wallahu a’lam.

Dan hikmah yang dapat ku petik dari perjalanan adalah, ia dapat mengembalikan kesehatan. Meskipun untuk melanjutkan perjalanan, tidak dapat dipa-ksakan. Jika engkau le-la-h saat berjalan, maka rehatlah sejenak dulu. Untuk mengumpulkan lagi energimu yang sempat pergi. Oke?

Oiya, di dalam perjalanan atau rehatmu, jangan lupa tersenyum yaa, untuk menghiasi wajahmu.😉 Nun di seberang sana, jauh atau dekat denganmu, sedang ada yang menanti senyumanmu, teman. Senyuman terbaik dari hati. Senyuman yang akan disambut oleh hati yang tersenyum. Ini sungguh berkesan, bukan? Berkesan yang memesankan.

***

Oiya, kembali ke kondisi layangan tadi, tentu kita tidak ingin sepertinya, bukan? Ketika di akhir usia dan sudah tidak dibutuhkan lagi, akan dic-ampakkan begitu saja di jalanan. Maka, mari teman, kita bangkit dan bergerak semenjak saat ini. Tidak pernah ada kata terlam-bat untuk bergiat. Tidak juga ada kata akhir untuk menambah semangat dan menyemangati. Karena selama kita masih mempunyai kesempatan untuk bernafas saat ini, maka kesempatan untuk menemukan jiwa pun terbuka lebar. Tetap semangat! Gigih berubah. Senantiasa istiqamah dan jangan lama-lama dalam lel-ah.

Bangkitlah! Bangun. Dan kemudian lanjutkan perjalanan. Apalagi kalau engkau sedang sa-kit. Semoga cepat sembuh yaa.

Adapun salah satu terapi penyembuhan yang ku terapkan ala diriku adalah: Kalau sak-it panas, maka banyak minum air putih dan jalan-jalan.😀 Maaf, bila kita berbeda pengalaman. Aku hanya ingin berbagi sedikit perhatian. Semoga, engkau pun mempunyai tips penyembuhan ala dirimu, yaa. Boleh lah berbagi, for me and others?

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s