Kita adalah satu. Satu dalam nama meskipun jiwa berbeda. Kita sama dan selamanya sama dalam persahabatan yang tercipta.

Tidak banyak yang ku ingat saat ini, tentang awal pertemuan kita. Kecuali hanya beberapa bagian saja yang tersisa dalam memori. Memori yang senantiasa berisi dengan informasi-informasi yang perlu diolahnya. Karena ia adalah pusat daur ulang informasi apapun yang sampai padanya. Sehingga terkadang aku menjadi tidak mudah mengingat. Ya, begitu adanya aku. Ingatan yang akan pergi, kalau aku tidak bersegera mengabadikannya, maka ia akan tanpa bekas.

Pagi ini, adalah jadual beres-beres dan rapi-rapi ruangan. Termasuk di dalamnya berbersih segala pernik yang mulai berdebu karena jarang ku sentuh. Dan ketika aku sedang asyik memilah dan memilih barang-barang penting, tidak penting, bahkan sampai yang tidak bagus lagi, tiba-tiba pandanganku tertuju pada selembar kertas yang dilipat persegi. Dan setelah ku buka, ternyata sebuah surat cinta dari seorang sahabat baikku di kota ini.

Karena ingin ingat lagi isinya, maka ku ambil dan ku baca sekali lagi. Selembar kertas memo berisi nomor penting. Xixiiii… Teh Inay, so sweet nyaa.😀

Aku pasti selalu ingat beliau-beliau yang berarti bagi kehidupanku. Termasuk beliau adalah Teh Inay yang super romantis. Saat ku butuh beliau ada, ketika ku minta bantuan beliau bersedia. Bahkan pada suatu hari, aku masih ingat. Beliau mengajakku jalan-jalan ke Tangkuban Parahu. Yuhuu. Sweet kannn…?

Setahun yang lalu, kami terpisahkan oleh waktu. Beliau beraktivitas di lokasi berbeda denganku. Begitu pula aku, beralih lokasi aktivitas di tempat yang belum pasti. Seingatku memang begitu. Karena entah ke mana aku akan melanjutkan perjuangan ini. Aku ingat… Saat itu, langkah terus berlanjut. Walaupun sempat ‘kehilangan arah’ namun aku mempunyai tujuan dalam hidup ini. Maka melangkah lagi dan lagi adalah pilihan utama. Sehingga tidak lupa ku ceritai engkau teman, tentang hari-hari yang penuh warna itu. Yuhuu. Sesempatnya ku sempatkan berkisah untukmu. Sesungguhnya aku sedang berkisah untuk diriku. Dari kita untuk kita, begini yakinku berkata tentang arti berbagi pengalaman diri dalam perjalanan.

Selembar kertas memo yang bertulisan masih ada di pangkuanku, kini. Lembar kertas yang bagiku sangat berarti. Karena ia merupakan salah satu pengingat bagiku. Ingatan tentang hari-hari tak terlupakan. Hari yang berarti, karena ia ku jalani dengan hati-hati.

Hati-hati, sangat hati-hati sekali ku memilih jalur yang akan ku tempuh. Jalur yang menjadi jalan sampaikan aku ke tujuan, pastinya. Jalur yang sekiranya dapat membawaku pada hari-hari yang berkesan. Gigih ku melangkah. Sehingga hampir tiada hari yang terlewat tanpa aktvitas. Iyah. Karena aku yakin, ada jalan yang membentang indah di hadapan, selagi kita punya tujuan. Begitu, teman.🙂

Bersama senyuman, ku nikmati saja langkah-langkah kaki. Langkah-langkah yang ku ingin terus berlanjut. Langkah-langkah yang terhenti sejenak, saat akhirnya ku menemukan sebuah pelabuhan, lalu menceburkan diri di dalamnya. Karena sangat dekat denganku ada sebuah kapal yang berlayar. Ya, sebuah kapal peradaban yang sedang berlayar, menyempatkanku serta. Betapa bahagianya, saat kesempatan itu tiba, seorang yang pun ada di dalamnya, berbaik hati padaku, untuk melayangkan pelampung. Aku pun ikut serta dan hingga saat ini, aku masih berada di dalamnya. Namun tidak akan selamanya, huuwwaaa… betapa menyesakkan dada, saat mengenang semua. Aku belum dapat membayangkan, ketika kelak tiba masanya, aku harus turun dari kapal ini. Untuk selanjutnya akan meneruskan perjuangan lagi, bersama langkah-langkah ini. Berkelana, mengembara di tengah jalan kehidupan yang masih belum dapat diprediksi jauhnya.

Hiks…

Aku pasti akan melambaikan tangan untuknya yang akan terus berlayar, setelah ku turun nanti. Namun semoga, sang kapal menitipkanku di lokasi terbaik dan baik untukku, aamiin. Karena bersamanya, hatiku sudah menyatu. Di ruang hatinya, di bawah atapnya, aku sering tersenyum, soalnya. Meski sesekali menitik juga airmata ini, karena terharu. Aku bersyukur dengan sepoi angin yang menepi di pipi. Aku bahagia menyaksikan pemandangan di tengah luasnya lautan kehidupan. Aku senang, saat beliau-beliau yang ku temui, mengingatkanku pada hari akhir, lebih sering. Aku tenang di atas kapal yang terus melaju. Aku yakin, mentari yang sedang bersinar terik di atas sana, pun sering tersenyum untukku.[]

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s