Bila Lelah Rehatlah Sejenak
Bila Lelah Rehatlah Sejenak

Berbekal sebatang pensil di tangan dan selembar kertas kosong, aku mulai melangkah. Melangkahkan jemari ini, aku. Menggerakkannya dengan perlahan di awal. Kemudian semakin cepat dan akan terus menambah kecepatan. Ya, seiring dengan bertambahnya ide-ide yang mengalir di kepala. Ide yang ingin segera keluar dan menelurkan buah-buah pikir. Untuk selanjutnya ku rangkai paragraf-paragraf antik tentang dunia dan kehidupan. Aish, membayangkannya tentu sangat indah. Membayangkan saat akhirnya aku mampu menghadirkan sebuah bacaan untuk pembaca. Bacaan yang bermutu, tentunya.

Namun tidak lupa, sebelum memulai menulis tadi, aku membaca doa terlebih dahulu, bismillaahirrahmaanirrahiim. Robbisrohli sodri wa yassirli amri wahlul ‘uqdatammillisaani wa yafqahul qauli. Semoga setiap baris tulisan yang terhadirkan mampu dimengerti, dan dipahami oleh sesiapapun yang menemukannya. Ya, Allah terangilah dada ini dengan cahaya ilmu darimu. Ilmu yang bermanfaat dan berarti. Aamiin.

Dalam melanjutkan aktivitas melangkahkan jemari bersama pensil di tangan, tak henti ku bertanya. Bertanya pada hati, bertanya pada pikir, bertanya pada alam. Tanya yang ku ingin agar menemukan jawabannya kapanpun. Dengan demikian, aku bukan tidak akan mau bertanya lagi tentang apapun yang aku tahu, namun semakin ku tahu, maka semakin akan sering ku mengajukan pertanyaan. Nah, begitulah manfaat bertanya. Aku akan semakin penasaran dan penasaran lagi, dengan apa yang aku belum ketahui.

Saat ini, satu pertanyaan yang ku ingin sampaikan adalah tentang kesehatan. Ya, kesehatan yang saat ini mulai menepi dari ragaku. Raga yang sedjak kemarin lusa mulai mengalami penuruan imun. Raga yang masih ku paksakan untuk melangkah bahkan berjalan. Walau tidak sanggup berlari, untuk saat ini. Makanya, jemari yang melangkah kini, menjadi pengganti diri yang membuktikan bahwa aku perlu teruskan perjuangan.

Melangkah lagi dan lagi ku seraya bertanya pada teman, “Bagaimana kabarmu di sana? Apakah dalam kondisi sehat dan bahagia?”. Alhamdulillah saat ku temukan jawaban teman dalam kondisi sehat wal’afiat. Aku pun bahagia saat beliau bahagia di sana. Namun ada waktu teman yang lain mengalami kondisi yang sama dengan ku. Ya, kurang sehat raga adanya. Lalu segera ku ucapkan semoga cepat sembuh untuk sahabat di sana. Semoga beliau segera mengalami raga yang sehat. Aamin. Karena aku merasakan sendiri, kondisi raga yang kurang sehat, tentu tidak menyenangkan. Hm, iya, betul, kann? Maka semoga teman dan sahabat di sana segar dan bugar seperti sediakala. Begini doaku terlantunkan untuk beliau di sana.

Dalam doa ku sampaikan pinta agar raga segera baikan. Bersamaan dengan mencari makna dan hikmah dari keadaan yang ku alami saat ini. Karena ada arti dalam setiap kondisi dan keadaan, tentunya. Supaya dalam hari-hari ku lebih perhatian dengan kondisi raga, jangan sampai kelelahan dalam menjalankan aktivitasnya. Pun, supaya ia lebih perhatian dengan perkembangan pikir, begini hikmah yang dapat ku petik saat ini.

Setelah menemukan arti, ku berusaha/berikhtiar dan istiqomah untuk berobat raga. Namun tentu tak lupa berikhtiar terus berusaha menata jiwa dan pikir. Agar ia senantiasa cemerlang tak berkesudahan. Karena ku pahami bahwa, sumber penyakit terkadang berasal dari pikiran yang menumpuk dan banyak sekali. So, keep our think, yaa… bisikku pada diri. Lalu, kami pun tersenyum bersama. Senyuman penuh makna sebagai tanda persahabatan yang erat. Senyuman yang ingin kami sampaikan pula pada dunia, senyuman untuk memberi inspirasi pada semesta. Senyuman yang hadir dari pengalaman yang kami dapatkan. Setelah kami mengalami, tentunya.

Selain menemukan hikmah dari kondisi kurang sehat nya raga, maka dapat juga menjadi jalan untuk introspeksi diri sendiri. Introspeksi seringkali aku lakukan, bahkan dalam kondisi sehat sekalipun. Agar, aku tahu, ada perubahan apa dengan diriku? Termasuk sikap dan perbuatan. Begitu.

Setelah introspeksi diri, ku kembali melangkah dan terus berjalan untuk menemukan ilmu dan pengalaman. Oiya, akhir pekan ini aku tidak ke mana -mana padahal liburan. Ya, aku sengaja melakukannya, bed rest full day on my room. Untuk memperoleh energi lagi di aktivitas esok hari. Dan dari aktivitas liburan pekan lalu, ku sempat mengunjungi sebuah sumber ilmu di masjid terdekat dengan tempat tinggalku saat ini. Adapun temanya adalah tentang tuntunan berpakaian dan berhijab muslimah. Adapun inti dari pengajian yang ku ikuti tersebut, adalah bahwa muslimah yang sudah berakal dan baligh, maka wajib baginya menggunakan pakaian yang syar’i.

Adapun pentingnya berpakaian syar’i bagi muslimah adalah sebagai kewajiban. Kewajiban yang harus dipenuhi sebagai jalan terjaganya ia lahir dan bathin. Ya, selain itu, supaya ia lebih mudah untuk dikenal, sebagai muslimah. Dan dengan berpakaian syar’i, juga menambah ketenangan hati bagi orang lain yang memandangnya. Hal ini merupakan pengalamanku juga. Karena aku sangat senang dan tenang melihat muslimah-muslimah berpakaian syar’i. Apalagi saat berkesempatan berkumpul dengan beliau semua dan menjadi bagian darinya. Subhanallah, aku bahagia dan senang. Kebahagiaan yang menghadirkan senyuman lagi di wajah ini. Bahagia karena aku pernah bercita demikian. Alhamdulillah. 🙂

Teman… Ini adalah catatanku untukmu. Engkau yang saat ini ada di depanku, walau pun kita mungkin tidak akan pernah bertemu dalam nyata. Namun aku bahagia, karena mempunyai kesempatan untuk berbagi denganmu. Berbagi hasil pikir dan suara hati. Catatan yang semoga engkau anggap sebagai uluran jemari hati dariku. Sehingga engkau menyambutnya dengan uluran jemari hati pula. Lalu kita bergenggaman jemari, di dalam hati. Genggaman yang semakin erat dan terus begitu, sampai nanti. Bahkan hingga kelak raga kita sudah tiada di dunia lagi. Semoga, kelak di negeri yang abadi, kita kembali bereuni dengan senyuman lebih indah menebar di pipi, Aamiin. Senyuman yang hadir karena kita kembali teringatkan akan pertemuan kita kini, di sini. Ah, alangkah bahagianya di dalam hati, dengan semua ini.

“Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waja’alna lilmuttaqina imama,” begini doa yang senantiasa terlantun di bibir ini. Doa yang ingin sangat ku alami. Doa yang selamanya akan senantiasa mengiringi perjalanan di dunia ini. Doa yang menjadi inspirasi untukku terus introspeksi diri, memperbaiki diri, dan berubah menjadi lebih baik dari saat ini. Semoga, kelak ku bertemu dengan imam dan teman-teman yang senantiasa menyemangati untuk terus bergerak dalam kebaikan. Doa yang selalu menjadi penyemangat diri untuk melangkah lagi, menuju arah yang ku impikan selama ini. Doa yang sering dilantunkan Ayah dalam shalat berjamaah kami, saat ku masih kecil dulu.

Alhamdulillah, aku bahagia saat ini. Karena satu persatu langkah kaki terus menjejak bumi dengan ringan. Seiring dengan perjumpaan kita di sini, aku yakin bahwa engkau adalah bagian dari doa-doa tersebut. Semoga, doamu juga sama yaa, makanya kita berjumpa di sini, saat ini.

Terus ku melangkahkan jemari, bersama suara yang keluar dari dalam hati. Suara yang ku simak dengan sepenuh nya. Suara yang ku ingin sampai ke padamu di sana. Entah siapa… Suara yang terus membuncah dan menambah cepat gerak jemari saat menulisi lembaran kertas yang sudah terisi sebagiannya. Kertas yang kini tidak kosong lagi, namun mulai bertaburan huruf-huruf ini. Xixiii. Hanya ingin berbagi. Semoga mewujud bunga nan mekar di taman hati, bersemi di pipi berupa senyuman.

Teman… aku sampaikan bahagia dari awal pertemuan kita, di sini. Semoga kebahagiaan ini terus berlangsung yaa. Walaupun kelak aku tidak dapat membersamaimu lagi, namun yakinlah, maknamu akan terus ada. Karena engkau telah menjadi bagian dari jiwaku yang kelak akan pergi dari dunia kita ini. Jiwa yang akan kembali ke sana, bukan selamanya di sini. Makanya, selagi raga ini bisa, ia akan terus berusaha untuk menepikan beberapa baris kalimat, untukmu, teman.

Aku bahagia mengenalmu dan aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Kalau bisa sedekat hati ini. Boleh yaa…😀 Meski kita belum pernah berjumpa, tapi hatiku berkata, bahwa engkau adalah temanku untuk melangkah bersama. Inilah yang ku yakini, hingga saat ini ku masih melanjutkan langkah-langkah ini. Harapan untuk pertemuan kita.

Ya Rabb… rangkullah hamba bila rasakan lelah dalam perjalanan ini. Dengan begitu, hamba kembali mau bangkit dan berdiri, untuk melangkahkan kaki lagi. Karena hamba yakin bahwa ia senantiasa dalam keadaan tenang, bersama-Mu. Karena dalam kondisi ia lelah dan merasa letih, maka ia akan menjadi bu-ta sehingga ku tidak dapat melihat jalan yang akan ku tempuh. Maka, tenangkan ia ya Rabb. Raihlah ia dalam dekapanmu, sering-sering. Dan ingatkan hamba untuk segera kembali kepada-Mu dalam berbagai keadaan. Aamiin.  Dengan demikian, langkah-langkah ini menjadi senantiasa ringan bersama-Mu. Seiring dengan jalan yang terlihat luas membentang di hadapan. Dan tujuan yang menanti dengan senyuman.[]

 :)🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s