Hari ini ku kembali melanjutkan langkah. Langkah-langkah ringan yang terus meninggalkan jejak. Jejak-jejak jelas dan pasti bersama kaki jiwa yang terus melangkah. Melangkah lagi dan lagi, aku. Aku yang sedang melanjutkan perjalanan. Perjalanan panjang dalam kehidupan yang singkat. Singkat sekali.

Dalam perjalanan ini, ku usaha menikmati setiap langkah yang mengayun. Pun ku upaya menghayati setiap jejak yang menapak alam. Alam yang menjadi tempatku berpijak, menjadi jalan sampaikanku ke tujuan. Tujuan yang pasti akan ku temui, maka ku yakin sampai di sana. Negeri akhirat yang abadi, jauh di mata namun dekat di hati. Ya, seperti halnya engkau, wahai sahabat hati, teman sejati dalam perjalanan, kawan berbagi dalam kehidupan, sebagai inspirasi dalam pergaulan. Ya, engkau yang akan menikah denganku. Siapakah engkau?

Hari ini, aku masih melanjutkan perjalanan. Perjalanan pagi nan berseri, di bawah sinar mentari pagi yang menerangi. Melangkahku bersama senyuman. Senyuman dari hati bersemi pada wajah nan cerah. Sungguh-sungguh ku belajar merangkainya. Bersegera ku menjemput ia lagi, saat senyuman perlahan bias.

Ah, tidak mudah merangkai senyuman ini, teman. Sungguh tidak mudah. Namun kalau engkau yakin dan percaya bahwa engkau bisa, maka tersenyum adalah sebuah kebutuhan. Ya, engkau akan mencari dan menemukan cara lagi dan lagi, bagaimana cara untuk menjaganya, membersamainya, pun menjadikannya sebagai bagian diri. Karena dengan tersenyum, engkau akan merasakan kebahagiaan. Bahagia karena engkau melakukannya dengan mudah nan indah.

Perjalanan pagi masih berlangsung di sini, teman. Perjalanan dalam rangka meneruskan langkah-langkah kaki. Kaki-kaki jiwa yang terus melangkah. Yah, karena selagi ia membersamai diri, jiwa akan senantiasa menunjukkan bukti eksistensinya di dunia ini, dunia kita. Dunia yang hari ini masih kita bersamai. Dunia yang merupakan sarana bagi kita dalam melanjutkan langkah. Dunia yang nyata atau kasat mata?

Dunia, ah… dunia. Engkau akan sirna dan kemudian berakhir. Dunia fana, dunia sementara. Dunia yang sudah menua, namun menyediakan banyak goda. Dunia yang terlihat indah di mata, namun ia menyimpan banyak ketidakindahan, kalau saja kita tak awas dan mengenalinya. Yha, karena dunia adalah sebagai sarana, maka pergunakan waktu dan kesempatan kita bersamanya untuk meneruskan langkah saja, bukan sebagai tujuan apalagi di cita.

Ku saksikan bunga-bunga bermekaran. Mereka bersenyuman, saling melirik. Ku perhatikan kebahagiaan yang tercipta di antara mereka. Kebahagiaan sebagai sesama makhluk-Nya. Kebahagiaan nan mewah dan meriah, ku rasakan pula, tepat ketika aku berada di sekitar mereka. Kebahagiaan nan mensenyumkanku lebih indah, senyuman nan cerah ceria, penuh.

Wahai bebungaan, terima kasih ya, untuk memberikanku waktu menyapa. Lalu sempat memberikan perhatian padamu sejenak. Perhatian yang membuatku ingat pada cita dan impianku. Impian untuk merangkai senyuman lebih sering. Bahkan kalau aku tidak salah, aku pernah mengukir impian untuk merangkai senyuman setiap saat. Dan saat ini, aku tersenyum untukmu, bersamamu.

Yap, satu senyuman setiap saat, adalah impianku, teman. Dan kini ia aku alami, ku jalani, ku hayati, ku nikmati bersamamu. Bersama engkau yang tersenyum, aku belajar merangkai senyuman lagi. Masih belajar, akan belajar dan senantiasa begitu. Hingga kelak ketika ku sampai di tujuan, ia dapat menjadi jalan ingatanku kembali padamu. Agar, engkau pun tersenyum setiap kali ingat padaku. Ini yang aku mau, ku perjuangkan dan selalu ku ingat.

Semoga, semoga engkau lebih mudah tersenyum yaa, termasuk saat engkau mengingatku.🙂🙂🙂 Dan aku pun tersenyum untukmu, senyuman yang ku rangkai lebih banyak lagi, lebih berseri dan bermakna. Karena ia adalah hadiah terbaik dariku, untukmu. Senyuman yang untuk mengukirnya, aku belajar darimu.

Hari ini, sangat dini. Teringatku pada impian yang pernah terukir, dulu. Impian untuk terus melanjutkan langkah, menghayati setiap ayunan kaki dan mentafakuri kejadian alam, sebagai sarana untuk menemukan inspirasi. Lalu, menjadikannya sebagai bukti eksistensi dengan mengabadikannya melalui senyuman. Senyuman yang ku rangkai saat ini, adalah untukmu teman. Ya, untukmu yang peduli, engkau yang berarti, engkau yang menginspirasi, engkau yang berseri-seri, engkau yang penuh semangat, dan satu hal lagi adalah engkau yang merupakan mentari di dalam hati ini. Hihiiy… karena bersamamu aku mengalami nuansa penuh kebenderangan, cerah dan ceria. Senantiasa penuh senyuman dan intinya adalah, karena engkau bersinar dari dalam dirimu. Sinar yang engkau berikan pada sesiapa saja yang mencarimu, berusaha menemukanmu dan tidak pernah lelah membersamaimu. Karena ia percaya, bersama adalah bahagia.

Bahagia membersamai hati. Gembira memenuhi ruang hati. Sedangkan senyuman terus berangkaian. Begitupun doa senantiasa bersahut-sahutan, baarakallaahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair. Aamiin. Alhamdulillah…🙂🙂🙂 Akhirnya ku temukan apa yang ku cari, ku bahagia bersamamu, saat akhirnya kita pun menikah. Mari, kita melanjutkan langkah bersama bergandengan hingga ke jannah. Innallaaha ma’ana. Allaahu Akbar.

***

Alhamdulillah. Bahagia menyeruak di relung jiwa. Seiring dengan gempita rasa memenuhi ruangnya. Bahagia, ada bahagia di sini, teman. Bahagia di hati. Bahagia yang menemani, membersamai, menginspirasi, mensenyumi kita. Ya, karena bahagia itu dekat di sini, di sekitar kita ia ada. Maka jeli lah menemukannya. Supaya kita tidak mencari kebahagiaan lagi. Namun berusaha dan berupaya memantaskan diri untuk bahagia.

Bahagia selamanya… kapan saja, bersama siapa saja adalah hak kita. Ya, karena bahagia itu adalah dekat. Dekat di hati. Hati yang tersenyum. Senyum yang untuk merangkainya memang tak mudah. Namun kalau kita berlatih lagi dan lagi lagi latihan, maka insya Allah, untuk tersenyum lebih indah bukan lagi impian namun sudah menjadi kebiasaan. Bukankah bisa karena biasa, teman?

Hayooo… kita bersenyuman, senyuman dari hati akan sampai ke hati. Ya, begitu. Terima kasih teman, untuk senyuman yang engkau ukir hari ini. Senyuman nan mensenyumkanku. Karena saat ini, aku tersenyum seraya mengingatmu. Engkau mentari di hatiku. []

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s