Ini adalah cerita tentang inti buku yang ku baca hari kemarin. Ya. Aku hanya ingin sedikit berkisah. Untuk memanfaatkan waktu seraya menyimak teman yang sedang melanjutkan perjuangannya menuntaskan revisian skripsi. Hihii. Semangat, kawan! Engkau pasti bisa.😀

"Semangat Amal! Semangaat!" bisiknya pada diri sendiri, ku sempat mendengarkan pula ungkapan ini mengalir dari dirinya seraya merapal pernik-pernik kata yang mungkin berasal dari bahan skripsi. Aduuch. Teringat tentang hal ini, aku terkenang pada perjuangan menyelesaikan skripsi dua tahun lalu. Dengan menyemangati diri sendiri, kita bisa. Bisa. Bisa yakin bisa. InsyaAllah. So, aku ingin berkisah.

Dalam keseharian, aku adalah tipe introvert yang ke mana-mana tak ingin eksis. Aku lebih memilih lingkungan yang penuh kedamaian daripada bergabung dalam riuh nan ramai. Begitulah aku adanya. Namun walau terkadang terjebak dalam kerumunan, aku segera menyapa diri agar ia tetap tenang. Aih! Tak nyaman berada dalam keramaian, bagiku khususnya. Entah bagaimana dengan kaum introvert lainnya di sana.

Hampir lebih sering, aku memilih sendiri, bahkan. Daripada mengambil waktu untuk eksis, aku senang menjadi pendengar yang baik. Bahkan dalam percakapan dengan teman-teman dalam pergaulan, aku lebih sering diam menyimak. Yap. Untuk ku pahami segala inti pembicaraan. Karena aku memang begitu adanya. Entah semua ini bisa membuatku eksis? Entahlah. Ha.😀

"Allahu Akbar… Allahu Akbar…," mengalun indah sebagai backsound yang menemani Amal yang masih melanjutkan perjuangan. Judulnya Always be there by Maher Zain, kisah Amal. Saat aku menanya, suara siapakah itu?

Tuch kan, sampai nada-nada nasyidh pun aku tak tahu. Kurang mengenal dan bahkan tak mudah akrab. Meskipun aku pernah mendengarkannya dan sudah pernah juga bertanya pada teman lainnya tentang hal ini. Termasuk nada-nada nasyidh lainnya. Tidak mudah memang bagiku untuk menghapal. Kecuali hanya beberapa saja yang menjadi favoritku, Selamat Berjuang – Brother, Edcoustic – Sebiru Hari Ini, ini salah satunya.

Selanjutnya, Amal mengetesku. Saat sebuah lirik mengalun, "…sepanjang hidup seiring waktu aku bersyukur… Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku…".

Ini siapa penyanyinya, tanya Amal.

Tak berpikir panjang, aku menjawab, "Maher Zain."

"Tapi kan pakai bahasa Indonesia,… Haha," beliau memastikan.

"Iyaa laah, ini kan Yani sukaaa…"

***

Seperti halnya Maher Zain yang bisa melantunkan lagu dengan Bahasa Indonesia, maka begitulah pula dengan introvert yang juga bisa eksis, kalau ia berlatih, berlatih dan mau eksis tentunya. Dimulai dari mengenal diri sendiri, kita bisa eksis.😀

Wallaahu a’lam bish shawab.[]

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s