Masa lalu, biarlah berlalu. Karena kita tidak akan pernah merengkuhnya lagi. Ya, masa yang telah kita tinggalkan, hanya akan menjadi kenangan. Kenangan yang mungkin baik, atau belum baik. Kenangan yang semoga menjadikan kita lebih baik lagi, setelah berkaca dari masa lalu. Yah. Berkacalah sejenak ke masa lalu. Agar kita mau bangkit dan menata diri lagi. Melihatlah sejenak ke masa lalu, untuk kita jadikan sebagai spion dalam perjalanan. Ya, jadikan ia sebagai batu pijakan untuk melompat lebih tinggi, melangkah lebih cepat dan bergerak lebih jauh. Karena ia adalah pengalaman yang berharga, maka jangan pernah melupakan masa lalu. Karena ia adalah ilmu pengetahuan yang bernilai mulia, maka jadikan ia sebagai penolong kita.

Masa lalu. Semua kita pernah membersamainya, bukan? Ya, karena kita pernah ada di hari kemarin yang saat ini sudah menjadi masa lalu. Karena hari ini kita masih ada, namun bukan lagi bersamanya. Maka, bersyukurlah karen kita pernah berada di masa lalu. Namun jangan terpesona dengannya. Cukup sekilas melirik saja, lalu segera berpaling ke arah yang sedang kita tuju, hari ini dan menataplah ke masa depan.

Sore ini, dalam perjalanan pulang dari aktivitas, aku melihat sebuah mobil. Awalnya mobil tersebut melaju di jalan yang juga ku tempuh. Namun pelan, seakan mau berhenti. Aku perhatikan saja sampai mobil berwarna silver tersebut sampai di ujung jalan. Sedangkan aku, masih terus melangkah dengan anggun. Seraya menggenggam alat komunikasi yang kini menjadi sarana bagiku melihat dunia, aku membuka lembar kamera. Lalu aku pun mengabadikan mobil imut nan menarik perhatianku. Hai, apakah yang menarik darinya? Sehingga aku tertarik? Aku pun tak tahu. Hanya saja, aku ingin mengabadikannya.

Jalan yang singkat, menuju komplek sedang dilewatinya. Begitu pun aku. Tidak berapa lama kemudian, sang mobil pun berhenti benar-benar dan kemudian berputar. Ya, seakan ia salah jalur? Atau mau parkir? Ya, posisinya kini sudah menghadap ke arahku. Asyiiik, semakin jelas kini tujuannya. Ia ternyata salah arah. Hal ini terlihat dari posisi terakhirnya. Sementara aku terus melangkah, setelah menangkap sebuah bayangan dirinya. Jepret! Sukses. Selanjutnya, aku pun meneruskan perjalanan, begitu pula sang mobil yang segera berlalu. Entah ke mana, aku pun tidak tahu. Tidak juga ingin mencari tahu. Karena aku masih harus melanjutkan perjalanan lagi, hingga tujuan.

Di perjalanan, aku teringat satu hal. Aha! Ya, that is a good idea. Aku ingin menjadikannya sebagai inspirasi. Xixi. Cukup mudah bukan, menemukan inspirasi dalam perjalanan. Baiklah, ku buka lembaran maya yang siap sedia menampung segala pikir, rasa, pun harapan serta kisah dalam perjalananku. Ku nyalakan alat komunikasi yang kini beralih fungsi menjadi lembaran diari. Ku menuju ke sini, lalu mulai tersenyum berseri-seri. Ya, saat ini aku sedang tersenyum, teman. Senyuman yang ku ukir seraya merangkai suara hati. Ku tersenyum kini, setelah sebelumnya menitikkan bulir bening permata kehidupan di pipi. Ku tersenyum kini, karena aku ingat tujuanku berada di sini. Aku mensenyumi kisah dalam perjalanan tadi, yang saat ini sudah menjadi masa laluku. Ku senyumi ia, karena bersamanya aku sempat tersedu. Yuhu. Karena terlalu menghayati, meibi yaa. Menghayati perjalanan seraya mengenang diri. Menikmati skenario-Nya, sampai aku benar-benar sukses memerankannya. Ya, sesorean tadi, lembaran pipiku sempat lembab oleh tetesan airmata, karena tiba-tiba mataku berembun lebih sering. Entah dari mana asalnya, aku pun tak tahu. Hanya saja, aku mau menikmatinya saja. Maka, ku biarkan ia menetes sesukanya. Untung saja aku duduk manis di antara kubikel, sehingga tiada yang melihat, lembaran pipiku yang basah. Apalagi bola mata yang sering berkedip karena perih.

"Semoga, semua baik-baik saja, doaku. Dan yang terbaik senantiasa menjadi bagian dari hari-hari kita, yaa," bisikku pada sahabat yang menemaniku. Ia pun mengangguk pelan, mengiyakan, seiring dengan hangat yang kembali menepi. Aku tak mengerti, bagaimana cara menahannya agar tak luruh. Sungguh. Maka, biarlah ia menitik, sebagai bagian dari masa laluku.

Beberapa titik airmata, menjadi bukti. Bahwa aku turut terharu atas luka yang sahabat rasakan di sana, meski beliau mungkin tidak tahu. Namun yakinlah bahwa, semua akan baik-baik saja, yakinku. Hanya doa terkirim, buat kebaikan semua, meski kita belum pernah saling mengenal. Walaupun perkenalan kita baru sekadar mengetahui nama. Meski pun perkenalan kita hanya di dunia maya, ya. Namun percayalah bahwa, tentang rahasia terindah-Nya, hanya Allah Yang Maha Tahu. Mari, kita memetik hikmah dari apapun yang kita alami di masa lalu. Baik yang menyisakan bahagia, maupun yang menorehkan luka. Semoga kita dapat saling memaafkan, agar keberadaan kita di bumi adalah dalam rangka saling mengingatkan kepada Allah Yang Mengizinkan kita singgah sejenak di dunia ini. Sampai berjumpa lagi, di hari esok yang lebih cerah nan indah, di tempat terindah, bersama senyuman yang lebih indah, yach. Di masa depan…

Hari ini, saat ini, apabila engkau yakin sudah berada di jalur yang dapat menyampaikanmu pada tujuan, maka lanjutkan perjalanan. Namun apabila ternyata masih belum tepat, bersegeralah mengubah arah. Cepat putar haluan. Yah. Belum terlambat, teman… karena saat ini adalah titik poros perubahan. Engkau dapat menjadi apa dan siapapun yang engkau inginkan, dengan apa yang engkau lakukan saat ini, detik ini. Bukan tentang apa yang telah berlalu. Karena saat ini adalah masa depanmu. Okey.

Apabila saat ini engkau menangis, hapuslah air matamu. Lalu tersenyumlah dan tatap luasnya langit. Di sana, engkau masih dapat menggantungkan harapanmu, walau tanpa tali. Namun untaian doa yang engkau mohonkan kepada-Nya, dapat menguatkanmu. Berharap yang terbaik kepada-Nya. Ya, berdoalah hanya yang terbaik, untukmu, untuk sesiapa saja yang engkau kenal ataupun belum, kapanpun di waktu terbaikmu. Karena doamu untuk saudaramu adalah juga untukmu. Yakin dan percayalah.[]

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s