Sejenak saja teman, renungkanlah. Ya, merenungkan tentang dua mata kita. Mata yang pandangannya terbatas. Sehingga kita hanya dapat melihat jarak tertentu saja. Dan itupun nyata. Sejenak saja teman, renungkanlah. Ya, merenungkan tentang dua mata kita. Mata yang pandangannya terbatas. Sehingga kita hanya dapat melihat jarak tertentu saja. Dan itupun nyata. Maka bayangkanlah, saat mata kita ini mampu melihat lebih jauh lagi dan lebih dalam. Tentu kita tidak akan dapat menikmati waktu. Karena, kita sibuk menjulurkan pandangan lebih jauh lagi dan jauh. Sehingga waktu kita pun habis terbuang karena penasaran lagi dan lagi dengan hal-hal yang ingin kita lihat.

Begitu pula halnya, bila mata kita ini mampu melihat makhluk-makhluk halus yang kasat mata. Maka tentu kita akan sangat tidak nyaman kapanpun dan di manapun. Karena kita terganggu oleh objek pandang kita. Maka, bersyukurlah dengan pandangan kita yang terbatas ini. Bersyukurlah dengan anugerah penglihatan ini. Bersyukurlah dengan cara memandangkannya pada hal-hal yang bermakna saja.

Jagalah ia, mata yang kita bawa ke mana saja. Peliharalah ia di dunia ini, agar ia pun memelihara kita kelak di akhirat. Karena nanti ia akan mampu berbicara. Untuk menjelaskan tentang segala yang kita lakukan padanya. Mata kita akan bersuara, menyampaikan apa yang ia alami saat bersama kita di dunia. Begitu pula tentang aktivitas tersering yang ia lakukan. Apakah kita membawanya pada kebaikan? Atau malah sebaliknya?

Apakah mata kita lebih sering terjaga di sepertiga malam, lalu bermuhasabah, daripada menutup dan terlelap? Hai, tidak ingatkah kita bahwa di dunia adalah wadah bagi kita untuk beribadah optimal untuk mengumpulkan amal terbaik sebagai bekal di negeri akhirat? Lalu, masihkah kita berlama-lama dalam kelalaian yang tidak bermakna? Termasuk berehat lama, sehingga lupa kepada-Nya. Hai, bukankah seorang pejuang hanya akan henti berjuang saat kakinya sudah menginjak di surga. Lalu, renungkanlah… sudah sampai di mana keistiqamahan kita dalam berjuang. Padahal akhir waktu kita tidak dapat menentukan atau mengetahui. Bilalah sudah sampai di ujung usia, kita pun tidak ada kesempatan lagi untuk berjuang. Wallaahu a’lam bish shawab.

***

Selanjutnya tentang telinga. Iya, indera pendengaran kita kiri dan kanan dua jumlahnya. Untuk keperluan apakah kita menggunakannya? Lalu, bagaimanakah kita menjaganya? Apakah telinga kita ini mendapatkan perhatian optimal kita? Atau justru telinga ini kita biarkan begitu saja? Padahal telinga kita adalah harta berharga yang kita punya. Lalu, dapatkah kita menghargai kebersamaannya dengan kita? Apakah kita tak hanya sekadar membiarkannya menempel begitu saja di sisi kanan dan kiri kepala kita?

Telinga. Saat ia mendengar. Apakah yang lebih sering ia dengarkan? Lalu bagaimanakah kita mencerna pendengaran yang sampai pada kita melalui telinga? Apakah apapun yang kita dengar selalu ingin kita sampaikan segera dan semuanya? Walaupun berupa keburukan yang semestinya tidak kita sebarkan?

Ah.

Telinga pun esok di akhirat nanti akan memberikan persaksian atas lelaku dan tingkah kita. Apakah kita memanfaatkannya dengan sempurna? Sebagai jalan selamatkan kita di lautan dunia ini sampai ke pantai bahagia di akhirat nanti?

Apakah telinga kita saat mendengarkan azan telah berkumandang, mempunyai kepekaan untuk mengajak kita bersegera berwudhu lalu mendirikan shalat?

***

Bibir kita yang menyuarakan isi jiwa. Apakah ia sering bicara? Lalu bergunakah yang ia suara? Apakah makna yang ia dapat sampaikan saat bersuara? Lalu sudah mampukah kita mengendalikan lisan yang di dalamnya ada lidah tidak bertulang, ini?

Hai teman. Sejenak. Sejenak saja. Cobakah raih lidah kita. Lidah yang tidak panjang, namun ia tercipta sempurna untuk menyampaikan banyak hal. Ya, apapun yang mau kita sampaikan, lidah akan bergerak dan bersuara. Bersama dua lembar bibir, ia menyampaikan banyak berita. Berita apa saja yang kita mau sampaikan. Ia akan terlanjur berucap banyak pula, kalau kita tidak berhati-hati dengannya. Karena ia bisa keceplosan, mengobral obrol apa pun temanya. Maka, jaga lidah kita, pelihara lisan kita. Karena ia adalab salah satu penyebab yang dapat membawa kita ke neraka, kalau tak jeli mengendalikannya. So, keep silent at the moment, when there is no important ‘thing’ that you have to share. Just a moment, please, re-think.

***

Kulit sebagai indera berikutnya yang perlu kita jaga. Apakah kita mempedulikannya? Mempedulikan kebersihannya, keperluan dan kebutuhannya, pun ketidaksukaanya. Ya, apakah kita memelihara kulit dengan sempurna? Sehingga ia dalam kondisi sehat dan cerah berseri. Kalau kita rajin merawatnya. Karena sungguh, permukaan kulit yang menempel pada tubuh kita, sangat berjasa. Ya, dengan adanya kulit, maka daging dan urat-urat kita tersamarkan. Alhamdulillah… Alangkah bahagianya, karena kulit kita terbaik kondisinya. Maka di manakah kita menyimpan syukur dari hati? Saat kita menyadari anugerah terindah ini. Maka bersyukurlah wahai diri, ucapkan alhamdulillah…🙂

***

Berikutnya adalah indera penciuman.

Hai, bagaimana kabar hidung? Apakah ia sehat-sehat saja? Lalu, bagaimanakah kita menjaganya? Apakah yang kita lakukan untuk bersyukur? Karena melalui hidung, kita dapat bernafas lega dan menghirup udara nan segar.

Alhamdulillah… Alhamdulillah…
Bersyukurlah kapan saja, setiap kesempatan. Maka Allah menambah nikmat-Nya pada kita, teman.

Alhamdulillah… Alhamdulillah…
Hayuuuu…. Bersyukur, yuuuu’ mariii.😀

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s