03 May, 2015

6:30 AM

Return…

Return…

Happy…

Happy…

I am coming happily…

In here, we are together…

At The beach

Hallo teman. Apakabarnya pagi ini? Semoga senantiasa dalam kondisi sehat dan semangat selalu yaach. Aamin.

Hai, lama tak berjumpa dan bersapa dengan mu, membuatku sangat rindu. Ingin menyolekmu lagi. Ingin mengintipmu kembali. Ingin menitipkan lagi beberapa buah nasihat, pesan, pun kesan dalam perjalanan. Pun, aku sangat ingin mempercantikmu secantik mungkin. Hihii.😀

Ehm… Iya, beberapa waktu yang lalu aku tak berkunjung padamu. Karena aku mengambil masa sejenak untuk kembali berehat. Ya, rehat dari kesibukan dan rutinitas. Rehat dari kebiasaan dan aktivitas. Rehat dari keramaian dan lalu lintas kehidupan normal. Dan aku memilih untuk menenggelamkan diri dalam lautan sunyi. Hehe. Tapi tenang, aku baik-baik saja kok. Dan saat ini, aku mencoba untuk menyapamu, lagi. Karena begitu dalamnya kerinduanku padamu. Ingin bersamamu selalu, ingin menyapamu lagi. Ah. Aku tak tahu lagi, bagaimana cara meninggalkanmu. Seperti aku tak mengerti, mengapa aku sampai di sini lagi, padahal masih pagi, nyubuh. Iyups!😀

Aku pikir pun, lebih baik kiranya, apabila kita berhenti sejenak dari aktivitas yang kita lakukan lebih sering. Ya, untuk kembali menanya diri. Untuk bersegera menyapanya lagi. Agar kita tahu, apa yang kita mau. Supaya kita mengerti, untuk apa kita bangun lagi pagi ini. Semoga kita memahami, makna dari setiap langkah-langkah yang akan kita pijakkan lagi di bumi-Nya. Ya, semoga kita seringkali mau menyempatkan waktu untuk introspeksi diri, yaa.🙂

Rehat sejenak dari rutinitas untuk melakukan aktivitas baru, tentu sangat bermanfaat. Karena kita dapat menjalani detik waktu yang berbeda dengan kegiatan yang berbeda pula. Ya, karena memang, tidak selamanya kita bersama. Ada waktunya kita perlu mengenali, langkah-langkah kita lagi. Langkah saat kita sedang bersunyi dan sendiri.

***

Kemarin adalah waktu yang telah berlalu dan kita telah kembali darinya. Saat ini adalah waktu yang sedang kita jalani, dan kita sedang berada bersamanya. Sedangkan esok adalah kemungkinan yang akan kita temui.

Kemarin, kita sempat menyisipkan beberapa aktivitas bersama waktu yang kita bersamai. Lalu saat ini, apakah yang kita lakukan bersamanya? Begitu pula dengan esok hari, bagaimanakah kita mempersiapkan diri dalam menyambut kehadirannya?

Hari ini, sejenak ku kembali. Kembali untuk memaknai hari ini, tentu saja bersamamu, di sini. Agar, hari ini menjadi lebih baik lagi dari kemarin. Semoga kebersamaan kita saat ini, menjadi benar-benar berguna, yaa. Dan dapat mengingatkan kita lagi untuk senantiasa saling memberi peringatan. Supaya selamat kita dalam melanjutkan langkah-langkah di dunia ini, dunia yang hanya sementara. Dunia yang menjadi jalan bagi kita untuk sampai di tujuan yang sesungguhnya. Dunia yang bersamanya, kita dapat saling berlomba untuk melakukan yang terbaik, berbaikan, dan menyertakan kebaikan demi kebaikan dalam detik demi detik waktu yang kita jalani. Semoga semakin berkah dan senantiasa dalam ridha Allah, waktu yang menjadi milik kita saat ini, yaa. Waktu yang merupakan kesempatan paling berharga. Waktu yang akan segera berlalu, beberapa saat setelah kita menjalaninya. Waktu yang sedang kita jalani, waktu yang akan kita temui. Semoga, setiap waktu adalah langkah-langkah kita untuk menjadi lebih baik, yaa. Sehingga saat akhir waktu menyapa kita, adalah dalam kebaikan yang sempurna, aamiin.

Teman, sebelum muncul di sini, ketahuilah bahwa aku berangkat dari lautan kesunyian. Ya. Aku yang sebelumnya memang berlama-lama di sini. Aku yang ingin kembali ke permukaan, sejenak. Ya, sejenak saja. Untuk menyapamu, itu saja. Setelah ini, aku akan kembali lagi. Kembali.

Saat merangkai kalimat ini, aku sedang duduk manis di pinggir laut berteman pepasir. Di sampingku ada sebongkah batu yang menemani. Ia yang diam, mengajakku mendekat padanya, lalu bersandar sedikit. Sehingga ia menjadi saranaku untuk lebih menikmati kebersamaan kita, ini.

Sekata demi sekata, ku curahkan di lembaran maya yang sedang berada di genggamanku. Ku coba menyuara segenap suara yang ada, dengan nada-nada dari suara ombak rindu. Yuhuu. Syahdunya. Sampai akhirnya aku tahu, bahwa aku masih hidup, ternyata. Haha.😀 Lama juga yaa, aku menyelam di lautan tak bertuan. Berteman ikan-ikan yang berseliweran kian kemari. Bercengkerama dengan rumput laut nan hijau menyejukkan mata. Berada dalam air yang menenangkan jiwa dan raga. Aku bahagia ketika berada di sana. Di lautan sunyi, jauh di dasarnya.

Berteman kerang-kerang yang mengandung mutiara, aku ingin sepertinya. Melihat makhluk hidup yang bergerak semua, aku pun belajar darinya. Agar aku kembali bergerak dan bergerak untuk terus bertahan hidup. Kemudian menghidupkan waktu dan hari-hari berikutnya, setelah aku kembali ke daratan. Begini aku membisiki diri, saat berada di lautan sunyi. Dan kini, saat kembali ke keramaian di tepi pantai yang berpasir putih, asyik memandang mentari yang mulai tersenyum, membuatku segera tersenyum pula. Aku tersenyum padanya yang meneladankanku untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya yang memberiku kesempatan untuk menikmati indahnya nuansa pagi di tepi pantai kehidupan. Aku tersenyum pada nya yang menemaniku menghayati keadaan. Aku tersenyum bersamanya, yang akan meninggalkanku lagi, ketika waktu bernama sore mulai menjelang. Aku tersenyum dalam waktu yang kami jalani, senyuman terbaik yang dapat ku berikan. Seperti halnya mentari yang rela menyinari hari ini, maka aku pun sama. Karena aku belajar banyak darinya. Aku belajar bersamanya. Sehingga saat ia berlalu, senyuman ku tetap di sini. Demi menjaga ingatan padanya yang berarti. Terima kasih mentari, untuk kebersamaan kita seharian disini. Kebersamaan yang berkesan. Selamat menikmati senyuman kami, senyuman yang terbaik untukmu.

Mentari, ia selalu sukses membuatku tersenyum lagi, karena ia unik. Ya, lihatlah kedipannya yang sampai ke pelupuk mata ini. Ia akan membuat mata kita berkedip, juga bukan? Ah. Engkau pasti mulai menyukai juga, yaa. Menyukai mentari yang ku kagumi. Hai, adakah engkau melihatnya tersenyum hari ini? Di sana. Ya, di sana, di tempatmu berdomisili. Di lokasi keberadaanmu kini, teman. Lihatlah sejenak ke langit, di sana mentari sedang tersenyum padamu. Kalau engkau dapat melihatnya, maka saksikanlah dengan sepenuh hati. Karena ia sedang menitipkan senyuman dariku, untukmu. Senyuman yang berseri-seri. Senyuman penuh kebahagiaan. Karena aku bahagia, kita kembali jumpa di sini, dalam kebersamaan yang berarti. Terima kasih teman, untuk senyuman yang engkau kirimkan kembali, padaku. Senyuman yang ku hargai sebagai pertemuan denganmu saat ini. Senyuman yang mempertemukan kita lebih sering, setiap kali kita menyaksikan sinar mentari dalam hari-hari. Xixii.

Ohiya. Tidak terasa, sudah lama pun aku di sini. Padahal baru beberapa menit yang lalu aku kembali. Semoga pertemuan kita yang singkat ini, menjadi bermutu, ya. Dan dengan berseri-seri ku ucapkan "Sampai berjumpa lagi yaa, dalam pertemuan kita selanjutnya. Semoga saat aku kembali, engkau pun kembali dan kita pun menghabiskan waktu untuk bersama sini."

***Menatap Langit Tak Bertepi []

MY SURYA
about.me/symarya

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s