Saling memberi dan menerima, itulah hakikat hidup kita. Ya, dengan begitu terciptalah harmonis dan bahagia. Tersebarlah senyuman nan ringan dan cerah. Terbentanglah kasih sayang nan melimpah. Tumbuhlah pohon cinta nan menaungi alam tempat kita berpijak. Hingga nuansa sakinah pun merebak. Insya Allah.

Ada waktu kita memberi, tiba masanya kita akan menerima. Begitulah alur kehidupan yang ada di dunia ini. Ya… Walau kita tidak meminta sekalipun. Namun kalau tiba giliran kita menerima, maka akan ada yang datang menemui kita lalu memberi yang kita butuhkan. Maka pada saat itu, terimalah dengan senang hati, lapang dada dan berbesar jiwa. Karena tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama sebagaimana yang kita alami. Wahai, alangkah indahnya menerima, bersyukur penuh dengan sentosanya pikir adalah pilihan kita.

Memberi. Walau tidak pernah kita rencana sebelumnya. Bahkan tidak pernah terbayang bahwa kita akan memberi. Namun bila tiba saatnya memberi, maka kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang layak kita beri dan pantas menerima pemberian kita. Maka pada saat itu, memberilah dengan niat paling tulus, dengan niat paling ikhlas yang kita punya. Karena tidak akan pernah ada kesempatan kedua kali untuk moment berbeda. Oleh karena itu, bergegaslah kita meraih kesempatan yang ada dengan semangat penuh dan senyuman nan indah. Ya, berserinya wajah adalah satu pertanda bahwa kita bahagia saat memberi.

Memberi dan menerima adalah dua buah kata yang bertolak belakang. Begitu pula dengan maknanya. Ya, memberi adalah mengeluarkan apa yang kita punya. Sedangkan menerima adalah memperoleh apa yang kita butuhkan. Maka dua kata ini, walaupun berbeda makna namun esensinya sama. Yaitu akan ada yang merasakan bahagia saat ia tercipta.

Dengan menerima kita bahagia. Maka kita akan lebih berbahagia lagi kalau memberi, bukan? Oleh karena itu, membersamai dua kata ini dalam meneruskan langkah-langkah di perjalanan kehidupan ini adalah sebuah sensasi yang tidak akan pernah terlupa. Bahkan ia menitipkan kesan dan kenangan untuk kita jadikan sebagai hiasan dalam perjalanan.

Kemarin sore, ba’da Ashar di masjid Kawasan Ciwalk Bandung. Di dalam ruang nya yang adem, berteman gemericik air bersahutan, aku bahagia karena aku menerima. Diselingi oleh senyuman yang terus saja terjalin erat pada wajah beliau, membuatku turut tersenyum. Senyuman yang beliau bawa pada saat bercakap-cakap bersama kami, menebar indah dan mudah. Yah, alangkah cantiknya wajah beliau nan tidak lagi muda dari segi usia. Namun dari perawakan beliau dapat ku saksikan rona belia nan melekat, masih saja. Ya, alangkah bahagianya aku bersama beliau. Menyaksikan rerangkai senyuman beliau saja, sudah membahagiakanku. Ditambah lagi dengan kuntum-kuntum nasihat dan pesan berharga yang beliau rangkai untuk kami, melalui nada suara nan santun.

Bersama seorang teman sekaligus sahabat, saudara perempuanku di kota ini. Kami memperoleh pesan yang sama dari beliau nan berbudi. Pesan yang kami simak sepenuh hati dan sangat senang sekali. Pesan yang beliau sampaikan pada kami tanpa kami minta sebelumnya. Namun beliau, Ibunda yang ramah dan murah tersenyum, mudah berbagi, menitipkannya pada kami. Senyuman yang kami usaha untuk meneladani dan mempraktikkannya pula. Nasihat yang kami terima dan kami pun perlu serta butuh padanya, ternyata. Nasihat yang kami terima dengan suka cita. Sebahagianya kami menitikkannya di lembaran ini, semoga bahagia pula engkau yang menerima, yaa. Agar terus terangkai bahagia ini sampai kepada siapapun yang membutuhkannya. Semoga, semoga beliau yang menitipkan pesan mendapatkan bahagia yang berkepanjangan, aamiin.🙂

"Ibu dari mana?," tanya sister Neni.

"Dari Ujung Berung," jawab beliau bersama senyuman.

"Ibu lagi nunggu anak dua orang, belum kelihatan," bisik beliau masih bersama senyuman nan ramah.

"Ibu, hatur nuhun," tambah sister seraya mengembalikan sajadah dan mukena beliau yang tadi sister pinjam.

"Iya, makasih ya, Neng," jawab beliau. Seraya menerima dan menyimpan kembali dalam tas mukena.

"Yang rajin shalatnya, yah. Mudah-mudahan dapat jodoh yang shaleh. Rajin shalat Dhuha ya, dua dua enam kali salam. Mudah-mudahan dibangunkan istana nanti di surga, ya. Dan sama tahajjud. Tahajjudnya dua dua empat kali salam. Sebelum tidur witir dulu, nanti setelah tahajjud ga witir lagi. Jadi nanti takutnya kesiangan Neng nya. Witirnya udah tadi sebelum bobo. Nah, kalau bisa setelah shalat Isya, shalat taubat dua rakaat. Lalu shalat Hajat dua rakaat. Lalu shalat witir tiga rakaat. Nah trus bobo Neng nya ya. Nah, azan Shubuh sekarang jam setengah lima ya. Sebelumnya shalat tahajjud, dua dua empat kali salam," beliau pun melanjutkan pesan buat kami.

"Iya, doain kita ya Bu, semoga kita istiqomah, aamin."

***

"Siapa namanya, kalau Bapaknya bin siapa," tanya beliau.

"Saya Yani bin Peluh," jawabku malu-malu.

"Yani bin Peluh, Ya Allah mudah-mudahan dapat jodoh yang shaleh," doa beliau masih bersama senyuman di pipi dan wajah, bibir pun sama. Tersenyum indah dan cantik.

"Aamiin ya Allah…," bisik kami berjamaah.

"Neng namanya siapa bin siapa," tanya beliau pada sister Neni, seraya tersenyum ramah dan keibuan.

"Neni bin Rosdi, mudah-mudahan dapat jodoh yang shaleh. Aamiin," bisik kami berjamaah.

"Dua-duanya bahagia di dunia dan akhirat. Jadi kalau bahagia itu yang dikejar akhirat aja. Kalau akhirat, insya Allah dunia kebawa, gitu ya Neng yaa. Kalau dunia yang dikejar tapi akhirat engga, dunia itu hanya sesaat. Kalau akhirat, nanti Neng bakalan abadi. Saat sangkakala pertama ditiup, dimatikan semua, terjadinya kiamat. Dan saat sangkakala kedua ditiup, semua akan dibangunkan. Saat itu ada empat golongan yang dinaungi sama Allah:

1. Pemimpin yang adil.
2. Anak muda atau pemudi yang shaleh
3. Orang yang selalu mendekatkan ke masjid. Misalnya Neng ngajar anak-anak atau mengabdi di masjid atau menolong ada kegiatan di masjid.
4. Menegakkan kebenaran.

Mudah-mudahan Eneng termasuk yang empat itu yach," ungkap beliau bersama rona bahagia di wajah. Yang kami sambut dengan senyuman menawan. Karena kami berharap demikian.

"Aamiin, doain Ibu yaa, karena kami masih muda-muda dan banyak godaannya, xixii…😀 " pinta kami segera.

" Iyaa.. jangan tinggalkan shalat yaach. Lalu suka menolong fakir miskin, yatim piatu kalau punya rezeki," tambah beliau. Bersama senyuman nan terus memekar, beliau berpesan pada kami. Pesan untuk menjadi seorang yang berbahagia.

"Ada lima tips bahagia dunia akhirat, mau tahu, Neng?" tanya beliau dengan senyuman yang semakin asyik dipandang.

"Ini di luar shalat wajib yaa. Kalau yang wajib udah pasti."

"Mau… mau… Ibu, apakah tips nya, Ibu?," kami bertanya karena sangat ingin tahu.

🙂 Pertama, dirikan shalat Dhuha.
🙂 Kedua, shalat Tahajud.
🙂 Ketiga, puasa Senin Kamis
🙂 Keempat, baca al Quran dan mengamalkannya, tentunya.
🙂 Kelima, zakat.
Zakat fitrah ini udah wajib. Nah ada lagi zakat mal. Zakat mal itu 2,5% dari penghasilan.
Misal, Neng punya seratus juta, yaa. Keluarkan Rp 2.500.000,- (…contoh ini afirmasi…)
Gitu terus. Ga usah tunggu setahun. Ga usah. Neng dapet rezeki misalnya kerja, gaji dua juta. Keluarkan lima puluh ribu. Kalau lebih, ya bagus, gitu. Langsung aja ke yang fakir miskin. Ga usah nunggu nanti dikumpulin. Karena lebih afdhal membersihkan harta. Mudah-mudahan barokah yang ditangan. Yang di kita jadi halal.

Yang Ibu rasakan yaa, mau pergi haji juga bisa.

"Ibu sudah berangkat haji…," kami terpesona.

"Udah, alhamdulillah," jawab beliau senang dan bersyukur.

"Ibu doain kita, juga berangkat haji, yaa,🙂 ," kami berharap.

"Iya, Neng mudah-mudahan bisa. Jadi kalau yang ke haji itu hanya orang-orang pilihan yang diundang sama Allah. Jadi gak sembarangan orang. Yang berangkat haji itu hanya orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah. Beruntunglah orang-orang yang dikasih rahmat dan diberi hidayah. Dan orang-orang itu yang dipanggil oleh Allah. Mudah-mudahan Neng bisa yaa. Aamiin."

Inspirasi by : Ibu Lusi – Guru Fisika SMKN 5 Bandung.
Beliau sangat baik.

"Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi ya, sayang yaa…🙂 ," lalu beliau pamit duluan. Sedangkan kami masih lanjut exsion sejenak, berbagi lalu memoles di pipi. Ckckc. Judulnya Garnier. Hehe.

***

Alhamdulillah, bahagianya menerima nasihat dari beliau yang kami istilahkan ‘malaikat buat kami.’

Ya Rabb, bimbing kami dalam taat.

***

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman lebih cerah nan indah. Aamiin ya rabbal’alamiin…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s