Mentari hari ini bersinar cerah. Cerah sekali dan aku sangat suka. Karena saat mentari bersinar, ku berpikir bahwa ia sedang tersenyum pada kami. Ia tersenyum untuk memberikan kehangatan pada penduduk bumi dan semesta. Mentari yang baik hati, bisikku. Saat aku menyempatkan waktu mengangkat wajah dan kemudian membiarkan wajah ini bertaburan sinarnya.

Hari ini, tepat tengah hari. Pukul dua belas siang. Mentari semangat sekali menunjukkan kebaikannya. Kebaikan yang terus mengalir, kebaikan yang senantiasa ia sampaikan. Pada apapun, pada siapapun, mentari berikan baktinya.

Hanya saat malam saja mentari tak terlihat tersenyum, selebihnya ia senantiasa berbinar. Ya, dalam pikirku awalnya begitu. Namun setelah sekian lama ku memperhatikannya. Setelah seumur hidup ku mengikuti peredarannya. Setelah dari hari ke hari ku menerima sinarnya. Setelah sekian lama, akhirnya aku mengerti juga bahwa sesungguhnya ia senantiasa bersinar. Baik saat ku mengenal siang, maupun ketika ku mengenali malam. Walaupun tidak terihat mata, sebenarnya mentari bersinar selalu.

Alangkah indahnya hidup ini bersama mentari. Keindahan yang mungkin aku terlambat menyadarinya. Keindahan yang bisa saja ku terlupa mensyukurinya. Keindahan yang dari waktu ke waktu terus bertambah untukku, untuk kita. Keindahan yang perlu terus kita syukuri dan berterima kasih kepada-Nya. Karena semua keindahan adalah milik-Nya. Keindahan yang membuat kita dapat menikmati hidup ini.

Siang ini, saat sinar mentari berkedipan menerangi bumi, ku temukan syukurku kembali. Syukur yang terkadang pergi-pergi saat ku tak menyadari. Syukur yang mudah ku panggil lagi saat ku ingin bersamanya. Syukur yang membawaku pada suatu keadaan saat ini. Keadaan penuh senyuman yang menghiasi wajah.

Alhamdulillah, ingin ku bersyukur lagi dan lagi. Kemudian menjadikannya sebagai bagian dari diri ini. Agar hanya ada senyuman yang menemani. Meski kelak, ku tidak lagi dapat menyaksikan indahnya sinar mentari. Namun ku yakin, saat itu, ketika beliau semua yang ku kenali mulai menyadari ketiadaanku, biarlah sinar mentari yang menjadi pengganti diri. Ya, mengingatkan beliau semua padaku lagi. Aku yang menyukai sinar mentari. Apalagi saat ia bersinar terik sebegini. Sungguh berkesan.

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman lebih cerah nan indah. Aamiin ya rabbal’alamiin…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s