Semua adalah tentang kita. Kita yang masih dan sedang melanjutkan perjalanan dalam kehidupan. Kehidupan di dunia yang seakan tanpa jeda. Ya, walau berulang kali kita meminta padanya agar supaya henti sejenak. Ya, tolong beri aku kesempatan untuk menarik nafas sekejap. Begini kita pernah menyampaikan pinta padanya. Namun kehidupan tidak memberi kita meski sejenak waktu untuk itu. Apalagi berehat barang sedetik dua detik. Tak. Tak ada kesempatan untuk berdiam. Kalau kita tidak ingin tergilas oleh zaman. Ya, begitu.

Di sebuah perjalanan yang sedang kita tempuh bernama kehidupan, memang tidak semestinya kita berhenti. Kecuali kita akan tertinggal jauh dari mereka yang terus bergerak, melangkah dan bahkan berlari. Hai, bukan lagi demikian teman, sudah sangat canggih alat transportasi saat ini. Sehingga dapat mengantarkan kita pada tujuan segera. Ya, di dunia yang segala sesuatunya dapat terjadi secepat kilat, maka kita perlu terus terjaga. Berjagalah dan senantiasa menjaga.

Di dunia yang serba instan, segalanya pun bisa dijangkau. Apapun bisa diperoleh dengan mudah. Namun, alangkah indah kiranya bila kita masih dan sangat menghargai proses. Sehingga bila toh nanti kita sampai ke tujuan, meskipun agak lama, maka kita dapat tersenyum penuh kelegaan. Karena di sepanjang perjalanan yang kita tempuh sebelum tujuan, kita dapat menikmati proses. Yah, menjadi kebahagiaan tersendiri yang kita rasakan, bukan? Ketika tidak semua orang dapat mengalami sebagaimana yang kita jalani. Maka kita dapat memberitahu mereka, walau baru seberapa yang kita tahu. Bahwa untuk menjadi apa yang kita mau, ternyata memang tidak mudah atau terjadi secepat kilat. Tidak. Bukan demikian.

Maka sesiapa saja yang sangat menghargai hasil terbaik, maka ia akan bermudah-mudah dalam menempuh perjalanan. Ia percaya, bahwa perjalanan dengan jarak satu mil dimulai dari satu langkah. Dan ia sangat menghargai langkah demi langkah. Sehingga ia tidak ingin terburu mempercepat langkah, hanya karena ingin cepat sampai di tujuan. Karena ia pun percaya bahwa walau gontai adanya raga saat melangkah, ia akan kembali menjejakkan telapak kakinya dengan gagah. Yah, begitulah ia yang benar-benar menghayati perjuangan.

Dalam perjalanan kehidupan, tidak selalu mulus jalan yang ia tempuh, namun kadang berbatu kerikil dan pasir. Pun tidak jarang jalan bertanah yang ia lalui. Walau begitu, ia tetap melangkah. Ia susuri perjalanan dengan segenap kemauan. Kemauan yang ia jaga senantiasa ada. Menjadi penyejuk raganya saat ia kepanasan oleh terik mentari yang menyengat. Ia senyumi ilalang yang ditemuinya di sepanjang perjalanan. Seraya di sentuhnya bunga ilalang nan memutih di genggaman. Ya, begitulah ia menikmati perjalanan. Seraya berbisik pada desis angin yang menyapa lembaran pipinya. Tolong jaga ilalang ini agar senantiasa melambaikan daunnya untukku. Walau beberapa kelopak bunganya akan meluruh ke bumi, atau terbang terbawa angin yang menyalaminya. Namun tidak begitu dengan ku yang juga menerima sapaanmu wahai angin. Aku, pejalan yang akan terus tegak berdiri menatap lurus ke depan seraya meneropong arah. Kemudian melangkah lagi dan lagi, meskipun semilirmu lebih sering membisikiku tentang kesenangan di perjalanan. Namun aku tak akan leng-ah apatah lal-ai. Hai, satu tekadku yang menguatkan hati, Allahu Akbar. Satu niatku yang menyantuni pikir, Innallaha ma’ana. Satu langkahku yang akan terus terukur, menuju-Mu.

Satu persatu, teman-teman kita pun berlalu. Ada yang melanjutkan perjalanannya di jalan berbeda, pun ada yang memilih mengukir asa di kampung halaman tercinta. Berikutnya tak sedikit yang menemukan belahan jiwa peneguh raga. Ya, satu persatu di antara kita sangat sudah jarang bertemu. Karena aktivitas baru yang kita jalani, membuat raga kita sangat jarang berdekatan. Lalu, teringatlah kita dengan seorang teman lainnya. Ia adalah seorang sahabat yang sering tertunduk membisu, terduduk kuyu. Huhuuu. Di manakah ia kini? Sahabat seperjuangan yang kurang beruntung itu?

Lama mencari kita mencari. Mulai dari lingkungan tersering yang ia tuju. Lalu ke persimpangan yang kita sering lalui dulu. Bahkan sampai ke lokasi yang menjadi tempat kita berbagi ilmu. Kita berusaha mencari informasi agar kembali bertemu. Ya, bertemu dengan seorang sahabat yang pernah menjadi bagian dari masa lalu kita. Seorang yang tanpa kita tahu, sangat berperan dalam perjalanan kita di dunia. Seorang yang pernah membersamai kita di jalan gelap kehidupan. Ia yang kita tahu, sangat jauh dari sempurna. Karena ia hanya insan biasa yang penuh khilaf, salah bahkan berdosa. Huwwa, alangkah sendu rasanya, saat kita tahu kondisi yang serupa. Lalu kita kembali kepada diri kita. Ya, kita yang saat ini sedang meneruskan perjuangan pula. Perjuangan panjang untuk menempuh perjalanan di dunia. Bagaimanakah kita adanya? Mungkin dan bisa jadi kita tak lebih mulia darinya. Bahkan kita tak perlu menerka-nerka tentang ia yang banyak cela. Ya, karena tak guna meneliti dan mencari-cari kekurangan orang lain, kalau kita ternyata tak lebih baik darinya. Istighfarlah…

Dalam perjalanan hidup di dunia, semua kita tentu pernah menempuh sisi hitam dan putih dalam perjalanan. Ya, mungkin saat kita menyadarinya, atau saat kita tidak menyangka. Maka bisa saja kita menjalaninya. Di jalan yang hitam kelam dan gelap? Atau di jalan penuh sinar dan benderang? Kita tidak pernah tahu. Termasuk saat ini, apakah kita yakin, sudah benar-benar berada di tempat yang semestinya kita berada? Wahai… renungkanlah.

Hanya dengan kembali dan menanyai diri ini, maka kita dapat membawanya pada keadaan yang semestinya. Ya, karena menginstrospeksi diri lebih sering adalah salah satu jalan menuju pada kebaikan. Kebaikan yang jalannya putih, bersih, bersinar, benderang, kemilau, bahkan berbonus wangi yang semerbak. Wangi yang berasal dari taman iman yang kita rawat, kita jaga dan kita pelihara senantiasa. Taman yang bermekaran di dalamnya kuntum bunga senyuman beraneka warna. Wahai indahnya berada di jalan yang terang dan penuh bebungaan di sekitarnya. Seakan berada di taman surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Subhanallah, membayangkan saja duhai indahnya. Lalu bagaimana. kalau kita pun sampai di sana?

Ya Allah, bimbing langkah-langkah kecil kami senantiasa, agar semakin mendekatkan kami kepada-Mu. Langkah-langkah yang Engkau ridhai bagi kami. Aamiin ya rabbalalamiin. Terima kasih ya Allah, atas nikmat hari ini. Nikmat yang mungkin belum sempat kami syukuri karena kesibukkan kami. Nikmat yang sangat dekat, namun belum kami sadari. Nikmat yang Engkau pilihkan untuk kami. Nikmat yang engkau dekatkan pada kami. Nikmat yang engkau mudahkan bagi kami. Nikmat yang mendekatkan kami kepada-Mu. Berkahilah nikmat demi nikmat yang Engkau titipkan pada kami, ya Allah. Sehingga kami tidak perlu lagi ra-gu lagi ra-gu lagi, rag- u dengan apa yang belum engkau titipkan pada kami.

Karena kami yakin dan percaya bahwa Engkau Maha Dekat. Engkau Maha Tahu, yaa Ghaniy, yaa Waduud…

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman lebih cerah nan indah. Aamiin ya rabbal’alamiin…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s