Harapan demi harapan mulai menjejak nyata. Kenyataan yang terkadang membuat ku sangat mau mengabadikannya dalam rerangkai senyuman. Senyuman nan hadir melalui tulisan. Salah satunya adalah saat ini. Ya, tulisan yang hadir karena sebuah kenyataan kembali ku temui dalam perjalanan hidup ini. Hidup yang penuh dengan aneka surprise, teman…

Kenyataan adalah suatu keadaan yang kita alami. Kenyataan yang ujungnya adalah pengalaman. Pengalaman yang boleh kita abadikan, atau kita biarkan ia berlalu begitu saja? Ah. Sungguh mahal harganya, ia sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terulang lagi. Tidak pernah dan tidak akan. Apabila sesaat setelah ia berlalu, kita tidak bersegera menangkapnya lalu menggenggam erat, sebagai bekal dalam perjalanan berikutnya.

Ada harga dari sebuah pengalaman. Harga yang sangat tinggi nilainya. Nilai yang tidak akan pernah dapat digantikan dengan apapun juga. Karena ia dapat mengayakan kita. Pengalaman yang mampu mengajak kita untuk membuka lagi hati ini, memperluas lagi cakrawala pandang kita, lalu mengajak raga kita bangkit tak lagi memb-ungkuk karena sempat terund-uk dengan kenyataan. Karena ia, pengalaman datang sebagai jalan untuk kembalikan semangat kita. Supaya kita mau berusaha dengan sepenuh kekuatan. Untuk melanjutkan langkah dengan satu tekad bulat nan kuat. Aha! Engkau bisa, kita bisa berbeda. Kita mampu kalau kita mau berusaha. Kita sanggup kalau kita yakin. Semangattt pagiii semesta hari ini…? Mariii…๐Ÿ˜€

Berbekal niat di hati. Berlanjut semangat diri. Berikutnya adalah konsistensi dan berdoa di dalam hari-hari. Selanjutnya terus dan teruskan lagi penuh istiqomah. Melangkahlah lagi dan lagi. Insya Allah engkau bisa memberikan inspirasi bagi negeri.

Senyuman demi senyuman ia tampilkan pada wajahnya yang mungil. Senyuman yang menghiasi wajahnya, membuatku ingin memandang lagi dan lagi. Senyuman yang menginspirasi sekaligus menenangkan hati.

Imuts namanya. Seorang gadis manis berparas menawan. Tubuhnya tidak tinggi semampai memang, namun imut seperti namanya yang kini melekat dalam ingatanku. Imuts, ya, begini aku terbiasa memanggilnya. Seorang adik yang menitipkan padaku banyak inspirasi. Inspirasi yang ku petik lagi dan lagi darinya. Seakan ia adalah pohon inspirasi nan berdaun rindang dan lebat buahnya. Sungguh damai berdekat-dekat dengannya.

Imuts. Ya, gadis mungil yang membuatku tersenyum sekali lagi. Setelah sebelumnya aku sempat mensenyuminya balik, setelah ia tersenyum juga padaku. Atau sebaliknya. Terkadang aku yang tersenyum lebih awal padanya, seraya menyapa dengan panggilan lembut. "Adiiiiks…?".

Jarak usia kami yang tidak jauh berbeda, seakan menjadi salah satu faktor pendukung. Ya, sehingga kami menjadi lebih mudah akrab, dekat dan saling mengingat. Ah. Tentang ingatan nan imuts dan sering datang kapan saja, aku teringat. Adikku nan imuts sering kali membuatku manut, ikut, dan kemudian menurut. Upz!

"Sekali-kali Uni membuat keputusan, jangan hanya ikut," bisik beliau pada suatu siang. Karena aku tetiba tidak dapat menemukan jawaban sendiri, sehingga memilih ikut saja.

"Iyah, Uni ini follower sejati banget," tambah beliau melengkapi.

๐Ÿ˜€ Hihii.. lalu aku pun tersenyum, mengiyakan. Seraya ku berpikir juga, "Apakah benar begitu adanya?"

Pada kesempatan yang lain, Imuts inspirasi datang lagi hinggap di pikirku. Ya, ketika kami sedang duduk manis berdua, hanya berdua. Karena para sahabat kami yang lain sedang tiada di sisi. Maka pada saat itu, inspirasi pun beliau gulirkan lagi dalam bentuk pertanyaan nan imut juga, "Uni udah shalat Dhuha?".

"Oiyaa, belumm," jawabku segera bangkit dari duduk dan kemudian bergegas melangkah untuk wudhu dan kemudian shalat Dhuha.

Aha! Aku terpesona dengan kenyataan yang ada. Aku bahagia dengan nuansa serupa. Aku sungguh benar-benar sangat ingin percaya, bahwa ini nyata. Alhamdulillah… Ya Allah, Engkau Maha Melihat, Engkau Maha Tahu, Engkau Maha Mendengar. Maha Baik dan Mengabulkan pinta di dalam doa. Bila saatnya tiba, waktu yang telah Engkau janjikan datang, maka tiada yang dapat mengira, apalagi untuk tak mempercayainya. Bahwa janji-Mu adalah benar.

"Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu dhuha-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kecantikan itu kecantikan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih di langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keindahan, kecantikan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh." – Doa Dhuha

Aamin ya Rabbal’alamiin.

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s