Untuk sebuah pilihan. Atas selembar kesempatan. Bagi sejumput harapan. Beri sebaik jawaban. Segera ambil keputusan. Bukan karena keterdesakan, namun karena memang sudah saatnya. Maka, angkatlah tanganmu teman, lalu lemaskan ia sejenak seraya melambai-lambaikannya di udara. Yah, semoga engkau dapat menemukan kesegaran dan inspirasi. Semoga engkau kembali tercerahkan atas keadaan yang engkau jalani. Ya, ketika pertolongan perlu engkau dapatkan, maka memintalah pertolongan. Bergegaslah menemukan bantuan dan berjumpa dengan para relawan. Karena dengan demikian, engkau akan menemukan lagi kesegaran.

Kemudian teruskan langkah-langkahmu lagi, teman. Iringi dengan senyuman yang menebar indah pada wajahmu.

Mengangkat tangan bukan berarti engkau menyerah dan tidak sanggup lagi berjuang. Namun merupakan pertanda bahwa engkau sangat memerlukan tambahan semangat dan motivasi. Hai, apabila engkau telah sampai pada kondisi seperti ini dalam perjuanganmu, berarti engkau sudah mendekati tujuanmu. Ayoo bergegas!

Hari ini, seharian semenjak pagi hingga awal malam menjelang, kondisi demikian yang aku temui. Yah, kondisi yang mengajakku berpikir seraya merenungi langkah-langkah diri. Sudah seberapa jauhkah ia melangkah? Lalu, bagaimana hal nya dengan para pejalan lainnya yang aku temui di sepanjang perjalanan, terutama hari ini. Ya, seharian ini aku masih bergerak dan melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang ku tempuh tentu bukan tanpa tujuan. Maka, berkaca dari beliau-beliau sesama pejalan, aku memetik pelajaran.

Hari ini, seorang teman, meskipun kondisi raga beliau kurang sehat, namun beliau tetap berjalan. Hai. Alangkah teguh dan gigihnya sang teman. Beliau yang semestinya rehat saja dulu, untuk mengumpulkan lagi kesehatan yang sempat menyebar. Beliau yang menurut pikirku harusnya tidak mesti berjalan. Akan tetapi aku menemui beliau istiqomah dalam perjuangan. Meski raga lelah? Namun tampaknya tidak dengan jiwa beliau. Ya, jiwa yang penuh kekuatan, bertaburan harapan dan penuh dengan senyuman. Meskipun untuk menampilkan senyuman di wajah pun beliau tidak mempunyai kekuatan, karena kondisi raga beliau yang berkurang kesehatannya. Yah. Jiwa itu masih menampakkan senyuman.

Hari ini, sebagaimana halnya teman yang sejalan dalam perjuangan. Maka begitu pun adanya dengan diriku. Beberapa waktu terakhir aku pun sama. Seakan ia turut mengalami apa yang teman sejalan rasakan. Maka raga ku pun turut berkurang kesehatannya. Ah. Empatian sungguh ini badan.😀

Walau aku kini dalam kondisi demikian. Namun jiwa ku terus pula berjalan. Seraya menyemangati nya dengan senyuman dan lambaian tangan yang ku lemaskan. Ai! Memang demikian mestinya. Jiwa dan raga, hati dan pikiran, perlu terus kita kondisikan, teman.Agar kita dapat melanjutkan perjalanan dengan kondisi prima dan penuh senyuman. Mariii…

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman lebih cerah nan indah. Aamiin ya rabbal’alamiin…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s