Menuju Illahi Allahu Rabbi
Yani Melangkah Lagi

Ketika engkau melangkah, melangkahlah dengan hati. Jaga hati di jalan yaa…😉 ,” pesan kami.

***

Melangkah… Mariii kita melangkah adalah tema dalam catatan kali ini. Catatan bersama sahabat ‘hati’. Sedangkan Yani sebagai model dalam picture di atas adalah teman kami. Ya, teman yang membersamai kami dalam menjalani hari-hari. Baik saat ceria menghiasi hati, maupun ketika duka menerpa raga. Yani, mari melangkah, lagi.

Bersama sahabat dalam melangkah, alangkah indahnya. Bergerak beriringan, bergenggaman jemari. Bersegera menuju Illahi dengan sepenuh hati. Berjuang bersama menggapai Ridha-Nya.

Melangkah adalah aktivitas yang sangat disukai hati. Hati yang berada di dalam diri ini, ia ingin terus bergerak dan menemukan bagian dirinya yang lain. Sehingga ia merasa bahagia saat berjumpa dengan sesiapa saja di bumi. Karena ia yakin, bahwa bersama mereka, hati menemukan inspirasi. Untuk kemudian berbagi lagi dan lagi, seraya melanjutkan langkah. Begini aktivitas sekeping hati, bersama Yani.

Hari ini, dua hari lagi akan segera menjelang. Hari yang pasti dan telah terjadi. Hari yang mengingatkan kami pada hari pasti yang akan terjadi. Hari yang mengembalikan ingatan kami pada tujuan perjalanan diri. Hari yang membawa kami pada episode kehidupan selanjutnya, bernama mati.

Hari ini, kami sedang mengingat kematian. Yach, hari yang kami ingin, pada waktu kami menjalaninya nanti, hanya raga kami yang mati. Namun jiwa kami, senantiasa ada dan tersenyum, melanjutkan langkah-langkahnya lagi. Langkah menuju Illahi. Langkah-langkah untuk berjumpa dengan para kekasih Allah. Langkah-langkah yang membawa kami pada senyuman yang lebih indah lagi. Senyuman yang memberikan kami keyakinan, bahwa kebahagiaan di alam berikutnya adalah abadi. Tidak seperti ketika kami di bumi, sering terjadi pergantian rasa. Ada waktu nya kami bahagia dalam hari-hari, pun sebaliknya. Begitulah pengalaman yang hati kami rasakan selama di sini, di bumi.

Hari ini, kami masih dan sedang melanjutkan langkah-langkah ini. Kami melangkah untuk menemukan dan bertemu dengan banyak dan semakin banyak lagi kepingan-kepingan hati. Hati yang mudah berubah dan berada dalam kondisi berbolak-balik. Hati yang berada dalam genggaman Illahi. Hati yang kami pun punyai. Hati yang juga sedang melangkah, seperti kami. Hati yang membuat kami terkadang berpikir, bagaimanakah wujudnya hati? Hati yang kembali setelah ia pergi. Hati yang penuh ekspresi dan turut menghiasi wajah kami. Hati yang mengingatkan kami pada banyak pesan, diantaranya :

“Hati-hati di jalan yaa…”

“Per-hati-an… per-hati-an!”

“Jaga lah hati…”

“Lakukanlah segala sesuatu dengan hati, maka ia akan sampai ke hati.”

“Belajarlah sepenuh hati.”

“Jadilah baik hati”

“Pikir itu pelita hati”

“Bukalah hati, lihat indahnya dunia dengan pernak-perniknya yang memukau, dengan mata hati. Maka engkau bahagia”.

***

Hati, banyak pesan dan informasi yang kami terima tentang nya. Hati yang akhir-akhir ini menjadi sahabat kami. Sahabat yang kami temui saat kami sedang melanjutkan langkah. Hati yang tidak akan pernah terganti. Hati yang selalu mengingatkan kami. Lalu, kami memang pernah dan bahkan sering tak benar-benar membersamainya. Kami terkadang pula lupa memperhatikannya. Padahal, hati sangat peduli pada kami. Ia lebih sering bersuara dari pada mulut kami bicara. Hati yang memberikan kami banyak perhatian, lalu, bagaimana perhatian kami pada hati?

***

Hari-hari  kami jalani dengan penuh arti. Bersama hari ini, kami berjanji untuk kembali memberi arti dengan sepenuh hati. Karena kami yakin, bahwa kehidupan yang sedang kami jalani saat ini, tidak akan selamanya. Hanya sementara. Sedangkan saat kami melakukan aktivitas dengan hati, maka akan sampai pula ke hati-hati lainnya selain kami. Dan keberadaan kami di dunia tidak akan pernah henti ataupun berakhir, sekalipun kelak kami sudah mengalami kematian raga.

Hari ini, dalam muhasabah diri di menjelang pagi, kami kembali teringat pada mentari. Mentari yang memberikan senyuman setiap hari, walau terkadang mendung menyelimutinya. Namun mentari terus tersenyum dengan baik, memberikan pencerahan dan inspirasi pada seluruh alam. Mentari, begini kami inginkan hati ini. Agar ia cemerlang dan bersinar dari waktu ke waktu. Supaya hati ini dalam memberikan penerangan kapan saja. Supaya kehadirannya di bumi ini, benar-benar ada bersama kami.

Buat hati ku di sini, detik ini adalah waktu terbaik bagi kita untuk melangkah lagi, marii.

Buat hati lain nya di sana, yang kami temui saat ini juga, mari kita melangkah lagi, menyusuri jalan kehidupan. Agar pada suatu hari nanti, saat engkau sedang melangkah, pun kami, lalu kita bertemu di jalan yang sama. Yuuu’ mari kita bersenyuman, saling menyapa. Sehingga kita dapat merasakan indahnya perjalanan ini, bersama.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s