​​السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه Selamat Pagiii Kang Zidni 🙌😃
Apakabar..?

Hei kawan, tadi Yani baca wa. Kang Zidni dalam waktu dekat mau buat grup ttg :

"Bersyukur, daily happiness dan kabar gembira dari para membernya, jangan banyak2 30 orang aja, yang penting bisa saling memberi energy positive."

Yn mau gabung, yaa. Untuk tambah inspirasi.
✨⭐✨ -Semoga berkenan. 😊

***

Halo-halo Bandung,
Ibukota Priangan
…..

Baris kalimat di atas adalah sepotong dari lagu nasional Indonesia : Halo-halo Bandung. Bandung yang menjadi kota untuk bersinggahku sejenak. Setelah menempuh perjalanan hidup di kampung halaman tercinta hingga usiaku dua puluh tahun. Lalu, takdir mengajakku mampir di sini untuk meneruskan perjalanan. Ya, perjalanan hidup yang sementara. Perjalanan hidup yang perlu ku syukuri dan menjadi jalan bersyukur nya sesiapa saja di bumi ini. Syukur yang senantiasa ku perbarui dan semoga menginspirasi. Aamiin.🙂

Pagi ini. Saat ku buka mata setelah terbangun dari lelapku. Tidak lupa ku bersyukur. Mulai dari bangkit, duduk dan berdiri, kemudian berjalan ku menuju kamar mandi. Lalu aku berwudu untuk mensucikan diri. Tetesan air wudu yang mensegarkan wajah, tangan, kaki dan seluruh persendian. Meskipun dingin udara Bandung sangat terasa. Namun aku tidak akan pernah lagi merasa-rasai nya. Karena aku bersyukur kepada Allah. Syukur atas nikmat usia hingga detik ini. Syukur yang selanjutnya mengajakku bergerak setelah berwudu dan kemudian melangkahkan kaki menuju tempat shalat. Seiring dengan titik-titik air wudu yang berjatuhan, luruh dari diriku. Demikian pula harapku, berkurang dosa-dosaku. Karena aku percaya bahwa aku hanya insan biasa yang tidak pernah luput dari khilaf. Alhamdulillah… bersyukurku kepada Allah atas nikmat nya beribadah, nikmatnya beriman dan nikmatnya hidup dalam ketaatan.

Pagiiii Bandung?
Apakabarmu? Wahai negeri yang seakan berselimut mendung pada pagimu? Lalu berseri-seri saat siang membersamaimu? Sedangkan ketika sore, engkau bersukaria dengan alammu nan molek. Sungguh, ingin ku membersamaimu lebih lama lagi. Kebersamaan yang berlanjut dalam hari-hari ku. Kebersamaan yang mempertemukan kita dalam ingatan. Meskipun pernah pada suatu hari yang akan datang, kita mungkin berjauhan. Sungguh, engkau begitu berkesan.

Pagi ini. Saat cuaca alam Bandung tanpa sinar mentari seperti biasanya. Ketika semesta berselimut embun dan berkabut. Aku bangkit dari duduk. Lalu berjalan berkeliling. Ku hampiri pula balkon yang posisi nya menghadap ke arah timur. Lalu ku pandangi tepi langit timur dengan sempurna. Bersama dua mata yang kemudian membuka lebih lebar. Seraya mencari-cari, di manakah sinar mentari? Biasanya aku dapat melihat jelas senyuman nya dari sini. Ya, di sini aku biasa berdiri ketika pagi. Untuk menghirup segarnya udara pagi nan bersih.

"Semangat pagiiii mentariiii😀 …?," teriakku lantang hingga terdengar ke ruang hati. Semangat yang ku sampaikan pada mentari, meskipun ia tidak terlihat sama sekali. Semangat yang ku tujukan pun untuk mensemangati diriku sendiri. Karena aku belajar banyak dari mentari tentang semangat dan keceriaan dalam menjalani hari. Semangat yang mentari titipkan padaku dalam hari-hari saat ia tersenyum semenjak pagi, masih ku jaga hingga detik ini. Semangat yang mengembalikan ingatanku lagi, tentang memaknai syukur.

Bandung. Di kota ini, aku belajar merangkai syukur lebih sering lagi. Aku berlatih untuk mengungkap syukur dalam berbagai kesempatan terbaik. Aku bersyukur menemukan banyak teman-teman yang mengingatkanku untuk bersyukur dalam hari-hari. Aku, inilah aku yang penuh syukur dan mensyukuri kebersamaan kita di sini. Wahai Bandung nan anggun. Aku bersyukur bersamamu.

Melangkah ku lagi dan lagi. Dari balkon menuju lokasi perenungan berikutnya. Di bawah kanopi dekat halaman, adalah posisi keberadaanku saat ini. Aku sedang berdiri di sini. Lokasi ini menghadap ke sisi barat. Nah, dari sini biasa aku mensenyumi mentari sore menjelang ia pergi dan menghilang dari tatapan mata ini. Ya, di sini aku bisa merasakan kehangatan sinar mentari pun memudar. Lalu berganti dengan kesejukan alami. Kesejukan yang hadir bersama senyuman yang segera terbit dari wajah ini. Senyuman yang ingin ku jaga selalu menghiasi wajah ini. Senyuman yang berasal dari hati yang tersenyum. Senyuman yang ku harap sampai pula ke hati. Senyuman penuh syukur. Senyuman yang terbit seiring dengan terbitnya syukurku, lagi.

Bandung. Di kota ini aku belajar menjadi ahli syukur dan kemudian membuktikannya. Syukur yang berbekas dan menyisakan sejenis kenang-kenangan. Syukur yang ku rangkai dalam banyak kesempatan. Syukur yang terkadang ku tuliskan. Syukur yang terkadang ku ungkapkan melalui suara. Pun tidak jarang ku sikapkan dalam perbuatan. Senyumanku adalah syukurku. Rangkaian kalimat yang ku susun adalah syukurku. Dan satu lagi, pertemuan dan kebersamaanku dengan teman-teman yang penuh syukur adalah syukurku.

Alhamdulillah… terima kasih ya Allah. Atas pertemuan pagi yang menarik dengan mentari nan tersenyum. Sehingga senyumannya ku balas dengan senyuman nan cantik. Senyuman, wujud syukurku.

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman lebih cerah nan indah. Aamiin ya rabbal’alamiin…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s