Hai… teman. Apakabar? Lama sudah kita bersama, bersapa dan bertukar suara, di sini. Dan tidak terasa, waktu terus bergulir, menggelinding, menyisakan bekas-bekas yang akhirnya pun memuai oleh zaman. Bekas yang untuk melihatnya saja, kita tidak akan pernah bisa. Setelah hujan turun ia akan sirna.

Hai, teman. Hari ini kita masih dapat bersapa meski tanpa wujud dan rupa. Kita masih mempunyai kesempatan untuk bertukar suara walaupun tak dapat saling menggenggam jemari. Pun kita tak pernah akan mengulanginya dengan nuansa yang sama. Karena hakikatnya masa, saat ia telah terlewat maka tak akan pernah kembali lagi. Masa kini hanya ada saat ini. Begini kesimpulan nya.

Teman… Saat ini. Di sini. Kita masih bersua untuk bertukar kata, walaupun untuk terakhir kali. Karena setelah saat ini, kita akan sama-sama meneruskan langkah-langkah diri. Melanjutkan perjalanan untuk mencapai tujuan kita. Dengan menyusuri jalan-jalan yang telah kita pilih, dipilihkan, atau jalan tersebut yang memilih kita untuk ikut dengan nya. Yang terakhir ini namanya takdir.

Takdir. Terkadang kita masih perlu berjuang untuk meyakinkan diri ini, lebih sering. Ya, meyakinkannya dan mengajak diri kita bergerak, menjauhi takdir. Kalau ini namanya berusaha. Namun tentu saja, di balik usaha kita sebagai hamba, takdirNya tentu lebih berkuasa. Sedangkan di balik takdir yang berkuasa tersebut, ada doa yang dapat mengubahnya. Ya, berdoalah teman, untuk takdir yang terbaikmu. Berdoalah teman, agar di penghujung umur kita, rasa syukur berkerlipan bak bebintang nan indah sekali. Kerlip yang mengajak kita tersenyum saat menyaksikannya. Kerlap-kerlip yang memperlihatkan pada kita bahwa ia benar-benar ada. Kerlipan bebintang di penghujung umur yang menyinar hari berikutnya.

Hei, teman. Ketika engkau tahu ujung umurmu telah sampai di penghujungnya, apakah yang engkau lakukan terhadapnya teman? Saat engkau menyadari bahwa umurmu sudah tersisa sedikit, masih sanggupkah engkau untuk tidak mensyukurinya? Umur yang tersisa beberapa bagian saja. Bahkan mungkin sebagian kecil dari keseluruhan umurmu di dunia. Umur yang perlu engkau manfaatkan dengan hal-hal berguna. Umur yang semoga tidak akan pernah engkau biarkan tersia. Umur yang engkau perlu optimalkan menggunakan nya. Supaya ia berisi hal-hal bermakna. Umur yang di penghujungnya. Ujung yang tidak ada lagi ujung nya. Ujung yang paling ujung.

Hai, teman. Engkau yang saat ini masih muda. Muda yang mungkin saja merupakan penghujung umurmu. Muda yang engkau mungkin tidak menyadari bahwa engkau telah sampai di penghujungnya. Ujung yang semoga bertabur kerlap-kerlip bebintang nan tafakur menemanimu. Sehingga engkau sangat menikmati kebersamaanmu dengan nya. Walau bersama siapapun engkau.

Teman. Di penghujung umurmu, kenanglah banyak kebaikan yang engkau terima. Tafakurilah khilafmu sebagai manusia yang tak sempurna segalanya. Lalu maafkanlah sesiapa saja yang membuatmu tak berpuas diri. Karena sama sepertimu, mereka juga manusia biasa yang sering lupa. Maka, hayatilah baktimu, kaji lagi amal baikmu. Seraya menanya, "Apakah cukup untuk bekalmu melanjutkan perjalanan berikutnya? Ingat. Ingatlah lagi, wahai teman. Sehingga semoga mempermudahmu untuk bermudah-mudah memengerti orang lain dan mengikhlaskan perlakuan apapun terhadapmu. Karena engkau ingin ujung umurmu penuh senyuman. Senyuman nan mensenyumkan.

Mari teman… Sejak saat ini kita berlatih untuk membersamai penghujung umur yang pasti akan kita temui. Mari kita bersiap dan bersegera memperbaiki diri kalau kita menemukan banyak ketidakberesan padanya yang dapat menghalangi kita untuk tersenyum. Mariii… Mari kita bergegas menata langkah-langkah ini sebelum benar-benar sampai di penghujung umur. Marii.. Mari kita belajar tersenyum untuk senyuman yang telah terbiasa hingga penghujung umur kita jelang. Mari berlatih karena kita bisa kalau terbiasa.

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman yang lebih cerah dan indah…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s