This slideshow requires JavaScript.

Jalan-jalan pagi hari ini, aku sendiri. Masih sendiri dan memang karena aku memilih sendiri saja. Ya, walaupun sendiri, namun aku yakin bahwa aku tidak benar-benar sendiri. Karena ada Allah yang selalu ada bersamaku, para malaikat-Nya, dan tentu saja sahabat hati yang setia menemani.   Pagi ini, jalan-jalan bertema menemukan makanan atau pun cemilan, apapun itu. Karena sudah tidak ada lagi stok makanan tersisa di kostan. Sehingga aku pun kelaparan. Hai… Hihi.😀

Perjalanan dimulai dari Maleer II menyusuri jalanan di sepanjang komplek Maleer. Oiya, aku berangkat pukul 07.00 am. Seraya muroja’ah al Quran juz 30, aku pun melangkah dengan sepenuh hati. Tersenyum pada rumput yang bergoyang, bersalaman dengan angin yang berhembus sepoi. Pun, tidak lupa ku layangkan kedipan pada mentari pagi yang sudah mulai meninggi. Termasuk pepohonan yang ku temui di sepanjang perjalanan, mereka semua tersenyum padaku. Alangkah bahagianya berjumpa dengan mereka semua, alam yang damai, indah dan penuh kesejukan.

Setelah lepas dari komplek Maleer, aku pun melewati jembatan yang menjadi perantara Maleer dan Binong. Dan perjalanan pun ku lanjutkan hingga sampai di pasar Kiara Condong. Lalu, belok kiri sebelum sampai pada perlintasan kereta api. Bertemu seorang Ibu yang sedang kipas-kipas karena sedang membakar surabi, aku pun mampir sejenak. Dan kemudian memesan dua lembar surabi, rasa cokelat dan gurih serta sebungkus ketan putih bertabur kelapa parut. Selanjutnya, akupun melangkah menyusuri jalanan yang ujung nya aku tidak tahu. Hanya melangkah saja, menyusuri jalan yang ada di hadapan, seraya menikmati perjalanan.   Di perjalanan tersebut, aku melihat seorang kakek yang sedang mendorong gerobak berisi sayuran. Aku yang sedang melangkah, memberikan perhatian pada beliau yang ternyata tidak menggunakan alas kaki. Subhanallah, beliau membuatku berpikir. Pikir yang mengajakku mengabadikan tentang beliau. Seorang kakek berbaju hitam.

Hanya menikmati perjalanan, dan ingin benar-benar menikmati moment ini, aku meneruskan langkah-langkah kaki, bersama senyuman. Walaupun aku tidak tahu pasti, ujung jalan yang sedang ku tempuh ini berujung di mana? Entahlah.   Di antara langkah-langkah kaki yang ku ayun kan dan tangan yang sudah membawa sejenis makanan berupa surabi, aku pun sempat berpaling sejenak. Karena aku ingin tahu ada apa di belakangku. Apakah ada yang sedang melanjutkan perjalanan pula? Dengan harapan, ada seorang teman yang ku kenal dan beliau pun sedang berada di jalan yang sama dengan ku.

Saat berpaling tersebut, aku melihat ada sekumpulan insan sedang melangkah bersama. Beliau banyak jumlahnya. Dan aku pun penasaran, karena sebelumnya hanya melihat sekilas. Lalu ku benar-benar berhenti sejenak dan menghadapkan badan ke arah kumpulan insan tersebut. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Di antara orang-orang yang sedang berjalan bergegas tersebut, terdapat sebuah keranda. Ini pertanda, ada seorang yang meninggal dan sedang dibawa oleh beliau menuju pemakaman. Aku pun ingin ikut serta. Maka, ku hentikan langkah sejenak, agar dapat membersamai beliau, lalu kami pun melangkah lagi.   Melangkah ku lagi dan lagi. Alhamdulillah, kini aku tidak lagi sendiri. Karena banyak orang yang ada di sekitarku. Beliau semua melangkah juga, langkah-langkah yang tergesa, bergegas dan sigap. Umumnya, beliau terdiri dari kaum Adam. Sedangkan kaum Hawa ada beberapa orang saja.

Ku ikut beliau dengan langkah-langkah yang ku percepat pula. Terkadang sedikit berlari-lari kecil, agar tidak ketinggalan jauh. Dan aku dapat mengiringi jenazah pula hingga sampai di pemakaman. Lalu, ke manakah tujuan lokasi pemakaman jenazah? Aku pun tidak tahu. Tidak pula ku ingin mencari tahu, bertanya atau ingin tahu lebih awal. Hanya ingin menikmati ritme langkah-langkah kaki itu. Aku ingin mengikuti perjalanan menuju pemakaman. Dan bagiku, pengalaman ini adalah untuk pertama kalinya. Aku terkesan.

Tidak berapa lama kemudian, kami pun memasuki kawasan TPU Musliminin Maleer. Alhamdulillah, ternyata tidak terlalu jauh. Kemudian proses pemakaman pun berlanjut. Saat ku perhatikan tadi, terlihat tidak banyak orang yang menangis, kecuali hanya beberapa orang saja yang terlihat terisak. Sedangkan yang lainnya kebanyakan diam dan asyik dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan kebanyakan beliau yang hadir ke pemakaman, ada yang berbicara satu dengan lainnya. Begini suasana yang ku perhatikan. Sedangkan aku, sibuk melihat prosesi pemakaman, lalu sempat mengabadikan beberapa potret sebagai bahan ingatan atas perjalanan ini.

Aku berpikir, saat aku meninggal nanti, bagaimanakah suasananya? Siapakah yang akan mengantar ku ke pemakaman, tempat peristirahatan berikutnya? Lalu, apakah yang ku persiapkan sebagai bekal untuk perjalanan berikutnya, setelah alam kubur ku tempuh? Apakah amalku selama ini, cukup untuk membantuku menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nangkir di alam kubur kelak?

Ya Allah, bimbing hamba dalam kehidupan ini, untuk mengumpulkan bekal terbaik bertemu dengan-Mu, bersama senyuman. Lalu siapakah yang akan menangis atas kepergianku? Apakah masih ada yang ingat dengan ku? Atau, …

Tidak lama proses pemakaman berlangsung, cepat, dan setelahnya, orang-orang pun berlalu. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Terlihat hanya beberapa orang yang masih tinggal untuk melanjutkan perenungan tentang kematian. Aku pun segera melanjutkan perjalanan, setelah orang-orang perlahan berkurang. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi, entah ke mana arahnya. Aku tidak tahu pasti. Hanya melangkahkan kaki, mengikuti jalan yang membentang di hadapan. Aku melangkah lagi dan lagi. Dan akhirnya, ujung TPU pun ku temui, sampailah aku di jembatan yang tadi pagi ku lewati pula. Ya, jembatan yang menjadi perantara komplek Maleer dengan kawasan binong yang dekat dengan pemakaman. Alhamdulillah, aku kembali ke kostan dengan segera. Namun sebelumnya mampir dulu di sekitar kawasan hotel IBIS, karena di depan nya adalah para penjual makanan ringan pun makanan berat. Lalu, aku pesan dua butir kue balok. Dan bekal untuk makan siang nanti, ku pesan sayuran dan lauk pauk. Kemudian bergegas melanjutkan langkah menuju kostan.

Dari kawasan hotel IBIS menuju kostan, tidak terlalu jauh. Kalau jalan kaki hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja. Dan di perjalanan, aku bertemu dengan seorang bapak yang sedang menarik gerobak berisi barang-barang bekas. Pemandangan ini sempat pula menarik perhatianku. []

Sekian.

Terima kasih atas perhatian Anda.

By : Yani di kostan Ibu Mia

🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s