Saat melanjutkan langkah-langkah sebelum sampai di tujuan, apakah engkau pernah merasa lelah, teman? Apakah engkau alami kepenatan yang membuatmu ingin henti sejenak dari langkah-langkahmu? Adakah harapan bagimu akan ada yang mengajakmu serta bersamanya, ketika engkau dalam kondisi demikian? Lalu engkau terimakah ajakan tersebut dalam kondisi terlelah dan terpenat yang mendera mu. Ya, ragamu sedang lelah, engkau bilang begitu.

Bagi seorang petualang sejati, sesungguhnya ia memang pernah lelah dan penat. Bahkan sering dan terjadi berulang kali. Namun ia percaya bahwa yang lelah tersebut hanya raganya saja. Sedangkan jiwanya tidak. Ya, jiwanya masih dan akan selalu segar dan masih tersedia cukup banyak energi dan semangat untuk melanjutkan perjalanan lagi. Jiwa yang melangkah, kemudian kembali menjejak di jalan yang telah ia pilih semula.

Petualang sejati, akan menerima dengan senang hati ajakan untuk kebersamaan dari pejalan lainnya. Karena ia yakin dan percaya bahwa mereka mempunyai tujuan sama. Lalu, tersungkurlah ia dan bersujud seketika untuk mensyukuri segala yang ia terima. Syukur yang ujung-ujungnya menderukan gemuruh dahsyat di ruang jiwa nya. Jiwa yang masih tersedia banyak ruang untuk menempatkan teman yang baru ia temui, tadi. Lalu, mereka pun bertekad untuk selalu bersama-sama. Melangkah di bawah langit yang sama dan berteduh di bawah gumpalan awan serupa. Begitu pula halnya saat mentari menerik bersama sinarnya yang luar biasa. Maka para petualang tadi kembali bersapa dan bertatapan mata. Seraya saling menguatkan satu dengan lainnya. Mereka lanjutkan perjalanan lagi dan lagi, tanpa pernah mengenal apa itu lelah dan penat. Karena mereka sudah cukup teringatkan dengan hari yang maha hebat di akhirat nanti. Saat berterik-terik di bawah sinar mentari padang Mahsyar. Sungguh tidak terbayangkan. Apalagi dibandingkan dengan teriknya sinar mentari dunia. Bukan apa-apa dibandingkan kelak di sana. Makanya dua petualang tadi pun terus melangkah, meski hujan sesekali mengguyur wajah dan berhiaskan guntur di sepanjang perjalanan. Mereka tetap tabah dan meneruskan langkah.

Sejenak, ya, sejenak saja keberadaan kita di bumi ini. Lalu, tidak akan menyesalkah kita nanti? Saat kita terlengah, mati menghampiri. Karena ia sangat tidak bisa kompromi saat kita sudah di bumi. Berhubung sudah terikat perjanjian dengan kita semenjak di Lauhul Mahfuz, bahwa mati akan menghampiri kita dan ia akan datang tiba-tiba. Baik saat kita sudah siap menjalaninya maupun ketika kita terlena. Yap, mati adalah rahasia Ilahi. Rahasia yang akan terkuak saat kita sudah menjalaninya dan berjumpa mati. Lalu apakah persiapan kita lakukan sebelum ia mendekati diri?

Sejenak, cobalah sejenak saja. Ingatlah dan renungi tentang mati. Agar diri kita ini kembali mau bangkit dan kemudian berdiri di saat lelah dan penat sekalipun. Agar raga kita ini mau segera berbenah dan mengintrospeksi diri sering kali. Bukan hanya sibuk memperhatikan aib dan kekurangan orang lain saja, namun ia berjuang dengan segala upaya untuk membuktikan pada dirinya bahwa ia mampu berubah dari ketidakbenaran. Ia mau bangkit dari keterpurukan dan kemudian menjadi insan nan sejati. Insan yang mengenal dirinya dan mengenal Rabb nya. Insan yang hari ini lebih baik dari kemarin dan seterusnya. Hari esoknya adalah lebih baik dari hari ini. Sebagai penanda dan pengukur nya adalah ia senantiasa belajar dan belajar dari siapapun. Senyuman akan lebih mudah menebar pada wajahnya untuk siapapun. Karena ia senang saat disenyumi serupa. Maka ia pun mempraktikkannya lebih awal. Sebagai bukti syukurnya tertinggi atas nikmat pertemuan dengan sesiapa jua.

"Selamat melanjutkan aktivitas penuh semangat dan semoga sukses selalu, yaa. Sampai berjumpa lagi di hari esok bertabur senyuman yang lebih cerah dan indah…"
🙂🙂🙂

Keep Istiqamah & Salam Ukhuwah,
~My Surya~

2 thoughts on “Just a Moment, Please… ^_^

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s