Adalah satu aktivitas yang menjadi rutinitas bagi ku akhir-akhir ini adalah memperhatikan sekitar. Memperhatikan, mengamati, menghayati, dan kemudian mengabadikannya dalam bentuk catatan. Wahai… aktivitas ini sangat menyenangkan bagiku. Hehee. Karena unik dan terjadi setiap waktu aku melintas jalan atau berada di sebuah tempat. Aktivitas tersebut adalah memperhatikan kucing-kucing yang ku temui.

Tanpa ku sadari, saat menyaksikan kucing-kucing di mana pun ia ku temui, maka ingatan pun segera berkunjung pada Catchy. Ya, Catchy adalah kucing pertama yang ku sukai dan akhirnya kami pun bersahabat. Karena semenjak perkenalan kami hingga ia beranak pinak, Catchy suka mampir ke kamar ku. Ya, saat aku masih di kostan Bapak Darsono, dulu. Namun kebersamaan kami tidak selamanya. Karena ia menghilang… ^____^ I miss you Catch…

Kenangan saat bersama Catchy masih ingat olehku hingga saat ini. Ketika ia masih belia, akhirnya mempunyai anak dan cucu, sungguh berkesan. Dan kini, di kostan Bapak Darsono masih ada keturunan Catchy, namanya Ichiro dan Ichiban. Mereka semua lucu dan baik. Bulu-bulunya yang tebal dan panjang, sangat rapi dan bersih. Begitu pula tubuhnya yang kekar dan berisi. Haiii… Mereka berdua adalah idola di kostan kami. Namun kini, aku tidak lagi dapat menyaksikannya setiap hari. Hanya mendengar kabar dari teman-teman yang masih ngekost di rumah Bapak Darsono. Sungguh, aku ingin menjumpa mereka kembali, sekalian bersilaturrahim dengan teman-teman di sana. Teman-teman yang ramah, baik, penuh semangat dan rajin belajar. Semoga cepat lulus kuliah nya yah…. De Ade semuaa…😀

Aku suka kucing. Karena kucing adalah makhluk hidup yang lucu dan menggemaskan. Apalagi kalau ia sedang duduk melamun, maka menyaksikannya adalah kebahagiaan tersendiri bagiku. Dalam hati ku bertanya, "Apakah yang sedang ia pikirkan?".

Kucing adalah makhluk ciptaan Allah. Kucing adalah hewan peliharaan yang unik. Ia sangat mudah akrab dengan sesiapa saja yang ia temui. Apalagi kalau saat bertemu dengannya, kita tersenyum. Maka kucing akan mengerti bahwa kita menyayanginya. Dan kemudian ia akan mendekat, selanjutnya menjadi akrab dengan kita.

Sepanjang pengamatan yang aku lakukan terhadap kucing, ada satu aktivitas yang dilakukannya rutin, yaitu bersih-bersih badan. Aku menyebutnya mandi, karena memang benar, setelah menjilat-jilat bulu-bulu di badannya, ia menjadi bersih. Dan mungkin juga lebih segar sepertinya yaa.😀

Tadi pagi, dalam perjalanan menuju tempat aktivitas, dari kejauhan aku menyaksikan dua ekor kucing. Mereka sedang bermain-main di sebuah mobil yang sedang diparkir. Saat aku mendekat padanya, ku melihat kucing pertama sedang mandi pagi, sedangkan kucing kedua mondar-mandir saja. Entah apa yang ia cari. Aku juga tidak bertanya. Karena kalaupun bertanya padanya, ku yakin ia akan melirik sejenak lalu berpaling. Aih, aku tidak mau hal ini terjadi. Karena akan tersia. Maka ku hanya memperhatikan saja, seraya merenungi diri. Aku bertanya pada diriku. Menanya padanya tentang aktivitas yang aku lakukan. "Ngapain aja sich aku di dunia ini? Apakah bermakna yang aku lakukan? Bagaimanakah aku akan dikenang kelak ketika aku sudah meninggal? Lalu, saat aku ada di dunia ini apa saja kah hal berarti yang aku lakukan?

Memperhatikan adalah satu aktivitas yang membuatku kembali tenang saat kerancuan pikiran menghadang langkah dalam melanjutkan perjalanan. Mengamati adalah kegiatan yang mengajakku kembali merenungi dan mengenal diri. Kemudian menghayati menjadi kelanjutan dari aktivitas sebelumnya. Dan menikmatinya, menjadi rangkaian aktivitasku. Aktivitas yang ingin ku kenang lagi, di ujung perjalanan nanti. Aktivitas yang dalam menempuhnya ku rangkai dalam bentuk barisan kalimat seraya tersenyum. Ya, saat ini pun sama. Aku tersenyum saat menjalaninya. Tersenyumku pada rerangkai huruf yang saling berangkulan. Tersenyum pada kekata yang membuat rasaku membuncah. Terharu kadang, di waktu lain tersedu. Pun pada kesempatan lain ku sempat merasakan hangat di lembaran pipi. Ya, menitiknya airmata bukan karena aku terluka pun berduka, namun karena tertakjub dan bersyukurku kepadaNya. Akhirnya, impianku yang dulu pernah ku lekatkan di depan mata, menjadi nyata.

Dulu, dahulu sekali. Sudah lama memang. Ketika aku baru menyelesaikan pendidikan di sekolah kejuruan. Pada waktu itu aku bertanya sendiri, menanyai diri "What will you do, what are you doing, what you did?". Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul untukku, dariku, dan aku yang perlu memberikan jawaban padanya. Karena aku tahu makna dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang membuatku segera bangkit dan kemudian melangkah. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, lalu ku lihat dan ku perhatikan lembaran-lembaran kalimat di dunia digital meluncur dari sebuah lokasi dan melayang di udara. Itulah impianku. Aku mengimpikannya. Impian yang aku ingin mewujudkannya menjadi nyata. Lalu, berapa lama waktu yang ku perlukan hingga ia menjadi nyata? Lima, sepuluh, lima belas tahun, dua puluh bahkan sampai dua puluh lima tahun hingga berabad-abad? Sepanjang waktuku hidup di dunia ini, aku ingin mengusaha untuk mewujudkannya. Meski selangkah ku akan terus berjalan. Walau selirik ku ingin kembali menatap. Walau seulas, aku akan tetap tersenyum. Meski sebaris bahkan sekata adanya, aku perlu terus menulis. Hingga impian menjadi kebiasaan.

Lama waktu yang ku tempuh. Banyak pihak yang membantu. Beraneka cuaca yang mengiringi perjalananku. Berbagai rasa yang ku alami. Berulang kali ku terlelah, letih hingga mual-mual tak tertahankan. Semua menjadi peneguh diri untuk teruskan berbagi. Karena dengan berbagi, akan terkuatkan lagi diri ini, teringatkan lagi pikiran ini, terlegakan lagi rasa ini. Karena dengan berjumpa banyak pihak, bertemu dan berteman cuaca yang berganti, aku mengerti bahwa aku tidak sendiri dan tidak akan pernah benar-benar sendiri. Banyak… dan banyak lagi yang mengalami hal serupa dengan yang ku alami walau tak sama. Banyak, banyak lagi yang menemui rasa semirip dengan yang ku rasai, walau di wakti berbeda. Intinya adalah nikmati dan syukuri saat ini. Insya Allah damai dan tenang di hati.

Mariii… apapun yang sedang engkau lakukan, teman, resapilah ia, hayati dan perhatikanlah benar-benar. Hingga engkau sampai pada tingkat mensyukurinya. Walau tidak mudah memang, namun engkau bisa bersyukur detik ini juga.

Terkadang, memang merenungi keadaan seperti ini menjadi sangat penting. Memahami situasi yang kita jalani seperti saat ini adalah sangat berarti. Karena kita tidak pernah tahu akhir dari hari ini. Apakah kita sudah mensyukurinya? Atau belum? Syukur yang akan menjadi penambah nikmat. Syukur yang membuat kita tersenyum lebih ringan dan kemudian berbahagia selamanya bersama senyuman.

So, saat ini apakah yang engkau lakukan, teman? Apakah engkau sedang membersamainya dengan senyuman? Senyuman penuh kelegaan karena engkau menghayati keadaan. Senyuman penuh kebahagiaan karena engkau menikmati kegiatanmu. Kegiatan yang membawamu pada tercapainya impian. Kegiatan yang bertabur kebermanfaatan nan mensenyumkan sesiapa saja yang merasakan. Sungguh, menjadi insan bermanfaat itu indah, sungguh indah. Keindahan yang tidak dapat diucapkan dengan kata-kata saja, namun kita perlu merangkainya dengan tulisan. Tulisan yang mensenyumkan. Inilah yang aku lakukan teman, untuk melukiskan keindahan hati saat meneruskan perjalanan menuju impian. I am on the way, now. How about you? Hope… we meet someday, everywhere, yaa…

Best Regards,
~My Surya~
😀🙂😀

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s