Mentari terbit membawa bukti. Bahwa ia masih tersenyum hari ini. Senyuman yang ia persembahkan pada bumi pertiwi dan seluruh alam-Nya.

Mentari wahai mentari, jangan kau pergi tinggalkan kami. Karena ketika engkau tiada, benderang pun berlalu.
Mentari ku jauh di sana. Terus tersenyum dengan ringannya. Agar kami di sini pun merasakan. Hangat senyuman yang engkau tebarkan. Ia senantiasa baru, berseri dan bening. Sebening sinarmu saat menerpa embun di pagi hari. Kilaunya membersitkan harapan pada petani yang sedang melangkah di sisi jalan. Harapan hari ini hujan akan turun lagi.

Mentari engkau terindah. Sinarmu engkau beraikan bebas. Lepas dan tiada jarak sama sekali, engkau memberi bakti. Sungguh, darimu aku belajar banyak. Belajar tentang bagaimana cara menjadi pribadi yang bermanfaat. Bermanfaat semenjak pagi, hingga malam menjelang. Dan tadi pagi, engkau bersinar anggun sekali. Walau belum terik, namun jelas terasa engkau ada. Walau tidak selalu terlihat, namun engkau terus bersinar.

Mentari , engkau yang ku selalu kagumi. Engkau pernah berpesan kepadaku, dalam diammu. Pesan agar aku tetap tersenyum, sepertimu yang mensenyumiku saat ku sedih. Iiiih, kapan-kapan kita bereuni, yuks?!. Di bawah sebatang pohon yang rindang, aku akan menunggumu. Agar kita dapat bercakap banyak. Sedangkan terikmu tidak langsung mengenai kulitku. Dengan begitu, aku akan nyaman bersamamu.


Pada suatu sore, aku melihat mentari sedang duduk di sebuah kursi panjang. Kursi tersebut cukup untuk ditempati oleh lima orang. Namun pada saat itu, mentari sedang sendiri. Di pangkuannya ada sebuah buku catatan. Sedangkan di tangan kanannya ia sedang memegang sebuah pulpen. Tintanya hitam. Karena terlihat dari hasil catatan yang telah bertaburan di buku tulis yang sedang mengembang. Walaupun sekilas aku melihat, namun jelas. Bahwa warna tinta itu hitam.

Mentari adalah sahabatku. Sahabat semenjak kecil. Ia seorang yang pendiam. Dan aku tahu jelas kebiasaan-kebiasaan mentari. Baik kebiasaan kurang baik maupun kebiasaan terbaiknya. Adapun salah satu kebiasaan mentari adalah menulis di buku harian. Kebiasaan yang sedang ia lakukan ketika aku menatapnya, sore itu. Mentari menyenangi aktivitasnya. Sama seperti aku menyenangi aktivitas menyaksikan mentari yang tersenyum setiap pagi.

Tidak berani aku mendekatinya lebih dekat lagi. Hanya memandang dari kejauhan, saja. Karena aku ingin memberikan kesempatan pada mentari untuk menikmati waktu sendirinya. Ya, aku melihat mentari memang sendiri. Tapi entahlah disana, meibi ia sedang bercengkerama dengan huruf-huruf. Sahabatnya yang lain.

Lalu, aku yang berada tidak jauh dari mentari, segera mengeluarkan buku harianku pula. Kami memang mempunyai hobi yang sama. Curhat di diari. Xiixiii. Itulah yang membuat kami dekat dan selalu akrab. Walaupun memang, saat merangkai catatan, kami saling diam-diaman, terlihat memang demikian. Namun pernah pula, saat kami terlihat serius dan asyik, aslinya kami saling curhat-curhatan, lhooo. Hohoo.

Buku harianku yang bersampul warna hijau toska, mulai ku buka. Sehingga sampulnya tidak terlihat lagi. Berganti dengan gambar-gambar yang lucu. Ya, isi buku harianku penuh dengan gambar. Gambar yang terkadang ku ukir sendiri. Namun ada yang bawaan dari percetakannya.

Terkadang aku menggambar, terkadang aku merangkai kata. Saat menggambar, ku sesuaikan dengan suasana hatiku. Kadang aku sendu. Kadang ku bahagia. Gambar-gambar yang hadir bersamaan dengan tetesan ingatan. Tetesan yang lama kelamaan membanjir.

Adapun gambar-gambar yang ku buat bukan kartun, bukan pemandangan alam, bukan pula lukisan tokoh-tokoh terkenal. Namun gambaran isi hatiku. Banyaaaak sekali jumlahnya. Ada yang kecil, ada yang besar. Ada yang rapih, ada pula yang asal-asalan. Karena aku ingin tahu keadaannya, saja. Haaaah!

Di dalam buku harian, terkadang aku corat-coret apa saja, Dan saat ini, aku sempat merangkai bait-bait doa untuk calon jodohku :

"Wahai engkau, yang namamu telah tertulis nyata di Lauhul Mahfuz-Nya. Ku mengirim doa pelipur asa teruntukmu. Saat ini aku masih belum percaya. Karena aku seakan berada di alam mimpi. Aku yang sempat bermimpi, perlu terus melanjutkannya. Hingga aku benar-benar terjaga, bersamamu.
Wahai engkau, tetaplah berteguh dengan prinsipmu. Jagai iman dan mulianya akhlaqmu. Perhatikan benar-benar langkah-langkahmu. Termasuk jalan-jalan yang sedang engkau tempuh. Agar saat kita bersua, memang di jalan yang Allah ridha.
Wahai engkau, calon imamku di dunia dan akhirat. Perkuat tekadmu kokohkan niat. Lalu, berjuanglah dalam usaha nyata dan do’a-do’a tulusmu. Berdoalah dengan keikhlasan. Agar kita dipertemukan olehnya di puncak keridhaan. Biarlah lama waktu terhabiskan. Yang penting engkau selalu dalam keadaan terjaga, yaa. Aku bahagia menantimu.
Wahai engkau, usah tergesa dalam melangkah, pelan-pelan saja dan ikhlas. Karena kita tidak boleh terpaksa dalam melakukan sesuatu. Karena keimanan pun perlu dengan kesadaran."

Lalu, aku yang tidak berada jauh dari mentari, pun sukses merangkai kalimat-kalimat buat seseorang, entah siapa. Namun aku merangkainya dengan yakin. Bahwa kami ada.😀 Dan usai merangkai bait-bait tersebut, aku pun mengangkat wajah dan menoleh ke arah mentari berada tadi. Namun aku kaget! Karena mentari tiada di sana.

Dan aku pun berpikir, Kemanakah mentari, sahabatku?

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s