Fauzan Nararya Rizqulloh
Cute

Pagi ini, seperti pagi biasanya, aku berangkat ke tempat aktivitas. Berangkat lebih awal dari biasanya, karena aku ingin berubah. Berubah dari kebiasaan kurang baik menjadi kebiasaan baik, disiplin. Tentu saja dengan tidak lupa sarapan dulu.

Pagi ini, aku sarapan dengan lontong Padang. Makanan khas dari kota kelahiranku. Ah, selalu saja ada penghibur dikala rindu pada kampung halaman memuncak. Ya, salah satunya adalah dengan mengkonsumsi makanan khasnya. Tidak sering memang, jajan di luar. Hanya sesekali saja. Dengan alasan, taragak kampuang halaman.

Pagi ini, sarapan ku jalani bersama dengan Syasya. Salah seorang teman satu kostan yang juga berasal dari kota Padang. Syasya adalah adik tingkat di almamaterku Politeknik LP3I Bandung. Kebersamaan kami di kota ini baru dua tahun terakhir. Sedangkan pada waktu di kampung halaman dulu, kami sama-sama belum pernah berjumpa. Ah, jodoh tidak kemana. Pada waktunya bertemu juga. Begitu pula halnya dengan takdir kami. Akhirnya, di sini kami merasakan kehidupan layaknya keluarga. Seperti adik dan kakak saja, layaknya saudara kandung. Dan hari ini, kami sama-sama rindu pada kampung halaman. Kami rindu sanak saudara, ayah dan Bunda, termasuk alamnya yang sejuk.

Pagi ini, adalah hari yang menyenangkan. Seiring dengan semakin cerahnya sinar mentari, kami pun melangkah. Setelah mandi dan berdandan cantik, tadi. Kami pun semangat menuju sebuah lokasi yang biasanya menjual lontong Padang. Ibu penjual sudah kenal dengan kami. Walaupun tidak terlalu akrab, namun tahu lah. :D  Hanya sekadar kenal. Makanya, kami pun membayar setelah selesai sarapan. Karena jual beli pun terjadi di antara kami. Bertransaksi pagi hari, sungguh indah yaa.

Pagi ini, aku merasakan bahwa pintu rizki membuka dengan luas. Perasaan rindu dengan kampung yang sejak semalam begitu memuncak, kini lebur sudah. Seiring dengan banyaknya pemandangan yang juga membuatku tergeli. Seperti ketika terjadi komunikasi seperti ini, misalnya. Ketika aku berada di dalam angkot. Di perjalanan menuju lokasi biasa aku beraktivitas.

Pagi ini, ada kisah yang ku saksikan.

“Seorang Ibu-ibu yang satu angkot dengan ku, ternyata telah sampai di tujuan lebih dahulu. Beliau naik lebih dahulu, sebelum aku naik angkot yang sama. Dan saat beliau telah turun, akan membayar biaya sewa angkot, Bapak supir pun bertanya, “Dari mana Bu?”

Ibu-ibu yang berusia semirip dengan Bundaku, pun menjawab dengan semangat, “Dari tadi, Pak. Pas naik.”

Nah, jawaban yang unik, bukan?

Bapak supir pun geleng-geleng kepala. Karena tadinya beliau bertanya agar dapat menentukan tarif angkot untuk Ibu tersebut. Namun, setelah mendapatkan jawaban demikian, beliau pun menebak saja. Dan mengenakan tarif entah berapa. Lalu, mengembalikan kelebihan uang kepada Ibu-ibu tersebut. Karena Ibu-ibu tadinya tidak memberikan uang pas. Makanya Bapak supirnya bertanya ke Ibu penumpang. Aaaa, kejadian tadi membuat aku yang sedang duduk merenung, tiba-tiba terjaga. Aku pun berpikir sejenak. Aku teringatkan pada sebuah pesan dari seorang sahabat. Bahwa apapun yang engkau temui dapat menjadi ide untuk merangkai sebuah tulisan. Lalu, aku pun berteriak di dalam hati, “Yes! Ada ide.” Heheee.

Pagi ini, secara tidak langsung, Ibu-ibu penumpang angkot pun, telah berbagi senyuman denganku. Alhamdulillah, ini rizki terindah.

Pagi ini, aku sangat ingin merangkai catatan lagi. Dan ini sudah aku rencanakan dari semalam. Ketika aku menangis tersedu-sedu di balik selimut, menjelang bobo’. Karena pada saat itu, ingatan terhadap kampung halaman tercinta, terlihat jelas dalam pikiranku. Termasuk kenangan tentang masa kecil dulu. Masa kecil yang turut menjadi landasan, mengapa aku menjadi seperti saat ini, sekarang. Masa kecilku yang indah, masa kecilku yang megah. Pun berlimpah anugerah. Ya, bersama kasih sayang dari kedua orang tua yang pemurah, aku bertumbuh dan menjalani hari-hari dengan mudah. Sehingga dengan mudah pun aku terharu, ketika merindukan beliau, kini.

Pagi ini, menjelang siang. Aku yang sedang berada jauh dari kedua orang tua, ingin merangkai bait-bait suara hati mewujud paragraf. Agar ia abadi, karena ia pernah ada. Agar, rasa ini pun memprasasti. Teruntuk beliau yang tercinta, tersayang dan ku banggakan :

***

Pagi ini, ada senyuman khusus buat Ibunda:

“Assalamu’alaikum, Ibunda…
Terima kasih atas senyuman yang memancar dari jiwa Ibunda yang cantik. Senyuman yang ku saksikan mengembang indah di wajah Bunda dalam kesempatan kita bersua. Senyuman yang menjadi teladan bagi Ananda, dari Ibunda.

Wahai Ibunda…
Mohon maafkan segala sikap, ucapan dan perbuatan yang pernah mengakibatkan Ibunda Ke-cewa. Karena waktu tidak akan terulang. Ia telah membawa semua kenangan, kisah dan cerita tentang hari-hari kita yang lalu. Dan tidak dapat Ananda kembali ke zaman itu (lagi) untuk memperbaiki segalanya. Hanya saja, maaf menjadi pelebur dosa-dosa terhadap Ibunda.

Wahai Ibunda…
Semoga hari ini dan hari-hari selanjutnya Ibunda lebih sering berbahagia, penuh keceriaan dalam limpahan cinta-Nya. Karena cinta Ibunda yang berlebih dan Ibunda titipkan kepada Ananda hingga saat ini masih ada. Semoga terjaga ia selamanya. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Wahai Ibunda…
Tolong doakan Ananda yang sedang menelusuri jejak-jejak Ibunda secara berkelanjutan. Karena Ananda ingin menjadi seperti Ibunda.

Wahai Ibunda…
Buat Ibunda yang penuh kasih sayang, Ananda sayang Ibu. Salaam manis buat Ibunda terkirim dari sudut qalbu. Sebagai ungkapan syukur karena Ananda bahagia bersama Ibunda. Namun ketika kita berjauhan raga, doa mengalir tiada putusnya. Seperti aliran sungai ke muara. Dan Ibunda adalah muara doa Ananda. Harap menjadi penyejuk jiwa Ibunda, menenteramkannya. Semoga sampai pada tujuan dengan baik pada waktu yang tepat, ya Bun…

~~~

Pagi ini, ada hadiah istimewa buat Ayahanda:

“Assalamu’alaikum, Ayahanda…
Baik-baik dan sehat semoga, keadaan Ayah pagi ini.

Wahai Ayahanda…
Terima kasih atas perhatian dan pemberian yang terbaik selama ini. Semenjak Ananda belum ada, Ayahanda penuh perjuangan dan berusaha. Hingga akhirnya, Ananda pun lahir ke dunia melalui rahim Ibunda. Setelah berdiam cukup lama di sana, sembilan bulan lamanya. Dan hingga saat ini, pemberian terbaik apakah yang Ananda persembahkan buat Ayahanda? Diri ini masih bertanya.

Wahai Ayahanda…
Teringat kisah tentang kita, saat video kenangan kembali diputar dalam ingatan Ananda. Sungguh, Ayah adalah laki-laki bijaksana. Penuh dengan pengorbanan.  Mendidik, menjaga, mengasuh dan memberikan perhatian berlebih kepada Ananda. Walaupun tidak terlihat secara langsung, namun terbukti nyata.

Wahai Ayahanda…
Betul pribadi seperti Ayahanda yang menjadi dambaan Ananda, kelak bila menemukan pendamping diri. Karena sungguh, ia membutuhkan pemerhati sebagaimana yang Ayahanda pernah buktikan.

Wahai Ayahanda…
Tidak akan pernah berujung kisah di antara kita, seperti jalan yang membentang. Meski ia bercabang, namun semua itu menjadi pertanda bahwa akan ada jalan lain setelahnya. Seperti hari-hari yang berlangsung. Setelah sore, ada malam, berikutnya pagi dan siang hari. Kemudian sore akan datang lagi. Ah, ingatan tentang hal ini mungkin saja hanya datang sekali. Maka Ananda usaha untuk mengurainya di sini. Pada beberapa detik waktu yang Ananda punyai saat ini.

Wahai Ayahanda…
Rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj’alna lil muttaqiina imaama. Aamin yaa Rabbal’alamiin.

***

Pagi ini, Teh Bella pun berbagi senyuman buat ku. Senyuman khas dari salah seorang keponakan beliau yang luccuuu. Picture tersebut buat ku tersenyum melayang saat pertama kali menyaksikannya. Membayangkan ekspresi aslinya. The baby name is Fauzan Nararya Rizqulloh. Aha? Cakep dan lucu kan namanya juga? Aku suka. Makanya, ku jadikan saja sebagai image dalam postingan kali ini. Xixiii. Teh Bella, thanks so much.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s