Bahasa Melayu: Titisan air hujan di atas permu...
Bahasa Melayu: Titisan air hujan di atas permukaan daun. (Photo credit: Wikipedia)

Hari ini. Dari kejauhan aku menyaksikan pemandangan alam yang rupawan. Pemandangan berupa gumpalan awan hitam yang sedang berlarian, berkejaran dan beterbangan ke satu arah. Karena mereka ringan. Mereka berarak beramai-ramai dengan rapi dan teratur. Kemudian saling mendekat. Pemandangan seperti ini menandakan bahwa sesaat lagi akan turun hujan. Ya, pemandangan ini mencuri perhatian ku. Hingga aku pun terpesona. Tidak berapa lama kemudian, hujan pun benar-benar turun. Hujan turun berupa tetesan air yang ramai sekali.  Adapun hujan terjadi beberapa waktu setelah awan terkumpul banyak.

Saat hujan turun ke bumi, aku pun asyik memperhatikannya. Tetesan air yang sejuk itu, membuat pikiran menjadi tenteram. Ah, aku ingin berada di antara mereka. Ya, di antara air-air yang sedang berebutan turun ke bumi.

Kemudian, aku pun membuka jendela dan mengulurkan dua tangan ke arah luar. Lalu menghadapkan jemari ku ke arah langit seraya berusaha menampung air yang menetes.  Namun gagal terkumpul banyak. Hanya mampu membuatnya basah. Tidak puas dengan hanya membasahi jemari saja, aku pun segera berlari ke halaman melalui pintu depan. Dan selanjutnya, berhujan-hujanan ria di taman. Di sekitarku ada bunga-bunga yang berbahagia. Mereka senang karena akhirnya hujan turun lagi. Dan mereka dapat minum yang banyak.

Aku senang bermain air. Aku suka sekali basah-basahan. Dan aku sangat gemar memperhatikan dedaunan yang kuyup oleh air hujan. Apalagi berbecek-becek ria di tanah yang berlumpur. Aku semakin bahagia. Hmmm, dengan semua ini, aku teringatkan pada masa kecil dulu. Saat aku mempunyai kesibukan menata taman bunga yang tidak begitu luas. Taman bunga di halaman rumah kami.

Aku mencintai air yang menebarkan kesejukan. Sama seperti aku mencintai mentari yang menebarkan kehangatan. Aku merindui hujan saat mentari bersinar dengan teriknya, Dan saat hujan benar-benar telah turun ke bumi, maka aku pun menikmati kebersamaan yang indah dengannya. Karena saat mereka tiada, aku begitu mengharapkan kehadirannya. Nah, setelah hujan turun ke bumi? Semua kerinduanku pun luruh dan melebur lalu bersatu dengannya. Seperti tetesan hujan yang menyerap ke dalam tanah. Ia hilang bersama bekas yang terlihat.

Adapun catatan saat ini adalah bekas-bekas rinduku yang pernah hadir terhadap hujan. Rindu yang akan hadir lagi, ketika hujan belum turun ke bumi. Rindu yang akan hadir kembali. Rindu yang tiada bertepi.

Hari ini, di bawah hujan. Aku memperhatikan suasana alam dan sekitarnya. Aku duduk terpaku karena mulai kedinginan.

Aku ingin tidak membeku. Maka, meski di bawah hujan, ku coba gerakkan jemari satu persatu. Bergantian.  Kemudian aku merangkai beberapa buah kata mewujud paragraf-paragraf sederhana. Paragraf-paragraf yang menceritakan tentang aku dan hujan.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s