Ingin menghilangkan segala janji dari ingatan, tentu tidak mudah. Terlebih lagi terhadap hutang. Hutang budi, misalnya. Hutang yang tidak akan pernah dapat terbalas. Meski dengan berlian atau permata yang harganya mahal, yaa. Lalu, bagaimana cara membalas budi terhadap beliau-beliau yang telah berbaik hati kepada kita? Saat kita ingin membayar?

Aku tertegun dalam ingatan terhadap beliau semua. Beliau yang berjasa walau tanpa nama. Beliau yang berbudi, dan tidak mengharap kembali. Beliau, beliau yang semoga senantiasa tercurahi pahala atas amal baik yang beliau laksana.

Ah, bersama kebaikan demi kebaikan dari beliau yang berbudi, kita dapat menjadi seperti saat ini. Dan sekarang, saat terbaik bagi kita untuk kembali mengingat beliau, apabila jauh di sana. Sedangkan apabila beliau dekat di sisi, tersenyumlah dengan sepenuh hati. Lalu laksana apa saja yang dapat kita baktikan. Karena kita bahagia menjadi bagian dari kebaikan beliau. Dan kita bertumbuh dalam kebaikan-kebaikan yang beliau teladankan.

Kalau hutang budi tidak dapat dibayar, namun hutang berupa materi dapat, bukan?

Kalau saja hutang budi tidak dapat dibayar sedang kita masih sangat ingin melunasinya, maka ada satu cara yang dapat kita laksana saat ini juga. Yaitu, berbuat hal serupa dengan yang pernah kita terima. Terhadap siapa saja. Dan bayangkan bahwa beliau-beliau yang kita baiki adalah diri kita yang pernah menerima kebaikan. Bayangkan pula bahwa kita sedang berbuat hal serupa sebagaimana yang pernah kita terima. Lalu, bagaimana perasaan kita pada saat yang sama? Adakah terbersit niat di dalam hati, untuk memaksakan kehendak? Atau kita sedang melakukan sesuai dengan panggilan hati? Nah, dalam kondisi begini tentu membuat hidup menjadi lebih tenang.

Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari catatan kali ini adalah tentang "Belajar mencubit diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kita mencubit orang lain." Karena bisa saja, segala yang kita perlakuan terhadap orang lain, merupakan cerminan dari diri kita sendiri. Oleh karena itu teman, keep positif thinking yaa. Agar bahagia senantiasa menyertai kita.

Catatan ini terbit karena baru saja aku ke_cewa. Aku ke_cewa karena belum siap menerima kenyataan; Bahwa ternyata, masih saja ada yang lupa-lupa-lupa. Lupa-lupa lagi-pada-hutang (bukan budi). Padahal sebelumnya sudah janji akan melunasi. Namun dengan berbagai alasan yang disampaikan, akhirnya aku ke_cewa lagi. Hikzz. Keciaaaan aku pada diriku sendiri. Kalau saja tadi dia segera e_mosi. Namun aku janji, akan bersabar dengan sepenuh hati. Xixixii.😀 Walaupun ujung-ujungnya, aku yang kena o_mel meibii, biarlah. Demi engkau di sana tersenyum, aku di sini rela ter$enyum sendiri. Karena aku yakin dan percaya, ada hikmah terhadap apapun yang terjadi. Semoga ada makna yang terpetiki dalam segala situasi. Sebagai jalan bagi diri ku ini untuk melanjutkan langkah-langkah lagi.

Oke,
Selamat tinggal para penjanji.
Karena aku tidak sudi menghubungi engkau, lagi.
Lalu…
Engkau kata aku sedang patah hati? gtalk.B0E
Memang begitu kira-kira, kini.

Engkau kira aku menyimpan rasa di hati?
Tadinya iya, aku ke_cewa.
Namun kini, beda lagi.
Mungkin aku sedang menertawai diriku sendiri.
Mungkin juga aku akan menertawainya nanti.
Namun aku tidak akan menghilangkan kesan ku tentang hari ini.
Saat aku bersamamu, tadi.

Peace_sekepinghati.

Picture : http://michilavea.tumblr.com/

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s