Wahai Mentari. Ku sedang berbicara denganmu. Engkau yang jauh di sana dan tidak dapat ku rengkuh. Maka ku susun kata untuk menyampaikan suara.

Adapun salah satu alasan mengapa aku masih ada di sini dan bertahan sampai saat ini adalah engkau. Namun saat aku mengetahui bahwa ternyata engkau sudah tidak ada, maka masih sanggupkah aku bertahan?

Aku tidak mengetahui dengan pasti, tentang segala yang aku alami semenjak mengenalmu. Akan tetapi, aku mengenalmu pasti karena ada makna. Oleh karena itu, sedapat mungkin aku berusaha untuk menggali makna tersebut. Baik ketika engkau sedang bersamaku dalam waktu-waktu yang kita habiskan bersama. Maupun ketika engkau benar-benar sudah tidak ada lagi, seperti saat ini. Ya, karena aku ingin belajar banyak hal bersamamu. Engkau yang akhirnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari hari-hariku.

Sebelum

mengenalmu, aku menyebut diriku Mentari. Mentari yang ku harap dapat menjadi lebih bermanfaat dalam hari ini yang aku jalani. Mentari yang ku sangat kagumi. Mentari yang menjadi salah satu jalan hadirnya motivasi. Agar aku bergerak lagi. Bergerak dan bangkit kemudian meneruskan langkah-langkahku. Mentari yang saat mengingatnya, aku menjadi semakin yakin. Bahwa ia ada karena berarti. Oleh karena itu, berusaha untuk menseri-serikan hari adalah jalan yang ku tempuh. Dari waktu ke waktu ku usaha lebih sering. Hingga akhirnya aku pun mempunyai kesempatan untuk mengenalmu. Maka engkau akhirnya menjadi Mentari di hatiku. Sedangkan aku, tetaplah diriku, saat bersamamu.

Setelah mengenalmu, aku pun memanggilmu dengan sebutan Mentari. Mentari yang hampir setiap hari ku rasakan kehangatan sinarnya. Mentari yang membuatku semakin kagum dan terpesona. Mentari yang setiap hari, ada untuk bersinar. Mentari yang selama-lamanya ada, hingga dunia ini benar-benar tiada. Ah, sungguh engkau berarti. Menerangi siangku dan menyelipkan harapan di hatiku ketika malam datang. Lalu memesan padaku bahwa engkau akan kembali lagi esok hari.

Berulang tahun berganti, beberapa kali. Bertukar angka demi angka pada kalender, sungguh seringnya. Sedangkan engkau tetaplah satu tiada terganti. Dan tidak akan pernah tertukar walau sekali. Engkau selamanya Mentari yang menerangi hari-hariku. Walaupun memang, terkadang awan menutupi cerah wajahmu. Karena aku percaya bahwa engkau pun mempunyai rasa dan pikir. Namun engkau pun lebih mudah menebasnya. Seiring dengan kembalinya raut wajah yang segera terukir senyuman penuh kebahagiaan. Kebahagiaan yang aku rasakan pun menjadi milikku, pada saat yang sama. "So, lebih sering tersenyum yaa," bisikmu padaku pada waktu-waktu yang lalu. Dan bagikanlah hanya kebahagiaan, tambahmu pula. Sehingga kini, aku pun ingin menitip padamu selembar senyum. Senyum yang semoga mensenyumkanmu, pula.

Tersenyumlah lebih sering dalam bilangan hari. Lalu bagikanlah dengan senang hati. Maka engkau dapat merasakan kebahagiaan kembali kepadamu. Setelah ia memantul dari wajah-wajah yang engkau temui. Ya, hanya tersenyum.

Dan lembar yang sedang berada di hadapanmu saat ini adalah merupakan bagian dari senyumanku hari ini. Senyuman yang ku ingin agar ia menjadi abadi. Abadi selalu untukmu. Lalu, engkaupun tersenyum bersamanya. Senyuman yang kemudian engkau kembalikan lagi kepadaku. Ai! Sesungguhnya siapakah engkau? Hingga aku ingin berbicara denganmu seperti ini. Dan aku tidak tahu lagi, tentang apa yang sedang aku alami detik ini.

Aku yang sedang duduk manis sendiri, kembali merenungi diri. Kembali untuk menanyai diri, lalu memberinya beberapa jawaban yang aku rangkai sendiri pula. Tentu saja setelah mencari beberapa referensi dari sekitar. Jawaban yang semoga dapat membuatnya mengerti, bahwa tidak ada yang sia-sia. Termasuk tentang aktivitas yang sedang aku lakukan saat ini. Menyepi dalam kerumunan kata. Haaaaah!😀 Aku ingin bersuara namun tak kuasa. Lalu ku tulis saja agar ia tetap ada.

Aku yang ingin tersenyum di depanmu, namun tak bisa. Maka ku rangkai ia mewujud cerita. Cerita tentang kita. Kita yang ‘mungkin’ saja pernah bersua ataupun tiada. Kita yang ‘mungkin’ saja pernah bersapa dalam ingatan. Kita yang ‘mungkin’ saja akan bersama selamanya. Dan lewat susunan kata, aku yakin bahwa engkau dan aku ada agar kita selalu bersama selama-lamanya.

Engkau Mentari, berulangkali ku usaha menata kata untuk mendeskripsikan tentang dirimu sesuai dengan pengetahuanku tentangmu. Namun belum juga aku merasa bahwa kata-kataku telah sempurna. Maka yang aku perlukan ketika engkau sedang tidak bersamaku adalah, engkau. Engkau yang tetap menjadi dirimu setelah bersamaku. Seperti aku yang adalah aku saat kita bersama. Dan pesan ini ku sampaikan, untukmu. Karena ini mauku. Menuliskannya, selagi engkau jauh. Karena setelah kita berdekatan, mungkin aku tidak dapat mengucapkannya. Walau sekata. Karena aku asyik menyaksikan senyumanmu.

Ya, aku suka saat engkau tersenyum.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s