….

Di halte Asia Afrika bermartabat, ini. Aku duduk sendiri. Menantimu, Siti. Mantan tetanggaku.

Sebelumnya, kita memang telah berjanji untuk jumpa di sini. Karena kita akan berangkat ke taman bunga, di Kota Baru Parahyangan. Uhuuy…??!

“Let’s mbolang ke kota bibiku,” ajakmu.
“Di sana ada sebuah taman yang banyak bunganya,” tambahmu pula.
“Oiyaa,? Aha! Mari kita ke sana,” jawabku antusias.

Dan seiring bergulirnya waktu, akhirnya hari ini pun datang. Tanggal satu Muharram 1435 Hijriah di tahun baru. Kita akan merealisasikan janji dulu. Janji yang pernah terucap dari bibir kita.

Rencana awal, berdua saja. Karena kita sama-sama belum ada pasangan. Yupz duo jomblo sejati. Xixiixi. Kami jomblo karena punya visi dan kami sedang menjalankan misi. Salah satunya adalah saat ini. Misi kami adalah jomblo itu asyiikk, lho. Karena kami bebas pergi ke tempat-tempat yang kami kira menarik tanpa seorang yang melirik. But, kami dapat melirik-lirik karena tak ada yang akan cemburu. Upz! Malah jadi curhat di sini. Kan tadinya aku mau merangkai puisi sambil menanti Siti. Dan berhubung sampai saat ini Siti belum sampai di tempat kami janjian, maka jadilah ini catatan. Sebuah ungkapan suara hati dalam penantian. Penantian yang bermakna, semoga. Penantian bersama sahabat sejati, sekepinghati.

“…Dan cinta kita berharga, bukan karena sering bersama. Namun sebelum berjumpa, kita mati-matian menjaganya. Agar ia bernilai seperti saat ini. Terlebih lagi setelah kita bersua, nanti. Cinta kita perlu berada di tempat terbaiknya. Di posisi tertinggi dan yakin tersimpan dengan rapi. Cinta karena-Nya, kita titipkan lagi kepada-Nya. Karena Allah Rabb kita, percaya bahwa sebelum dan setelah kita bersua, cinta kita sungguh lebih berlebih kepada-Nya.Sehingga akan lebih mudah bagi kita untuk segera mengembalikan kepada-Nya (lagi).”

(Sebuah renungan di awal siang, tentang ingatan terhadap malam)

***

Hanya miliki tujuan, dan yakinlah bahwa engkau akan sampai. Maka engkau benar-benar dapat sampai di tujuan yang engkau yakini. Yakinlah. Yakin dengan sebenar-benarnya. Tentu saja dengan menjalankan beberapa hal yang dapat engkau lakukan. Dengan cara, melangkah. Ya, melangkahlah. Berjuang dan berusaha dengan keyakinan. Dan saksikanlah bahwa tiada yang sia-sia. Setiap usaha akan berbuah hasil.

Nah! Setelah engkau benar-benar sampai di tujuanmu, tersenyumlah dengan indah. Seindah senyuman mentari di pagi hari yang bening. Dan saksikanlah dirimu. Lihatlah bahwa engkau benar-benar sedang menikmati moment yang penuh dengan senyuman. Dan pada saat itu, engkau semakin yakin, bukan? Bahwa Allah Maha Dekat denganmu. Dia senantiasa memperhatikanmu tidak kenal waktu.

Hanya saja, ku sering lupa pada Perhatian-Nya yang berlebih padaku. Oh… diriku. Engkau tiada berdaya apa-apa tanpa pertolongan dari-Nya. Yakinilah ini dengan sepenuhnya. Maka engkau akan segera menanya diri saat ada yang memujimu. Pantaskah aku? Lalu menyungkur sujudlah engkau karena benar-benar sadar bahwa segala pujian hanya milik Allah. Alhamdulillaahirabbil’alamiin. Bisikmu di antara ingatan padaNya.

(Sebuah renungan di awal malam, tentang ingatan terhadap siang)

***
Terkadang kita hidup saat ini, tidak sepenuhnya. Ya, karena kadang kita tidak benar-benar menyadari yang kita alami saat ini. Sehingga timbullah ingatan demi ingatan. Ingatan yang membuat kita terkadang terbang jauh nun ke ujung angkasa, padahal kita sedang berada di bumi. Ingatan yang membuat kita tiba-tiba terdiam begitu lama, lalu berse-dih karenanya. Padahal semestinya saat ini kita sedang tersenyum. Atau sebaliknya. Kita tersenyum seraya membayangkan keindahan-keindahan yang akan kita jelang. Padahal jelas-jelas kita sedang mengenal diri. Ya, terkadang memang begitu adanya kita. Kita bukan menjadi diri kita pada suatu waktu. Namun semoga, kita lebih sering sadar diri. Ya, tahu diri. Seharusnya kita benar-benar sadar saat ini. Kita menyadari keberadaan kita di sini. Saat ini. Dan enjoy it. Karena saat ini akan segera berlalu. Ia tidak kembali lagi. Waktu yang ada akan berlalu, sedangkan kita, apakah yang telah kita baktikan sebagai bukti adanya diri saat ini? Inilah yang perlu kita ingat.

[Tamat]

🙂🙂🙂

One thought on “Yakin dengan Tujuan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s