Tingkatkan kesungguhan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dari hal-hal yang mampu kita lakukan terlebih dahulu. Misalnya dalam melakukan ibadah shalat, kita memahami makna setiap bacaan pada masing-masing gerakan shalat. Selain itu, kesungguhan juga dapat kita aplikasikan saat melakukan pekerjaan sehari-hari. Caranya adalah dengan mengikhlaslah karena Allah. Dan yakin bahwa Allah Maha Melihat apapun yang kita kerjakan.

Dan dengan menguatkan keyakinan bahwa janji Allah adalah benar. Oleh karena itu, berbuatlah karena-Nya semata. Dengan demikian, tidak ada lagi hinaan makhluk yang dapat membuat hati menjadi sakit, namun sakti. Tidak ada lagi pengabaian insan yang membuat diri merasa direndahkan. Namun tabah. Karena telah begitu kuatnya yakin dan percaya kepadanya. Semua karena Allah semata.

Kesungguhan menjadikan seorang yang sedang melangkah semakin tegap mengayunkan kaki-kakinya. Membuat seorang yang sedang berlari semakin cepat geraknya. Membuat seorang yang sedang duduk, tidak hilang ingatan dari-Nya. Apalagi seorang yang sedang berusaha. Ia semakin giat dan semangat. Dengan begitu, kesungguhan kita kepada-Nya perlu lebih optimal, bukan? Kalau kita ingin menjadi seorang yang produktif dalam berkarya. Menjadi tidak mudah berputus asa, namun teguh senantiasa.

Kesungguhan juga dapat kita lakukan saat sedang dalam kondisi bersantai. Dalam arti tidak sedang melakukan aktivitas yang berarti. Misalnya dalam penantian. Ketika kita menunggu di halte, menanti seorang yang berjanji menemui kita. Atau, saat menunggu seorang tukang sol sepatu yang akan lewat di depan komplek. Bersungguhlah dalam penantian. Menantilah dengan kesungguhan. Maka penantian tidak akan membosankan, namun menjadi sebuah kesempatan baik.

Beberapa waktu yang lalu, aku menanti. Beberapa jam sebelum ini, aku pun dalam penantian. Termasuk saat ini, aku pun sedang menanti.
"Menanti apa?," engkau menanya.
"Menanti seseorang tentunya," bisikku padamu.

Dan ‘mungkin’ saja, seorang yang aku telah nanti dan sedang nantikan dalam beberapa waktuku, adalah engkau, teman… Hehe.

Baiklah. Dua hari yang lalu adalah Selasa. Pada hari Selasa, aku libur dari aktivitas sehari-hari. Dan kesempatan terbaik itu, ku manfaatkan untuk berjumpa dengan seorang teman. Kami berjanji terlebih dahulu untuk dapat pertemuan. Namun ternyata kami tidak dapat bertemu sesuai perjanjian. Sehingga aku perlu menanti. Dan dalam penantian itu, aku bersungguh-sungguh. Dengan cara memanfaatkan waktu untuk merangkai sebait catatan,

"….. (bersambung)

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s