Ya, judulnya adalah perkenalan. Perkenalan yang semoga membawa hikmah, berkah dan manfaat semoga, aamin. Karena orang bilang, "Tak kenal maka tak sayang." Maka, semoga dengan adanya perkenalan akan timbul kasih sayang.

Perkenalan. Siapa yang tidak mengenal satu kata yang telah berimbuhan ini? Sebuah kata yang bermakna proses, berasal dari satu kata kenal.

Awalnya, temanku mengenalkan aku dengan ‘dia’. Dia? Siapakah dia?

Belum banyak yang aku tahu dari dirinya. Selain hanya beberapa catatan singkat yang ia rangkai. Semoga ia adalah seperti yang aku bayangkan. Dan kalaupun belum seperti yang aku bayangkan, aku ingin terus menjaga bayanganku ini hingga ia menjadi kenyataan. Bayangan tentang seorang yang ingin aku kenali dan aku sayangi.

Awal perkenalan dimulai dengan sapaan. Sapaan hangat yang maknanya mewujud doa.
"Assalamu’alaikum…," dia menyapaku pertama kali melalui pesan singkat. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasannya tentang dirinya. Akhirnya kami pun resmi kenalan, hari ini. Pagi tadi, di awal hari. Tepat saat mentari mulai mensenyumi bumi.

Ah, mengingat tentang mentari, mengingatkanku pada senyuman. Aku rindu sosok yang penuh senyuman. Dan bagaimanakah dengan dia adanya? Apakah ia murah senyum?🙂 Entahlah,… Namun sampai pada paragraf ini, aku menjadi tersenyum sendiri. Karena aku bahagia, mengenali seorang lagi pribadi di muka bumi ini. Seorang lagi. Ya, seorang ‘teman.’ Beliau adalah teman dari temanku. Namanya, sebut saja Edi. Dan Edi merupakan jalan bagiku untuk kembali merangkai senyuman hari ini, di sini. Senyuman berupa catatan yang mensenyumkan. Karena bagiku, sebuah moment perkenalan merupakan awal untuk pertemanan. Pertemanan yang berujung persahabatan. Ai! Akankah kami menjadi sahabat baik untuk masa-masa yang akan datang?

Edi menanya padaku, "Lagi disibukkan apa nih, pagi ini?"
"Oia, ini lagi di jalan. Sibuk melangkah aja," jawabku singkat. Sesingkat waktu yang tidak dapat terulang lagi. Karena ia akan segera berlalu. Lalu, aku pun mempercepat langkahku. Agar dapat sampai di tujuan dengan segera.

***

Beberapa saat kemudian…

Hapeku berdetak. Yang menandakan bahwa ada pesan masuk berikutnya.
"Oh,… Yani di Bandung tinggal sama siapa?, etc…" pesan dari Edi ku terima dengan selamat.
"Betul, betul, sekarang di Bandung," jawabku beberapa saat setelah pesan tersebut ku baca. Dan ternyata… ternyata… jawabanku belum lengkap.
"Maksudnya di Bandung tinggal sendiri? Orang tua di Padang?," pesan berikutnya ku baca. Ai! Kami pun berbalas message dan bertukar informasi.

Oh, begitu ya, caranya berkenalan. Saling tanya, saling jawab. Dari sini, aku belajar kembali tentang perkenalan. Perkenalan dengan seorang di sana yang aku belum tahu tentang ‘dia’.

"Siapakah ‘dia’ sesungguhnya?", aku ingin mencari tahu.

🙂🙂🙂

~ Yani ~

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s