Astaghfirullaahal’adziiim,
Hati…
Tiba-tiba ku rasakan denyutan di hatiku.
Lalu aku pun mendekatkan kedua telapak tanganku ke arahnya.
Namun hati yang tersimpan ini, tidak dapat ku raba.
Padahal, aku sangat ingin menjaganya, merawat dan memperhatikan kondisi terakhirnya.
Terlebih lagi saat ini, ketika ia berdenyut.

Hati ini…
sangat inginku melihatnya,
Untuk mengetahui, bagaimanakah ia punya rupa?
Apakah benar seperti yang aku bayangkan?
Apakah betul seperti yang orang-orang pernah sampaikan padaku?
bahwa hati merah warnanya.
Merah yang tidak terlalu gelap, pun tidak cerah juga.
Sehingga ada satu warna bernama merah hati.

Ah, hati…
Adakah engkau baik-baik saja, di sana?
Di sebuah ruang dalam diri ini, yang aku tidak akan pernah dapat ke sana.
Walaupun begitu, wahai hati, inginku menatamu,
untuk ku genggam dengan kedua telapak tangan ini.

Hati…
Orang bilang bahwa engkau adalah simbol cinta.
Benarkah?

Lalu, saat engkau sedang berdenyut saat ini,
adakah karena engkau sedang bersama cintamu?
Wahai hati… dengan siapakah engkau?

Hati…
Kini ku melihat engkau mulai tersenyum,
Karena engkau tahu, aku sedang mence-mas-kan-mu,
dan senyumanmu itu…
senyuman yang mensenyumkanku, hatiku

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s