English: A gate to indicate that we will enter...
English: A gate to indicate that we will enter into customary communal land areas of Kutai Kartanegara Sultanate’s. Bahasa Indonesia: Sebuah gerbang/portal yang menandakan bahwa kita akan memasuki kawasan tanah ulayat adat Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura di Anggana, Kukar. (Photo credit: Wikipedia)

Memang, tidak akan selamanya kita bersama dalam melanjutkan aktivitas seperti biasa. Karena benar, jalan hidup kita berbeda. Oleh karena itu, aku pun menerima sebaris kalimat yang pernah engkau ucapkan kepadaku pada masa dahulu, bahwa “Akhirnya kita akan berpisah jua.”

Bukan hari ini, esok atau lusa. Namun, terhitung sejak esok, hingga seratus hari jumlahnya. Maka kita akan benar-benar berpisah. Ya, kita tidak lagi bersama seperti beberapa tahun terakhir. Kita tiada akan dapat lagi bertatap mata seperti sedia kala. Kita juga ‘mungkin’ belum akan berkesempatan jumpa seperti saat-saat yang kita habiskan bersama, selama ini.

Dan hingga kelak hari yang ke seratus tiba, aku ingin tersenyum saat meninggalkanmu, bukan sebaliknya. Ya, betul.  Aku akan mensenyumimu, sama seperti ketika kita bersua untuk pertama kalinya, di sini.

Karena aku ingin menjadikanmu sebagai salah satu bahasa yang tidak pernah terucapkan melalui bibir dan suara ini.  Maka aku ingin menoleh padamu walau hanya sekali, saat aku akan melanjutkan langkah-langkah lagi. Bukan untuk terakhir kalinya, namun agar aku kembali teringatkan padamu, saat kita benar-benar telah berjauhan raga dalam bentangan jarak yang tidak lagi sedepa. Karena aku ingin selalu mengingatmu dalam perjalananku yang berikutnya. Karena engkau berarti. Karena engkau berharga. Karena, banyak lagi alasan yang ingin aku sampaikan padamu, namun tidak mungkin seluruhnya dapat aku rangkai dalam kata-kata. Cukup, cukup, tatapan kita yang bertemu pada hari ke seratus, yang menjadi bukti, bahwa aku padamu sungguh telah menyatu.

Sehingga, mungkin engkau dapat melihat aku tersenyum ‘tidak seperti sediakala’. Dan mungkin bagimu terlihat ‘ane-h’. Mungkin juga engkau bertanya-tanya pada saat yang sama. Namun aku ingin tetap tersenyum untukmu, engkau yang beberapa saat berikutnya, akan aku tinggalkan.

Wahai sahabat,…

Aku pergi tidak akan lama, walau mungkin tidak akan kembali lagi…

Namun percayalah, bahwa… aku senantiasa menjagamu di dalam jiwa ini.

Mungkin bukan untuk selamanya, namun ketika sekali engkau ada di sana, aku tidak dapat melepasnya dengan begitu saja. Karena engkau begitu berharga, bagiku.

Nah, dalam rangka menyambut hari ke seratus yang akan menjelang, lebih kurang tiga bulan lagi (insyaAllah), semoga usiaku masih menjadi bagian dari raga dan jiwa. Sehingga, sampai pada hitungannya nanti, aku dapat memberi sebuah persembahan padamu, khusus untukmu. Tentang kebersamaan kita yang masih tersisa. Dan aku ingin merekamnya dengan baik, agar kita sama-sama dalam suasana tersenyum, nanti, yaa.

Wahai sahabat…

Tidak mudah mengucap selamat tinggal, ketika kita pernah bersama.

Tidak mudah pula memalingkan wajah dengan ringannya, kalau saja kita pernah berkenalan.

Oleh karena itu, saat engkau menemuiku dan engkau pandangiku lebih awal, tolong ingatkan aku, saat aku ternyata belum menyapamu.

Begitu pula dengan aku, akan segera mendekatimu, saat aku menjumpamu di masa-masa berikutnya.

Tidak perlu ada dendam di kemudian hari, saat kita masih bersama terselip kesan yang kurang menyenangkan di dalam hati. Tidak juga mesti kita saling mengacuhkan, ketika di dalam  ingatan kembali bertengger sekelumit pesan yang belum kita sampaikan. Karena ada baiknya, kita segera mengalirkannya bersama ekspresi, segera, ya segera. Karena kalau menangguhkan, maka kita tidak tahu, bukan? Tentang kehadiran sang malaikat yang rupanya tidak dapat kita lihat, namun sesungguhnya ia ada dan senantiasa mengintai. Wahai, kelak ketika nyawa benar-benar telah lepas dari raga, semoga kita dalam suasana yang penuh kemaafan yaa. Aku pinta di dalam doa, engkau merelakan segala salah yang aku tidak sengaja, maupun yang sengaja karena khilafku sebagai hamba.

Ai! Benar-benar insaf, aku ini!

Dalam ingatan teringat aku padamu, engkau yang berbudi mulia, begitu gemar menebarkan senyuman. Sedangkan aku, dalam beberapa kesempatan saja, melakukannya. Padahal, besar keinginan di dalam diri, untuk menjadikanmu sebagai teladan dalam menjalankan kebaikan, seperti halnya menebarkan senyuman pada wajah. Namun aku, begitu mudahnya –tiba-tiba berekspresi yang membuat engkau bertanya, “What happen with you?” ketika engkau sedang berada di hadapanku pada suatu waktu.

Dan pada saat yang sama, aku segera menyadari diriku. Lalu, bergumamku, “Ya, karena beginilah adanya, aku.” Adapun kalimat yang aku sampaikan tanpa suara, aku yakin engkau tidak tahu secara langsung. Namun kalau engkau dapat mengenali dan memahamiku, maka engkau dapat melihat dari ekspresi yang aku tampilkan. Perhatikanlah sinar mataku, karena dari sana, engkau dapat membaca isi hatiku. Mungkin ia sedang pil-u, sen-du atau terh-aru. Walaupun ku ceritaimu, mungkin saja engkau belum dapat mengerti.  Hanya Allah Yang Maha Tahu.

Oleh karena itu, engkau tidak dapat menilaiku sesuai dengan yang engkau tahu. Karena bisa saja, dari balik pengetahuanmu, banyak hal lagi tentang diriku yang tersembunyi. Contohnya adalah, tentang bagaimana perasaanku terhadapmu. Engkau yang pada suatu hari, menyampaikan sebaris kalimat padaku, bahwa “Tidak selamanya kita bersama, di sini.” Dan pada hari yang ke seratus nanti, aku ingin sampaikan balik padamu, walaupun melalui tatapan mata… Dan semoga engkau ingat, bahwa aku mengingatnya, selalu.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s