Mentari, walaupun engkau hanya dapat ku lihat dari kejauhan. Dari kejauhan aku melihatmu. Namun aku masih mengagumimu. Engkau yang masih menjaga janji. Janji yang satu kali pun tidak pernah engkau ucap di hadapanku. Karena memang, kita belum pernah berhadapan. Ai! Namun janji itu telah pernah ada sebelumnya. Makanya saat ini aku tahu, bahwa janji itu ada. Dan hari ini, tepatnya di bawah terik mentari, engkau mensenyumiku bersama janjimu yang memberai. Ya, engkau pernah berjanji untuk tersenyum selalu.

Mentari, begini aku biasa menyapamu. Sapaan yang ‘mungkin’ saja belum engkau tahu, bahwa aku memperuntukkannya khusus buatmu.

Mentari, jauh engkau di sana. Jauh sekali, namun aku dapat menyaksikan senyumanmu dengan leluasa. Mentari, sekiranya saja kita dapat bersua esok hari atau nanti, maka saat ini aku pun berjanji, untuk mensenyumimu lebih awal. Kemudian mewujudkannya saat kita bersua. Ya, aku akan membawa senyuman yang aku janjikan untukmu. Sama seperti engkau yang masih menjaga janjimu untuk tersenyum.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s