Mentari itu…

Terkadang ia mampu menjadi jalan bagiku untuk mengembangkan senyuman lagi…

Terkadang ia membuatku iri padanya, ah…😀

Terkadang ia menjadi sahabat tempatku bercerita segala hal yang tidak dapat ku ucapkan dengan kata-kata, karena kami bertukar kalimat hanya lewat tatapan saja…

Terkadang ia membuatku seakan ingin ma-rah sekali padanya, karena ia berusaha menggodaku, namun pada saat yang belum tepat ‘menurutku’

Terkadang ia membuatku sungguh rindu padanya hingga meninggi dan tinggi sekali…
Terkadang ia mengajakku untuk mengitari kehidupan dalam kebersamaan yang tiada bertepi, hingga aku larut dalam waktu yang sedang kami habiskan bersama…

Terkadang, ia memang membuatku cemburu padanya, ai! Aku cemburu saat mentari terus tersenyum dalam beraneka suasana, sedangkan aku?

Terkadang aku tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata, betapa aku sangat mengaguminya, dan saat ini pun begitu.

***

Dalam sebuah kesempatan, sore ketika itu. Di ujung aktivitas hari itu, aku sempatkan waktu melirik ke luar jendela yang sedang membuka. Karena sekilas aku menyaksikan sinar yang menyelinap ke ruang tempat aku berada ketika itu. Waktu itu, adalah kemarin. Kemarin, dalam waktu yang telah berlalu. Aku terpesona dengan senyumannya yang aku ‘pikir’ ia peruntukkan padaku, specially. Benarkah? Mentari?

Sinarnya yang kuat menerpa alam, membuatku tertarik untuk memberikan perhatian penuh padanya. Karena dalam yakinku, ia pun bersinar untukku. Dan aku pun tidak mengingat apa-apa lagi saat itu. Selain menghayati sepenuhnya sinar mentari. Sinar yang perlahan-lahan menerpa mataku, pula. Sehingga silau itu membuatku tidak dapa melihat lagi dengan jelas, setelahnya. Aku melihat dalam kegelapan, dengan gelap yang menghalangi arah tatapku. Padahal ketika itu, aku perlu melanjutkan langkah-langkah lagi.

Mentari, sinarnya cukup benderang. Ketika tiada awan yang menyelimuti dirinya, tentu saja. Dan aku berharap, dalam hari-hari yang berikutnya, mentari tetap bersinar dengan baik, seperti waktu itu. Dalam waktu yang tidak mungkin lagi sama dengan saat ini. Walaupun demikian, harapku pada mentari, ia mampu menyikapi keadaan dengan baik, meskipun dalam hari-hari yang akan datang, terkadang awan mencandainya. Lalu menghalangi sampainya sinar mentari padaku. Semoga, mentari terus tersenyum,… walau bagaimanapun keadaan di sekelilingnya. Karena aku yakin, mentari penuh dengan senyuman, senyuman penuh.

Lihatlah! Mentari pun tersenyum, pagi ini. Tepat ketika aku mulai membuka jendela lagi, di sini. Ia tersenyum dari arah timur. Berbeda dengan kemarin, ketika ku melihat mentari tersenyum dari tepi barat. Pagi ini, mentari tersenyum cerah sekali dan aku suka. Sehingga aku pun menjadi terbawa suasana. Aku memang demikian adanya. Sungguh bahagia dapat mengenalnya, walaupun hanya dapat menatap dari kejauhan saja. Namun aku yakin, kami akan selalu bersama, selamanya.

Wahai mentari, engkau yang gemar tersenyum, ajari aku untuk meneladanimu dan menjadikanmu sebagai teladan. Semoga, engkau terjaga selalu dalam menyampaikan baktimu pada seluruh alam. Demi mewujudkan misimu dalam menebarkan kebaikan. Tersenyumlah, mentari… karena engkau benar-benar baik dan kebaikanmu sampai padaku.

Yakinlah, engkau berarti.

Dari jendela ini docomo_ne_jp.4B0softbank_ne_jp.4B0 aku menyaksikan senyumanmu, mentari…

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s