Aku, Engkau dan Mentari
Aku, Engkau dan Mentari; Model diperankan oleh Tya

The Last Word?

Begini judul catatan ini.  Itu artinya, kata terakhir? Entahlah…😀

Aaa… yang benar saja..?!  ^^

Semalam, aku bermimpi. Mimpi yang membuatku ingin melanjutkannya lagi. Karena hingga saat ini, aku tidak dapat mengingatnya dengan baik. Dan aku ingin menjemputnya, membersamainya, kemudian lelap di sisinya. Mimpi yang membuatku ingin terus tidur dan lebih lama lagi. Hingga aku tidak mengenal lagi, sedang berada di manakah saat ini?

Ada banyak cara untuk melanjutkan mimpi. Ada pula banyak sarana yang dapat kita gunakan untuk menitipkan mimpi demi mimpi. Namun saat mimpi-mimpi kita yang banyak sudah tiada lagi dalam ingatan, apakah kita masih bersedia untuk meluangkan beberapa jenak waktu untuk membersamainya? Mimpi yang tidak terlihat, mimpi yang tiada.

Lalu tentang sarana? Apakah kita telah berjumpa dengan sarana yang dapat menyampaikan kita pada mimpi-mimpi yang berujung kenyataan? Atau kita masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk menemukannya?

Pada waktu dulu, dulu sekali, aku pernah bermimpi. Sebelum mimpi semalam hadir, tentunya. Mimpi tentang apakah itu? Engkau menanya. Mimpi untuk bersua dan bersapa denganmu, teman. Engkau yang entah berada di dunia mana? Sedang bersama dengan siapa? Dan yang pasti, aku tidak mengetahui apapun tentang engkau. Kecuali hanya sebaris ingatan yang mempertemukan kita. Dan waktu dulu itu, aku masih belia. Aku bermimpi dapat menyapamu, seperti saat ini. Dan hari ini, mimpi telah menjadi kenyataan.

Berbeda dengan mimpi lalu-ku, mimpi semalam seakan sangat mengusik. Mimpi yang membuatku tidak mau terbangun, harusnya. Mimpi yang menarikku untuk berlama-lama dengannya. Namun kini, ia sudah tiada. Mimpiku oh, engkau ada di mana?

Aku bertanya, aku menanya. Berulangkali tanya mengalir dari bibirku. Berulangkali pula tanya itu mengajakku untuk melangkah. Hayu, melangkah lagi, bergerak dan meneruskan perjuangan, begini ia membisikiku. Tanya, bersama tanya, kita akan terus berjuang, bukan?

Ada tanya yang segera terjawab, bahkan sesaat setelah kita menanya. Namun ada pula tanya yang baru terjawab, beberapa waktu kemudian. Dan hingga saat ini, apakah engkau bersama dengan tanya yang masih belum terjawab, teman? Tanya yang membuatmu seakan bermimpi bersamanya. Tanya yang engkau ajukan lagi, setelah engkau mengajukannya. Tanya yang sepertinya, tiada, namun sesunguhnya ia ada. Sama seperti mimpi.

Ohiyaa… di sela-sela waktu merangkai catatan hari ini, aku melihat sebait dua bait kalimat pada jendela lain di ujung sana. Dan aku tertarik untuk menitipkannya pada akhir catatan ini. Begini.

***

Tampaknya, kamu semakin baik saja setelah tak bersamaku lagi.
Itu memang lebih baik bukan?!.
tapi,
rasa ku ini belum cukup lega,.
ingin aku berbincang denganmu, dibawah indahnya sinar sang mentari pagi,
dimusim panas ini.
kita tak akan mencari siapa yang salah.
dan itu, tidak akan kita temukan disepanjang perbincangan kita.
kita hanya berbicara (satu hal) saja. “aku, engkau, dan mentari.”
bagaimana,,,???

Aku tak memerlukan jawaban mu sekarang,
ku tunggu kau di tempat biasa kita bertemu.
beberapa waktu berikutnya,

_____ By Codai

Oke, terima kasih ya atas kesempatan. Sampai berjumpa kembali pada waktu berikutnya.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s