Terima kasih teman, atas segala ekspresi yang engkau ukir di wajahmu ketika berada di hadapanku, dalam hari-hari ketika kita bersama. Dan semua itu mengajarkanku untuk melakukan hal yang sama terhadapmu, kalau aku suka. Namun, ketika aku tidak menyukainya, semoga menjadi jalan pembelajaran juga bagiku khususnya, agar aku tidak melakukan hal yang sama terhadapmu. Karena kita adalah saudara yang sehati, bukan?

Terima kasih teman, telah menyempatkan beberapa dari waktu berhargamu, untuk membersamaiku dalam detik-detik paling berkesan kehidupanku. Sehingga aku mencatat namamu sebagai bagian yang turut mewarnai jalan-jalan yang sedang ku tempuh.

Terima kasih teman, engkau telah menjadi bagian dari cerita-cerita hidupku. Baik suka ataupun sebaliknya. Karena cerita kehidupan memang begitu, bukan? Ada waktunya kita tersenyum karena bahagia atau tersenyum kecut penuh kekecewaan. Ada waktunya kita tertawa gembira saat hati kita lega dan plong adanya. Ada pula masanya, tetesan bulir bening permata kehidupan menghiasi pipi-pipi ini. Ihh.h.hh.. aku paling tidak suka kalau melihat wajah yang sedang bersedih. Sehingga aku berupaya untuk membuat sesiapa saja yang berada dekat denganku, tersenyum. Namun, bagaimana pula dengan beliau di sana, yaa… ketika menyaksikan wajahku pada suatu waktu bermendung kelabu hingga hujan membasahi lembaran pipi? Aha?? 😀 Aku pun dapat membayangkan tentang isi pikiran beliau ketika itu. Mungkin saja sama dengan yang aku pikirkan dalam kondisi yang sama? Iya, aku yakin. 😆

Terima kasih teman, engkau menjadi keluarga kedua yang menghiburku saat keluarga pertama ku jauh di mata. Engkau keluarga kedua yang mengucapkan “Selamat yaa…” saat ucapan selamat dari keluarga hanya dapat aku terima melalui nada suara dari seberang sana. Engkau adalah keluarga kedua yang hari-hariku akhirnya penuh dengan wajah-wajah lucumu. Saat aku hanya dapat membayangkan senyuman indah ayah dan bunda serta kakak-kakak dan adikku. Engkau adalah keluarga yang tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Kecuali karena beberapa sebab, yang membuat aku tidak lagi dapat mengingat. Dan semoga pada saat itu, engkau kembali datang untuk mengingatkan aku.  Dan aku menerima uluran kebaikanmu. Oleh karena itu, pagi ini di sela-sela waktu berpagi, aku sempatkan waktu untuk mensenyumimu, walaupun dari selembar potret.

One Night
Teh Bella, Teh Inay, Teh Cacha, Teh Feni, Ilham and Me

Terima kasih teman, atas segalanya. Aku belajar banyak darimu. Aku banyak belajar bersamamu. Dan banyak lagi hal-hal yang perlu aku pelajari, saat kita tidak sedang bersama. Termasuk saat ini. Ya, engkau yang sedang tersenyum, seakan mensenyumiku dan menaburkan bunga-bunga senyuman pada wajahku. Sehingga aku pun tersenyum.

Terima kasih teman, yang bagiku engkau adalah mentari-mentari kecil. Namun kehangatan dan kekeluargaan di antara kita menjadikan mentari-mentari kecil itu tiada lagi. Namun berubah menjadi mentari yang bersinar di hatiku. Engkau satu dan bersatu denganku. Selamanya, ya, selamanya. So, keep smile yaach, secerah sinar mentari pagi ini yang mensenyumiku saat merangkai barisan kalimat di sini.

Terima kasih teman-temanku yang baik. Aku akan ada untuk kalian semua. Walaupun dalam bait-bait doa di pagi buta. Aku ada untuk kalian semua, dalam pertautan senja dengan malam. Aku ada untuk kalian semua, tepat saat mentari mulai menunjukkan sinar terbaiknya setiap pagi. Aku ada untuk kalian semua, ketika mentari mulai meninggi hingga ia tenggelam. Aku ada… aku ada… bersamamu saat engkau mengingatku. Aku ada di sini, bersamamu.

Hari ini, aku merangkai selembar draft “Letter of Resignation” dan sudah jadi. Entah mengapa, aku pengen saja membuatnya. Dan aku yakin akan aku gunakan dalam waktu dekat. Semoga saja.

“Uni, beneran akan resign?,” begini bunyi sebaris kalimat yang aku dengarkan dari salah seorang colega-ku pada suatu pagi.

Aku berpikir sejenak, seraya memandang wajah beliau. Wajah yang membuatku segera tenggelam dalam ekspresi. Aku terharu dan hampir saja airmata menetes di pipiku. Namun engga jadi.  Karena air mata itu masih bersedia berada di dalam bendungannya. Kemudian aku mengangguk pelan. Dan aku bilang, “Yn ikut jalan hidup, Teh…”

Terima kasih teman, telah menjadi bagian dari cerita hidupku, hari ini. Sehingga ingatan terhadapmu menjadi jalan aku untuk merangkai catatan lagi. Xixixii… ^^. Bukan curahan hati lagi, namun ia telah menjadi belahan hati-ku. Sehingga ketika engkau mampir di mari, anggaplah engkau sedang bercakap-cakap denganku dari hati ke hati.  Karena dengan sepenuh hati, aku menceritaimu. Termasuk tentang sebuah solusi. Solusi untuk melanjutkan perjuangan lagi, setelah kita berada di sini.

Terima kasih teman, untuk konsisten dengan jalan yang telah engkau pilih. Sebegitu pula halnya dengan diriku ini. Aku yang telah memilih jalan ini dan aku ingin menelusurinya bersama istiqamah. Yaitu, merangkai prasasti dalam kehidupan.

Terima kasih teman, telah menjadi jalan hadirnya inspirasi. Telah mendukungku dengan caramu. Telah memberikan beberapa baris kalimat teruntukku, yakinku. Walaupun sebenarnya, engkau sedang mengeluarkan dan mengabadikan ingatanmu saja. Namun karena pada waktu engkau memberainya, aku ternyata sedang membutuhkan, maka aku pun menyelipkannya dalam catatanku pula. Agar aku kembali ingat, padanya. Agar aku segera membacanya lagi, saat aku terlupa.

Terima kasih teman, siapapun engkau, di manapun berada, dan berada dalam ingatanku saat ini. Tidak dapat seluruhnya ku tulis nama. Namun yakinlah bahwa engkau dan namamu terpatri jelas di dalam ruang hatiku. Ya, aku telah membuatkan pigura untuknya. Ia abadi. Ia nyaman di sini. Untuk jangka waktu yang tidak pasti. Semoga hingga aku tiada lagi, nanti. Dan kita dapat bereuni dalam sapa di hari akhir nanti, untuk mengingatkan lagi. Bahwa kita pernah bersama di dunia ini. Dunia yang tidak abadi.

Terima kasih teman, bersamamu aku akan melanjutkan langkah-langkah lagi. Walaupun untuk selanjutnya kita akan bersama, hanya dalam ingatan. Tidak mengapa. Karena jalan hidup kita mungkin tidak selamanya sama. Ada waktunya kita bersua, bersama, dan akan berpisah pula untuk sementara. Kalau saja di depan sana, kita bertemu dengan persimpangan yang memaksa kita untuk berjarak raga.

Terima kasih teman, telah menjadi figur-figur terbaik dalam skenario kehidupan yang sedang aku jalani sebagai pemeran utama. Terima kasih ini, ada karena kita pernah bersama.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s