Alhamdulillah, satu episode kehidupan kembali aku jalani. Dan episode tersebut berlangsung kemarin siang.  Episode yang menjadi satu simbol bahwa aku telah berhasil menyelesaikan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Pada saat itu, tahukah engkau teman? Apakah yang sedang menari-nari dalam ruang pikirku dan melayang-layang di dalam ingatanku? Siapakah yang sedang aku inginkan kehadiran beliau? Tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Ibu. Ibunda. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya beliau tidak dapat menyaksikan senyuman yang spesial aku persembahkan buat beliau. Namun demikian, aku ingin merangkai sekuntum dua kuntum bunga kata bersama senyuman buat beliau, seorang perempuan yang menjadi jalan hadirnya aku di dunia ini. Hingga aku dapat menjalani kehidupan sampai menjadi seperti ini dan saat ini. Aku merangkai sekuntum bunga senyuman buat seorang Ibu khususnya dan umumnya buat seluruh perempuan di dunia ini. Perempuan yang berjasa, beliau yang berhati mulia bagaikan bidadari.

Bundaku sayang…
Tidak banyak kata yang dapat terucap, untuk mengungkapkan kebahagiaan yang menyelimuti ruang hati, kecuali terima kasih.
Bundaku sayang…
Tidak satu kedipan mata yang dapat ku gerakkan, kecuali di sana ada ingatan terhadap engkau yang berjasa. Karena bersama doa-doamu wahai Ibunda, kami dapat mencapai cita dan merengkuh harapan, satu per satu.
Bundaku sayang…
Belai kasih dan sentuhan sayangmu, membawaku pada hamparan hijau rerumputan kehidupan, dan aku seakan berada di bawah sebatang pohon yang rindang, saat sedang melangkah di dalam perjalanan.
Bundaku sayang…
Banyak pesan yang engkau sampaikan, semua teringat dan terulang lagi, saat engkau kini jauh di mata. “Baik-baik berteman, ya Nak…”
Bundaku sayang…
Kini, satu persatu tanya pun terjawab sudah. Tanya yang aku ajukan pada derai tetes hujan yang turun saat ku sedang melangkah. Apakah memang mentari akan kembali mengeringkan jalanan setelah tanah membasah? Ternyata benar. Apakah rimbun dedaunan akan kembali menghiasi pohon yang semula meranggas? Ternyata ia. Dan Ibunda pun pernah berpesan, bahwa roda kehidupan terus berputar. Yakin dan percayalah…
Bundaku sayang…
Saat Ibunda tiada di hadapan, namun senyuman yang Ibunda ajarkan dan teladankan datang menemui diri ini, lalu aku pun tersenyum. Tersenyum karena ingatan terhadap Ibunda yang berlebih saat kita tidak sedang bersama.
Bundaku sayang…
Terima kasih untuk seluruh pengorbanan yang Ibunda berikan, pemberian yang Ibunda ikhlaskan, keikhlasan yang Ibunda selipkan pada barisan doa setiap waktu.
Bundaku sayang…
Kelak aku mengerti, ketika aku pun menjadi seperti Ibunda, menjadi seorang Ibu. Betapa bahagianya saat menyaksikan, selembar senyuman dari buah hati tersayang, sebagai persembahan terima kasihnya. Karena ia bahagia mempunyai Bunda yang menjadi jalan tersenyumnya.

This slideshow requires JavaScript.

Lalu bagaimana dengan Ayahanda?

“Rajin belajar ya, Nak. Belajar yang benar,” begini beliau menasihatiku. Dan inilah jawaban dariku. Sebagai bukti bahwa aku menjalankan nasihat beliau dengan baik.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s