Aku. Catatan ini tentang aku. Aku pada suatu hari.

Di bawah teriknya sinar mentari yang mulai meninggi, pukul sepuluh siang ketika itu. Aku sedang melangkah di jalanan sekitar Pusdai – Jabar. Bersama dua orang sahabat lainnya, Titih dan Fitri, aku mengayunkan kaki satu persatu dengan sepenuh hati. Begitu pula dengan tangan-tangan ini yang melenggang dengan ringannya. Ada kelegaan yang ingin ia lepaskan pada waktu yang sama, seiring dengan barisan senyuman yang mengembang dari wajah ini. Aku tersenyum pada dedaunan yang melambai-lambaikan lembarnya kepada kami.

Aku, tidak sedang sendiri, namun bersama beberapa orang teman, yang ku namai dengan sahabat sejati. Sahabat sejati yang kehadirannya tidak saja ketika kita sedang berbahagia, namun dalam kondisi tidak bahagiapun, sahabat ada. Begitulah sahabat di dalam hatiku, bersemayam sampai saat ini. Hingga aku, pada suatu hari nanti ingin menyaksikan sahabat benar-benar mencapai cita dan harapannya, sebagaimana aku yang bercita pula. Karena masing-masing kami, mempunyai cita yang tidak sama. Dan kami kuddu menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi dari hari ini. Aku ingin sukses, begitu pula dengan sahabat sejati.

Aku ingin berkeliling dunia, sedangkan sahabat yang lainnya ingin menjadi pengusaha dan menjadi abdi negara. YhhHaa.. bersama kami meng-aamiinkan rencana yang kami susun bersama-sama. Tentu saja di antara derap langkah yang terus kami ayunkan. Agar kami dapat sampai lebih cepat di tujuan. Masjid Pusdai, tujuan kami.

Aku, sangat jarang melakukan perjalanan santai bersama teman-teman, selama ini. Karena lebih seringnya, aku senang berjalan-jalan sendiri seraya menikmati alam yang rupawan. Namun pada suatu hari, aku tidak ingin berjalan sendiri lagi. Aku ingin seperti hari ini, lagi. Bersama beliau-beliau sahabat sejati yang ada di sisi, aku ingin melanjutkan langkah-langkah lagi. Sehingga kami dapat mengabadikan potret diri dengan beraneka ekspresi. Salah satunya adalah seperti berikut ini. Dan aku suka.

Ketika menyadari, bahwa aku pernah bersama-sama dengan sahabat dalam waktu-waktu luang kami, pada suatu hari.

Hampir seharian, hari ini, kami bersama. Semenjak pagi hingga tengah hari menjelang, kami pun masih bersama. Nah, ketika sore pun tiba, kami pun berpisah sejenak. Agar kami dapat meneruskan perjuangan kami lagi. Perjuangan yang telah kami rancang pada hari ini, dan kami ingin menjadikannya bukti dalam hari-hari kami yang berikutnya. Aku ingin berjalan-jalan lagi. Hingga sampai di sini dan kita pun berjumpa. Dan dalam harap, terhadap sahabat yang membersamaiku di dalam perjalanan pada suatu hari yang telah berlalu, dapat kembali aku jumpai di sini, hari ini, dan kami pun bersama dalam hari-hari kami yang berikutnya, (lagi). Agar kami dapat meneruskan ekspresi yang kami pernah kreasikan pada suatu hari. Hingga kami dapat menjadikannya sebagai salah satu prasasti tentang persahabatan dalam perjalanan.

Aku, pada suatu hari nanti, ingin berjumpa lagi dengan beliau yang pernah menjadi sahabatku hari ini.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s