Kini teringatku pada seorang sahabat, yang terlena ia pada rutinitasnya. Hingga ia terlupa mendirikan shalat, ataukah ia memang menyengaja?

Wahai sahabat, yang aku sangat cinta.

Betapa tinggi keraguanku padamu, engkau yang dengan mudahnya meninggalkan shalat. Padahal engkau tidak mengetahui, kapan terakhir kalinya kesempatanmu untuk bertaubat, datang.

Wahai sahabat, yang aku sayangi.

Betapa aku ingin bersama-sama denganmu, ketika kita berkumpul nanti di negeri akhirat. Namun kini, saat ku melihat perilakumu, engkau sungguh sangat jauh dari yang semestinya. Engkau meninggalkan shalat, dengan mudahnya. Bahkan mengakhirkan dengan tenangnya. Sedangkan engkau tidak terlalu banyak kesibukan yang berarti

Wahai sahabat, yang aku peduli padamu.

Hayuuu… saat adzan berkumandang, kita segera membasuh wajah ini dengan tetesan wudu. Kita mencuci tangan ini dengan kesejukannya. Agar, hati kita senantiasa dalam ketenangan. InsyaAllah.

Wahai sahabat, engkaulah penolong dirimu…

Apabila engkau ingin kita kembali bersama, kelak.

Dariku, sahabatmu; — yuuks kita shalat.//

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s